Sarasvati : Mirror


Widih, udah lama banget ngga posting di blog. Enam bulan! Rekor, rekor. Semester 7 beneran bikin hobi ngetik cerita tidak tersalurkan gara-gara kebanyakan ngetik laporan.😀

Hampir dua setengah taun lalu, waktu Pasar Seni ITB, saya sebenernya udah pernah liat nama Sarasvati. Ada satu wahana, saya lupa namanya, yang di stage nya perform Teh Risa Saraswati. Karena terlalu penuh dan susah banget masuk, saya ngga jadi masuk, dan rasa penasaran saya terhadap konsep musik baru mantan vokalis Homogenic ini nggak terpuaskan.

Baru sekitar enam bulan lalu, saya download salahsatu lagunya Teh Risa, judulnya Bilur. Saya kepikiran buat denger lagu ini karena cerita temen tentang kisah di balik lagu tersebut. Hal pertama yang saya pikirin waktu denger lagu ini adalah : Serem! Mana waktu itu malem-malem dan lagi gerimis. Bikin merinding! Jadilah saya nggak mau lagi denger lagu-lagu Sarasvati.

Eh tapi ternyata seremnya lagu Bilur bikin saya penasaran sama Sarasvati. Saya mulai dengerin lagu-lagu yang lain di album EP-nya yang berjudul Story of Peter. Setelah ‘membiasakan diri’ denger nuansa gloomy dan agak galau, akhirnya telinga saya dapat beradaptasi dan malah jadi suka sama lagu-lagunya. Teh Risa bisa banget bawa pengalaman-pengalaman mistisnya menjadi lagu yang membius, catchy, dan gak ngebosenin, kayak lagu Oh I Never Know, dimana Teh Risa berduet sama Tulus. Ada juga lagu Perjalanan yang ceritanya mirip sama pengalaman saya, hhaha..

Sempet nyesel juga ngga nonton Nishkala Sarasvati. Tapi itu agak terobati setelah saya beli album keduanya dan sekalian buku kedua Teh Risa berjudul Maddah. Album ini cukup unik. Covernya dibikin kayak amplop surat berwarna abu-abu, lengkap dengan perangko jadul. Kesan kucel juga ditunjukkan oleh amplop ini, kayak yang udah lama banget diabaikan.

IMG_20130112_191244

Di dalamnya, ada tujuh lembar kertas dan satu buah cd. Yang pertama adalah foto para personil Sarasvati, sama kayak poster konser Nishkala Sarasvati. Kertas kedua merupakan sebuah postcard dengan gambar sesosok wanita (udah pasti hantu ini mah, semacam kuntilanak) berjubah putih yang lagi membelakangi cermin, tapi anehnya, wajahnya masih keliatan di cermin. Sisanya, merupakan kertas berisi lirik-lirik lagu.

IMG_20130112_194110

Ada sepuluh lagu di album Teh Risa yang kedua ini, yaitu Maddah, Haunted Sleep, Ivanna, Solitude, Danur (ft. Arina Ephipania), Gloomy Sunday (ft. Trah Project), Aku dan Buih, Graveyard, Mirror (ft. Cholil Mahmud), dan Death Can Tell A Lie.

Lagu favorit saya di album ini adalah Graveyard dan Death Can Tell A Lie. Waktu pertama kali membaca liriknya, saya pikir lagu Graveyard adalah lagu yang akan bernuansa menyeramkan, karena selain judulnya yang berarti kuburan, liriknya yang berbahasa inggris juga menceritakan makhluk-makhluk yang nongkrong di sana. Tapi ternyata setelah didengarkan, lagunya  sangat ceria dan easy listening. Suara anak-anak yang sedang bermain dan ketawa ketiwi menambah kesan menyenangkan.

Graveyard

We are the children from grave but some get over that
Count our blessing
Better than that buy a hat, buy a coat, or pet
Take up dancing

We shall not sing a sad song we could sing happy song
When the darkness comes down
We’ve seen better in the dark, we don’t need a light
All we need is here…

We’re ghost forms of fright
We have driven sleep from eyes away

The giant trees are bending
The storm fast decending
We don’t care just keep singing

Sleep sleep you are all sleep
Little sorrow sit and weep

Secret joys and secret smiles
Little pretty infant wiles

From your cheek and from your eyes
You’re the youthful harvest night
When your little heart awake
Then the dreadful lightning breaks

Kalau lagu Death Can Tell A Lie bener-bener kebalikan dari lagu Graveyard. Ini sih bener-bener lagu kematian, hhaha. Penciptanya adalah vokalis band Olive Tree, Kiki Chan, yang juga ikut nyumbang suara piano di lagu ini. Di akhir lagu kita bisa mendengarkan suara tangisan perempuan. Sedih lah pokoknya…

Death Can Tell A Lie

One lightning flash
far from this place
Under our bare
And bleeding feet its over… its closer

A damn soul, the pale of glow

Playing a scene
Down to your feet
Along your tight
And bright as eyes its over… its closer

The misty gloom, behind the holes

Bright as eyes its over… its closer
That even Death can tell a lie.

Well, semoga Teh Risa dkk bisa terus berkarya dan menghasilkan karya-karya yang lebih keren lagi.😀

Edelweis


Sebelum lanjut ke catper episode selanjtutnya, bolehlah saya ber-romantis dulu sikit.. Puisi ini saya persembahkan buat #anakbiologiugm yang udah minjemin jaket NorthFace birunya buat saya..🙂

 

Edelweis

biar angin ini menerpa menderu
karena di sana, puncak sudah menunggu
aku tidak peduli berapa kerikil yang sudah kuinjak lalu
dan edelweis yang ingin kupetik untukmu
juga danau yang melaut membiru
karena disana, di puncak tempat Dewi Anjani merajut pilu,
aku ingin menyatakan cinta untukmu..

Edelweis

[ Catper Rinjani – 4 ] Puncak Rinjani, Here We Come!


Plawangan Sembalun berada di ketinggian 2.700-an mdpl, sedangkan ketinggian Puncak Rinjani adalah 3.726 mdpl. Baru saya ketahui di akhir perjalanan bahwa dari Plawangan Sembalun ke Puncak Rinjani itu berjarak 2,5 km. Terasa dekat bukan? Tapi, kawan, kalau ketinggian yang dilewati adalah 1 kilometer, perjalanan tersebut dapat memakan waktu hampir lima jam, seperti yang kami alami.

Saya menjadi orang yang pertama bangun. Jam di alarm sudah saya set di angka 00.01. Saya lalu membangunkan anggota tim yang lain. Sebenarnya, sebelum pergi tidur tadi, kami sudah membereskan semua keperluan dan membagi-baginya di dalam tas-tas kecil. Kami membawa berbagai minuman, kamera plus tripodnya, makanan ringan, obat-obatan, bahkan sampai kompor beserta gasnya. Kami berharap bisa masak air di puncak sana. Harapan yang sebenarnya sia-sia.

Angin berhembus kencang waktu saya keluar tenda. Buru-buru saya masuk lagi untuk menambah beberapa lapis pakaian. Hasil akhirnya, saya memakai empat lapis atasan (kaos, sweater, jaket biasa, sama jaket anti-angin), tiga lapis celana (celana pendek, celana pdl, sama celana training), dua lapis sarung tangan, dua lapis kaos kaki, dan sebuah kupluk. Lengkap. Tidak lupa saya membawa tongkat kayu hasil nemu kemarin siang. Setelah mengunci tenda dan memasukkan semua bahan makanan ke bagian terdalam tenda, kami berdoa dan melakukan briefing singkat. Karena kami sering masuk keluar tenda lagi untuk menambah jumlah lapisan pakaian, kami jadi keduluan tim geologi untuk berangkat.

Malam itu begitu cerah. Karena tidak ada lampu-lampu yang membiaskan (ciealah bahasanya) cahaya bintang, saya dapat melihat hamparan alam semesta yang sangat indah. Baru beberapa kali saya dapat melihat pemandangan langit malam yang benar-benar menakjubkan seperti ini. Kalau nggak cepet-cepet diajak naik, mungkin mulut saya mangap terus saking kagumnya.

Lima menit kemudian, tepat pukul  kami mulai melangkahkan kaki menuju puncak. Tidak jauh dari perkemahan, trek pertama yang harus ditaklukan adalah kumpulan batu-batu besar yang hampir vertikal. Besi pegangan yang disediakan kurang membantu karena sudah keropos. Kami  harus mendaki terus karena bagian pertama pendakian ini adalah mendaki sampai ke punggungan gunung yang lebih atas lagi. Dari sana, kami berjalan ke selatan menuju puncak.

Pendakian awal ini cukup menyiksa. Jalanannya berpasir sehingga membuat saya yang memakai sepatu bersol tipis harus jatuh bangun. Dua puluh menit mendaki, Tim Geologi memberi kami jalan untuk mendahului mereka. Jadilah kami menjadi tim yang terdepan menuju puncak. Hal tersebut membuat kami semakin bersemangat.

Sepertinya, jalan setapak yang kami lalui dulunya adalah jalur aliran air dari puncak ke bawah. Jalan ini memang seperti sungai kecil yang kering, miniatur Pos Pada Balong, tempat kami menginap di malam pertama. Di kiri dan kanannya banyak batu-batu besar dan berbagai vegetasi yang saya tidak tahu namanya. Pepohonan sangat beragam, mulai dari pohon-pohon yang cukup besar, sampai semak belukar dan edelweiss.

Kami sampai di punggungan gunung setelah mendaki lebih dari satu jam. Saat melihat ke bawah, sudah mulai terlihat kelap-kelip lampu headlamp tim-tim yang lain. Kami beristirahat sejenak di jalan keluar dari tahap pendakian pertama. Sebotol minuman jeruk kami habiskan dalam sekali minum. Mulut memang terasa sangat pahit karena banyak kemasukan pasir saat berjalan tadi.

Karena tidak mau tersusul, kami cepat-cepat melanjutkan perjalanan. Sudah jarangnya vegetasi dan batu-batu besar membuat angin tidak ada lagi yang menahan. Untung saja saya memakai pakaian berlapis-lapis. Jika tidak, mungkin saya udah membeku. Dingin banget! Angin yang dateng dari puncak juga rasanya tuh menyuruh kami untuk segera turun.

Perjalanan tahap kedua ini walaupun tidak terlalu curam, tetapi sama menyikasanya. Di kejauhan, siluet Puncak Rinjani sudah terlihat, tapi kerasanya nggak deket-deket. Satu jam setengah kami berjalan, rasanya pemandangan puncak tersebut tetap sama dengan yang kami lihat waktu pertama keluar dari tanjakan. Jalur yang kami lalui juga semakin lama semakin berbahaya dan menyempit. Di sebelah kiri jurang yang cukup landai, dan di kanan juga jurang yang langsung menuju ke Gunung Barujari di tengah Danau Segara Anak. Kalau hilang konsentrasi, maka goodbye!

Jalan ke puncak semakin curam. Di belakang kami, barisan headlamp semakin mendekat. Tim-tim lain tampaknya sudah siap menyusul kami. Walaupun ini bukan kompetisi balap, tapi tetap saja saya ingin menjadi orang pertama yang mencapai puncak hari itu. Tapi apa daya, karena kecepatan pendakian kami yang semakin lama semakin lambat, juga karena tenaga yang semakin berkurang, kami harus rela disusul oleh tim-tim yang lain.

Jam 5 tepat, kami akhirnya sampai di jalur terakhir menuju Puncak Rinjani. Jalur ini adalah jalan setapak yang kami lihat di kejauhan waktu mendaki Bukit Penyesalan. Ternyata kenyataan sungguh berbeda dengan apa yang ada di foto itu. Jika jalur yang terlihat di foto cukup pendek, ternyata jalan setapak ini cukup jauh sangat curam. Sebelum melanjutkan, kami beristirahat dan sholat subuh dulu di belakang sebuah batu.

Pasir yang menutupi jalan membuat langkah juga semakin tersendat, padahal saya sudah memakai tongkat. Saya pernah membaca di sebuah catper lain bahwa trek menuju ke Puncak Rinjani membuat kita melangkah tiga langkah, tetapi turun lagi dua langkah. Hal itu saya alami juga.

“Jalannya santai aja, yang penting nyampe,” kata Jody waktu itu. “Itung aja langkahnya, setiap 30 langkah, berhenti dulu buat istirahat sama adaptasi ketinggian.”

Angin berhembus semakin kencang. Jaket-jaket dan syal yang saya pakai rasanya sudah mencapai batas maksimalnya. Dingin mulai menusuk. Untuk mencegah kantuk dan hilang konsentrasi, saya memaksakan diri berjalan. Saya berada di belakang Jody, sementara tiga anggota tim yang lain agak jauh di belakang. Tangan kanan saya yang memegang tongkat rasanya sudah beku. Tangan kiri masih lumayan, karena sejak awal saya masukkan ke dalam saku jaket. Yang membuat tidak nyaman adalah sepatu kets saya banyak kemasukkan pasir.

Sementara di timur, saya sudah melihat sudah ada berkas-berkas cahaya jingga. Kami beradu cepat dengan waktu.

Jalur terakhir itu diakhiri dengan batu-batu besar yang cukup menghalangi angin. Dari situ, kami tinggal mendaki sedikit lagi, melewati jalan sempit berpasir yang di sebelah kanannya langsung jurang. Saya dan Jody beristirahat sejenak, lalu beranjak lagi. “Ayo, puncak sudah dekat!” teriak saya untuk menyemangati yang lain. “Dicicil aja jalannya,” kata Jody melanjutkan.

“SUMMIT!!!” teriak saya. Alhamdulillah, akhirnya saya sampai di Puncak Rinjani. Mengikuti Jody, saya langsung sujud syukur. Kami sampai di Puncak Rinjani tepat saat sunrise di ufuk timur. Saya benar-benar tidak menyangka dapat mencapai puncak dengan tepat waktu. Pemandangan dari atas benar-benar sempurna. Pagi yang belum dewasa itu sangat menakjubkan. Kata-kata syukur tidak berhenti keluar dari bibir saya yang terus tersenyum. Saya juga melihat kegembiraan di wajah semua pendaki lain. “Nggak nyangka bisa nyampe sini,” kata seorang mbak-mbak yang sejak di tanjakan terakhir bareng mendaki bersama saya dan Jody.

Sunrise di Puncak Rinjani, 3.726 mdpl

Alhamdulillah, My First Summit, Rinjani, 3.726 mdpl

Mbak-mbak yang berjalan bersama kami dari awal tanjakan terakhir ternyata berasal dari Jakarta. Saya lupa menanyakan namanya. Dia kemudian mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya. Ternyata iPad! Dia kemudian menulis sesuatu di layarnya. “Mom, I Made It to Rinjani,” tulisnya. Luar biasa. Saya jadi teringat kalau saya juga membawa kertas dan pulpen di tas saya. Saya juga menulis pesan di kertas itu untuk Neng Desni. Tapi sayang, waktu difoto, tulisannya tidak kelihatan. Jadilah saya meminjam iPad si mbak Jakarta tersebut. Karena susah dan dingin banget untuk mengganti tulisan, saya akhirnya memakai tulisannya.

Mom, I Made It to Rinjani

Angin di Puncak Rinjani terlalu kencang. Meskipun matahari sudah beranjak naik, udara tetap dingin banget. Kami cuma bertahan setengah jam di puncak, lalu turun lagi ke batu besar dan membuka makanan kecil yang kami bawa. Karena di atas terlalu ramai, kami juga tidak sempat berfoto berlima. Tripod dan kompor yang kami bawa ternyata sia-sia. Akhirnya kami berlima berfoto di balik batu besar, meminta bantuan ke teman-teman geologi yang baru sampai di puncak.

Menaklukan Puncak Rinjani

Karena angin terasa semakin besar, kami cepat-cepat turun. Perjalanan kembali ke Plawangan Sembalun tidak sesulit saat naik ke puncak. Kami tinggal berkelakuan layaknya seorang pemain ski atau snowboarder, dan pasir yang sangat licin dapat membuat kami turun dengan mudah. Sepatu yang kemasukan pasir kembali menjadi masalah buat kaki saya. Rasanya sakit banget waktu melangkah. Ternyata, trek yang dilalui tadi malam memang benar-benar berbahaya saat dilihat di bawah cahaya matahari. Kami sangat bersyukur dapat melaluinya tadi malam.

Trek Tanjakan Terakhir Menuju Puncak Rinjani

Perjalanan dari puncak ke Plawangan Sembalun membutuhkan waktu hanya dua setengah jam, tidak seperti naiknya yang membutuhkan waktu lima jam, dari jam setengah dua dini hari sampai jam setengah tujuh. Sampai di basecamp, semua pakaian kami penuh dengan debu dan sepatu menjadi ‘pabrik kerikil’. Kaos saya basah dengan keringat karena waktu turun cuaca sudah lumayan panas. Kami lalu sarapan sekaligus makan siang, lalu bersiap turun ke Danau Segara Anakan. Perjalanan menuju Puncak Rinjani ini begitu melelahkan, tapi menjadi pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan buat saya. Alhamdulillah.

Danau Segara Anakan dari ‘Hampir Puncak’

[ Catper Rinjani – 3 ] Bukit Penyesalan dan Plawangan Sembalun


Baru jam 9 pagi kami benar-benar siap untuk berangkat lagi. Tim-tim lain sudah mendahului kami satu jam sebelumnya. Yang membuat persiapan kami lama adalah packing. Maklum, kami tidak membawa porter, jadi semua beban harus dibagi rata agar tidak ada anggota tim yang terlalu cepat kelelahan. Apalagi hari ini kami akan melewati Bukit Penyesalan menuju ke basecamp terakhir sebelum summit, Plawangan Sembalun.

Sebelum berangkat, kami menyiapkan makan siang. Agar tidak repot, kami berharap sebuah roti isi keju dapat menjadi pengganjal perut. Jerigen dan botol-botol air juga kami isi karena katanya di pendakian hari kedua ini akan sulit mencari air. Dibutuhkan waktu empat sampai lima jam untuk mencapai Plawangan Sembalun. Namun, itu versi porter yang bagi kami sudah seperti superhero. Kami yakin, kami baru akan gelar tenda lagi jauh sore hari nanti. Bukan pesimis, tapi realistis. Kami juga sering menyebut kami Snail Adventure.🙂

berfoto sebelum naik, si fajar yang moto

Awalnya, tanjakan yang didaki tidak terlalu curam. Mirip-mirip perjalanan ke pos tiga. Tapi setelah itu, bukit-bukit silih berganti untuk dilalui. Kenapa dinamakan Bukit Penyesalan? Ada yang bilang, perjalanan dari Pos 3 ke Plawangan Sembalun itu harus melewati 9 bukit terjal yang sangat melelahkan untuk didaki. Ada juga yang bilang bahwa jumlah bukitnya ada 7. Dinamakan Bukit Penyesalan karena tanjakan-tanjakan terjal yang dilalui seperti tanpa akhir.

Para pendaki akan selalu berharap bahwa puncak bukit yang sedang dilihat merupakan bukit terakhir sebelum sampai di Plawangan. Namun, ternyata di balik bukit tersebut masih ada lagi bukit lain yang lebih tinggi. Begitu seterusnya. Biasanya, di jalur ini para pendaki mulai merasakan kegamangan dan menyesal (alaaah, bahasanya..hhaha). Meneruskan naik, stamina sudah habis. Mau turun balik lagi ke Pos 3, jarak yang ditempuh sudah terlampau jauh. Jadinya nyesel deh lewat situ. Belum lagi kalau musim hujan, kabut dan hujan akan silih berganti menggoda mental. Alhamdulillah, kami mendaki di tengah musim kemarau, jadi cuaca cukup cerah.

jalur Bukit Penyesalan. Curam banget!

Hampir satu jam berjalan, kami sampai di Pos 4. Seperti biasa, posnya sama aja kayak yang lain, hanya yang ini masih cukup bagus. Dari literatur yang saya baca, jalur Bukit Penyesalan akan dimulai dari sini. Setelah istirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan. Saya sebenarnya cukup bingung gimana cara ngitung jumlah bukit yang sudah dilalui. Tapi untunglah, jadi yang saya pikirkan hanya terus jalan saja, yang penting nyampe. Kami cukup punya alasan menyebut kami Snail Adventure, karena setiap seperempat sampai setengah jam berjalan, kami berhenti untuk mengatur nafas. Ternyata bener, jalur ini menguras tenaga banget.

Keringat mulai mengucur deras, carrier di punggung serasa makin berat. Tapi alam sepertinya lagi bersahabat sama kami. Setiap kami istirahat, angin yang berhembus dari lembah benar-benar menyejukkan. Lebih nikmat dari AC di ruangan2 kota. Air dari sungai yang kami bawa juga walaupun di dasarnya ada pasir-pasir yang kebawa terasanya menyegarkan.

seperti tanpa ujung

Di jalur ini, kami melihat dapat melihat jalur ke Puncak Rinjani dengan cukup jelas. Waktu melihat trek itu, saya benar-benar was-was. Treknya pasti pasir, terus kanan kirinya jurang, pikir saya waktu itu. Bukan apa-apa, sepatu yang saya pakai hanya sepatu jogging biasa, bukan untuk trekking. Saya khawatir, waktu summit attack nanti malam, karena kurang hati-hati dan sepatu saya yang licin, jurang di kanan dan kiri siap menyambut saya. Saya juga nggak bawa trekking pole untuk menjaga keseimbangan. Jadi, sepanjang perjalanan hari itu saya mencari-cari kayu yang cukup kuat untuk dijadikan tongkat pegangan.

trek Puncak Rinjani. membuat hati saya dagdigdug

Akhirnya, setelah hampir 5 jam terus mendaki, dengan istirahat yang tak terhitung banyaknya, dan juga makan roti isi keju yang agak kering dan beku, kami sampai di punggungan bukit, atau orang bule mah nyebutnya ridge. Ada kepuasan tersendiri waktu kami sampai. Kalimat syukur dan kalimat subhanallah terus kami teriakkan karena pemandangan di depan kami sungguh indah. Untuk pertama kalinya, kami melihat Danau Segara Anak. Euforia, euforia! Tentu saja kamera sudah siap untuk berpose, bernarsis-narsis ria, merayakan kemenangan kami melewati jalur Bukit Penyesalan. Padahal, untuk sampai Plawangan Sembalun, kami masih harus berjalan sekitar setengah jam lagi.

Danau Segara Anak

Euforia!

Setelah puas berfoto-foto, kami berkemas dan melanjutkan menyusuri punggungan bukit ke arah puncak. Waktu menunjukkan pukul 14.30. Setengah jam kemudian, kami sampai di Plawangan Sembalun. Tempat ini merupakan basecamp terakhir yang biasa digunakan para pendaki sebelum summit attack yang dimulai dini hari. Plawangan Sembalun cukup datar dan luas, langsung berhadapan dengan Danau Segara Anak. Sudah banyak tim yang berkemah di sana. Ada juga bule-bule yang sepertinya menggunakan jalur Senaru. Kebanyakan beraksen British. Ada juga yang berasal dari Belanda, Kanada, dan juga Perancis.

Kami memilih tempat berkemah di sebelah tenda teman-teman Geologi yang tiba satu jam sebelum kami. Yang pertama kami lakukan adalah mencari informasi sumber air. Ternyata, tempat kami mendirikan tenda berada di jalur yang digunakan untuk mengambil air. Lokasinya tidak jauh di lembah di arah sebaliknya dari Danau Segara Anak. Airnya bersih dan sangat menyegarkan, juga bisa digunakan untuk mandi karena cukup berlimpah.

Kami berencana untuk tidur cepat malam ini karena tengah malam nanti kami akan menuju puncak. Setelah beristirahat sejenak, kami mulai memasak. Nasi belum siap dimakan ketika senja sudah mulai turun. Udara sangat dingin dan saya sampai menggigil. Orang-orang bergegas naik ke tempat yang lebih tinggi karena sunset sebentar lagi. Tidak peduli dengan nasi yang masih dimasak, kami pun mengikuti para pendaki lain. Pemandangan sunset yang kami lihat begitu menakjubkan. Puncak Gunung Agung, Bali juga terlihat dari Plawangan Sembalun ini. Sungguh, setelah merayakan kemenangan melewati Bukit Penyesalan, pemandangan sunset ini menjadi pelengkap yang sempurna.

sunset di Plawangan Sembalun dan Puncak Gunung Agung

Sunset di Plawangan Sembalun

Resume :
– Pos 3 ke Plawangan Sembalun, kira2 pukul 09.00 – 15.30 (durasi termasuk foto2 hampir 1 jam)

[ Catper Rinjani – 2 ] Sembalun Lawang : Awal Pendakian Yang Indah


Aikmel telah bergeliat sejak jauh sebelum subuh. Baru saya tahu pada pagi hari, ternyata Pasar Aikmel cukup besar dan sangat ramai. Kami melengkapi berbagai persediaan makanan di pasar sebelum melanjutkan perjalanan ke desa Sembalun Lawang. Setelah mandi dan makan di mesjid tempat menginap, kami berangkat. Waktu menunjukkan pukul 09.30 Ada sedikit sesal karena tidak bisa berpamitan kepada pengurus mesjid yang sudah sangat baik pada kami. Sejak pulang dari pasar, kami tidak bertemu lagi dengan mereka.

Peta Lombok

Perjalanan ke Sembalun Lawang dapat ditempuh dengan menggunakan mobil bak terbuka, atau yang biasa disebut engkel oleh penduduk setempat. Tarif engkel ini adalah Rp 15.000. Menurut supir engkel yang kami tumpangi, dulu perjalanan ke Sembalun Lawang bisa sampai 3 jam lebih karena jalannya memutar melalui Pelabuhan Lombok. Sekarang, setelah jalan langsung ke Sembalun melalui bukit dan hutan diperbaiki, waktu tempuh dapat dihemat menjadi hanya satu jam setengah saja.

Suasana di Engkel dan Rinjani dari Kejauhan

Di engkel kami bertemu dengan seorang bule yang sangat nyentrik. Awal perkenalan, saya pake bahasa Inggris, eh ternyata dianya jago bahasa indonesia. Namanya Yulius, orang Rumania, udah hampir 2 tahun di Indonesia. Dia dapat beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk belajar kebudayaan Indonesia di Universitas Andalas, Sumatera Barat. Dia cerita banyak tentang tempat2 yang pernah dia kunjungi di Indonesia, mulai dari Sumatera sampai ke Maluku. Malahan, dua bulan lagi katanya dia mau ke Papua. Yang menarik adalah, dia nggak mainstream. Yulius nggak suka ke tempat2 yang sering dikunjungi bule lain. Mending ke tempat2 yang sepi dan jarang dikunjungi, katanya.

Walaupun agak terkesan sombong, dia lucu juga. Waktu ditanya dia berasal darimana, dia menjawab, “Emang, kalau saya jawab saya dari Rumania, kamu tahu itu dimana?” Wah, naluri geografi saya keluar lagi. “Tau lah!” kata saya yakin banget. “Eropa Timur kan?” Dia manggut-manggut. “Apa ibukotanya?” Hahaha, saya agak ragu jawab pertanyaan ini. Tapi akhirnya saya jawab lagi, “Bukharest!”. Dia manggut-manggut lagi. Kata dia, dia males jawab pertanyaan dari mana asalnya soalnya biasanya orang Indonesia nggak tau Rumania itu dimana. Yee, lo pikir orang Eropa banyak yang tau Indonesia dimana? Taunya paling Bali doang!

Trek yang dilalui engkel dari Aikmel ke Sembalun Lawang cukup ekstrim. Tanjakannya mantap abis, belum lagi jalanannya yang udah keropos, bikin saya yang duduk di bibir bak mobil pegel karena pegangan terus. “Cuma engkel ini, Mas, yang sanggup membawa angkutan ke Sembalun lewat trek ini,” kata supir sebelum berangkat. Engkel yang kami tumpangi melewati hutan, naik ke bukit, berjumpa dengan monyet-monyet abu, juga menghindari lubang yang menganga di tanjakan.

Kami juga mendapat nasihat dari bapak2 yang naik engkel juga buat nggak berbuat seenaknya di Rinjani. Jangan sompral, harus hormat sama alam. Jangan sombong dan mentang2 kuat. “Beberapa waktu lalu juga ada yang mati kedinginan 7 orang di puncak gara2 maksain naik waktu cuaca lagi buruk, padahal udah diperingatin penjaganya,” kata bapak itu. Deg!

Semakin dekat ke Sembalun, jalanan semakin terjal. Di ujung tanjakan terakhir, pemandangan Desa Sembalun akhirnya terlihat juga. Desa yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani sayuran ini berada di sebuah lembah yang indah, dengan udara sejuk yang menyegarkan. Indah dan asri banget kerasanya. Ada juga beberapa greenhouse yang menurut si bapak yang tadi memberi nasihat dibangun oleh orang Australia.

Beberapa ratus meter setelah memasukki desa, kami sampai di Rinjani Information Center, kantor pendaftaran untuk para pendaki. Saya dan Jody turun dari engkel untuk mengisi data dan membeli tiket seharga Rp 10.000. Masing-masing dari kami mendapatkan sebuah kartu pendakian berwarna hijau seperti ini. Lumayan, untuk jadi oleh-oleh yang bisa dipamerin, pikir saya. Rinjani Information Center seharusnya merupakan titik awal pendakian, namun supir mengajak kami untuk melanjutkan perjalanan sedikit lagi untuk menghemat waktu pendakian.

Beberapa saat kemudian, kami diturunkan di tengah permukiman penduduk. Saya dan rombongan kemudian bersiap-siap dan melakukan stretching sejenak. Saya kira, si bule Yulius datang ke Sembalun bukan untuk mendaki, karena dia hanya membawa sebuah carrier kecil, mungkin hanya berkapasitas 40 – 60 liter. Namun, ternyata dia juga ikut turun bersama kami dan melakukan berbagai peregangan. Baru beberapa menit saja, dia langsung pamit untuk mendaki duluan dan kemudian berjalan cepat ke arah yang ditunjukkan supir engkel untuk memulai pendakian.

tempat kami turun dari engkel. lumayan, ada saung buat ngaso.

gang di sebelah saung menuju trek ke Rinjani

Setelah briefing sebentar dan mengucapkan doa, perjalanan menuju Puncak Rinjani kami mulai. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 11.30 WITA, tanggal 16 Juni 2012. Butuh beberapa saat bagi saya untuk beradaptasi dengan beban carrier yang saya bawa. Rasanya sedikit sesak di dada sebelah kiri saat mulai melangkah. Saya mulai waswas, belum apa-apa, pikiran saya sudah negatif. Namun kata Jody, setiap pendaki memang selalu butuh beradaptasi dengan berat tas yang dipanggul di punggung. Setelah agak lama dan mengatur kekencangan ikatan carrier di pundak dan di pinggang, saya sudah mulai merasa nyaman.

Trek awal pendakian dari Sembalun cukup mudah. Hamparan padang rumput dan kebun sayuran milik warga mendominasi pemandangan. Tanjakannya juga cukup landai dan tanahnya masih ditutupi oleh rerumputan, jadi tidak terlalu licin. Cuaca juga cukup mendukung, udara dingin dan teriknya matahari ber-fussion menjadi udara hangat yang lembut. Kekhawatiran saya yang tidak memakai sepatu gunung dan hanya menggunakan sepatu kets biasa, belum menjadi masalah. Semakin naik, pemandangan Sembalun Lawang terasa begitu damai dan menyegarkan. Semoga saya masih dapat melihat desa ini lagi, pikir saya waktu itu.

dari Sembalun ke Pos 1. (ki-ka) Jody Prasetya, Fajar C. Y. Perkasa, Ilman Sulaeman, Fajar S. D.

Dari Rinjani Information Centre ke Pos 1 biasanya dibutuhkan waktu 4 jam. Karena kami memulai pendakian dari tempat yang lebih dekat, jadi dibutuhkan waktu kira-kira satu jam sampai Pos 1. Sejak awal kami memang telah sepakat bahwa kami nggak akan terburu-buru dalam perjalanan, jadilah kami sampai di Pos 1 terlambat setengah jam. Pos ini hanya berupa saung (bahasa indonesianya gazeebo mungkin yaa) terbuat dari seng dan besi yang dicat hijau dan atapnya sudah tinggal tersisa setengah.

Di Pos 1, sudah ada tim pendaki yang lain. Mereka terdiri dari dua orang perempuan dan seorang laki-laki umur 30 tahunan, dengan jumlah porter yang melebihi jumlah mereka sendiri. Buset, barang bawaan mereka banyak banget, sampai bawa ayam hidup segala, telor yang masih di tempatnya (tau kan, yang biasanya ada lubang2nya gitu, warna abu2), dan makanan yang lainnya. Waktu kami sampai, pas banget mereka baru selesai masak dan makanannya nyisa banyak. Alhamdulillah, rezeki buat kami. Sambil malu-malu kucing, kami pun makan siang dengan mereka. Terima kasih mbak dan mas dari Jakarta yang kocak banget!

setelah puas makan gratis, waktunya berfoto di Pos 1

Jam dua kurang, kami melanjutkan perjalanan ke Pos 2. Kata porter yang kami temui, jaraknya tidak begitu jauh, hanya sekitar setengah jam. Treknya juga hampir mirip dengan trek pendakian awal, hanya mungkin kecuramannya yang bertambah. Ngomong-ngomong soal porter, kami berlima selalu mengagumi mereka. Kekuatannya itu loooh. Kami aja yang udah berbagai perlengkapan dan gear pendakian, barang bawaan yang nggak begitu banyak, dan pakai sepatu, selalu ngos-ngosan dan banyak istirahat. Tapi porter Rinjani, waaah..hebat lah pokoknya. Mereka biasanya pakai tanggungan yang kayak tukang cuanki atau kerak telor. Tau kan? Segala macam ada di tanggungan itu, mulai dari pakaian si pendaki, matras, sleeping bag, tenda, dan perlengkapan makan. Baru kami tahu setelah turun dan menginap di Senaru, berat tanggungan porter2 itu kira-kira 70 kilo. Mereka juga cuma pake kaos oblong atau kemeja, celana pendek, sama sendal jepit yang biasa dijual di warung. Hebat banget lah pokoknya!

Porter Rinjani

Dari Pos 1 ke Pos 2 kami melewati hutan kecil, lumayan nanjak. Banyak bule yang kami temui. Kekaguman kami pada porter bertambah besar waktu ngeliat ada seorang porter yang mengangkut bule yang kayaknya cedera. Biasanya kan kalo ngegendong anak kecil itu di punggung, si porter ini ngangkut si bule di pundak. Saking terpesonanya, kami nggak sempet foto adegan unjuk kekuatan itu. Bule yang badannya gede itu, diangkut di pundak sama seorang porter Indonesia yang badannya mungkin hanya sebahu tinggi si bule. Kuat banget!

Kami sampai di Pos 2 sore hari, sekitar pukul tiga. Pos 2 ini disebut juga Pos Tengengean dan terletak di ketinggian 1500 mdpl. Letaknya di sebuah turunan jalan dan di bawahnya ada sebuah toilet yang jarang dipakai dan saung (gazeebo) yang kondisinya sedikit tersembunyi dan nggak begitu berbeda sama gazeebo di Pos 1.  Istirahat sejenak, kami pun langsung melanjutkan perjalanan ke Pos 3, tempat kami akan bermalam. Ternyata jalur pendakiannya cukup menguras tenaga, didominasi oleh tanjakan-tanjakan curam. Untung saja, bekal air minum yang kami bawa dari Aikmel masih cukup banyak. Sebenarnya, di Pos 2 ada sumber air, tapi mungkin karena sedang musim kemarau, kami tidak bisa menemukan sumber air tersebut.

istirahat sejenak di Pos 2

Semakin ke atas, kami semakin sering menemui bukit-bukit terjal berbatu. Kemiringannya bisa mencapai 60 derajat (ini ngarang abis, galatnya bisa gede, tapi emang curam banget). Kadang kami harus berperilaku layaknya seorang spiderman, mendaki tebing-tebing. Sebelum sampai di Pos 3, kira-kira 10 menit perjalanan dari Pos 3, ada Pos Bayangan. Bentuknya juga sama kayak Pos 1 dan Pos 2. Setelah istirahat sejenak, perjalanan kami lanjutkan. Alhamdulillah, perjalanan ke Pos 3 ini dapat kami selesaikan dengan lancar dan cukup cepat. Tepat pukul 17.00 WITA, kami sampai di Pos 3.

Pos 3 terletak di sebuah sungai kering, terhalang oleh tebing yang cukup tinggi, jadi menghalangi angin. Di pos tersebut, telah banyak tenda-tenda pendaki lain yang berdiri. Ada juga tim dari Jakarta yang di Pos 1 tadi memberi kami makanan. Yang cukup membuat kami kaget, ternyata tim Geologi ITB yang kami jumpai di Stasiun Lempuyangan tempo hari sudah sampai di Pos 3 itu dan sudah mendirikan tenda. Ternyata, saat kami naik kereta ke Banyuwangi, mereka naik bis cepat. Sebenarnya, kami sudah mengira mereka juga sudah mulai mendaki karena di Rinjani Information Center, saya dan Jody sudah melihat data rombongan 10 orang dari Bandung, yang dua diantaranya perempuan.

tenda kami di Pos Pada Balong

Sumber air cukup melimpah di Pos 3, atau yang disebut juga Pos Pada Balong. Setelah mendirikan tenda, kami mengambil air dan mulai memasak, makan, lalu tidur. Malam itu kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk beristirahat karena besok akan mulai merasakan trek Rinjani yang terkenal curam, yang biasa disebut Bukit Penyesalan. Apa itu Bukit Penyesalan? Nantikan catatan selanjutnya.

Resume :
– Aikmel ke Sembalun Lawang,  09.30 – 11.00, mobil engkel, Rp 15.000
– Karcis masuk di RIC, Rp 10.000
– Sembalun Lawang ke Pos 1, 11.30 – 13.00
– Pos 1 ke Pos 2, 13.45 – 14.45
– Pos 2 ke Pos 3 (Pada Balong), 15.00 – 17.00

[ Catper Rinjani – 1 ] 3 Hari 3 Malam Menuju Lombok


Saya orang yang jarang banget naik gunung. Suatu malam di awal bulan Juni, saya di-sms teman saya Ilman, maksudnya mengajak saya naik gunung. Rinjani, nama gunung yang ditulis Ilman di sms itu. Saya kaget, pikiran saya flashback ke masa-masa SMA waktu masih ada pelajaran geografi. Seingat saya, gunung berapi yang letaknya di Lombok itu tinggi banget. Setelah saya searching di internet, ternyata benar, Rinjani merupakan gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia, dengan ketinggian puncaknya yaitu 3.726 mdpl.

Gunung Rinjani

Tanpa pikir panjang, saya langsung mengiyakan ajakan teman saya itu. Saya hanya bilang ke orang tua kalau saya hanya akan liburan ke Lombok, bukan untuk mendaki Rinjani. Maklum, kalau saya bilang, niscaya izin orang tua tidak akan diraih. Rencananya, saya baru akan minta izin mendaki setelah saya sampai di kaki gunung nanti.

Kami berencana berangkat dari Bandung tanggal hari Sabtu, 9 Juni 2012. Kami pun membuat berbagai persiapan dan itinary (bahasa anak organisatoris : Juklak atau Petunjuk Pelaksanaan, semacam rundown). Perjalanan dari Bandung sampai ke Banyuwangi akan kami tempuh dengan dua kali naik kereta ekonomi, yaitu KA Kahuripan dari Bandung menuju Lempuyangan, Jogjakarta, lalu disambung dengan menggunakan KA Sri Tanjung dari Lempuyangan sampai ke Banyuwangi. Namun ternyata, rencana kami untuk berangkat tanggal 9 harus tertunda. Tiket kereta yang akan dipesan ternyata sudah habis dan baru ada lagi untuk tanggal 13 Juni. Nah, ini pelajaran nih untuk yang mau berpergian naik kereta ekonomi. Daripada kehabisan tiket, belilah tiket kereta H-7 hari keberangkatan.

Setelah semua persiapan dilaksanakan, jadilah kami berangkat tanggal 13 Juni 2012, pukul 20.30 dari Stasiun Kiaracondong, Bandung. Saya berangkat duluan sehari sebelumnya ke Jogjakarta untuk menyelsaikan beberapa keperluan (hhaha, padahal mah bertemu dulu neng Desni). Seperti sudah bisa dibayangkan lah yaa, perjalanan pake kereta ekonomi tuh gimana rasanya. Walaupun sekarang PT KAI sudah menuju ke perubahan yang membaik (seperti sudah nggak ada calo, pengantar dilarang masuk peron, dan kapasitas penumpang yang nggak boleh melebihi kuota), tetep aja tempat duduk dan pedagang asongan yang hilir mudik membuat mata sulit banget buat terpejam. Tapi itu kelebihannya, makanan murah selalu tersedia 24 jam.🙂

Bertemu Temen2 Gea ITB di Lempuyangan

KA Kahuripan sampai di Lempuyangan pukul 06.15 (ngaret-ngaret dikit lah yaa..). Kami bertemu di stasiun dan langsung naik KA Sri Tanjung jurusan Jogja-Banyuwangi. Di stasiun ini, kami juga ketemu sama rombongan anak2 Geologi ITB berjumlah 10 orang yang juga mau ke Rinjani. Tapi malang buat mereka, karena ngedadak dan nggak mesen tiket seminggu sebelumnya, temen2 Gea ini nggak dapet tiket KA Sri Tanjung. Kalau kami, alhamdulillah seminggu sebelumnya sudah beli tiket lewat Neng Desni. (hatur nuhuun..)

Dengan diantar lambaian tangan dari Neng Desni (biar sedikit romantis catper-nya..hhaha), kereta pun melaju. Perjalanan kereta ini menjadi yang terlama dan terjauh buat saya. Bayangkan aja terperangkap di kereta ekonomi selama 14 jam, dari jam 07.30 sampai jam 21.30. Empat jam pertama mungkin masih menyenangkan, masih bisa main kartu, ketawa-ketiwi sama ibu2 di kursi sebelah, sama ngetawain berbagai aksen penjual makanan. Selebihnya? Keringet, bau badan, dan bosen denger teriakan “Mison, mison, mison” atau “nasi ayam 3 rebu masih anget, nasi anget, nasi anget..”.

Berpose di Atas KA Sri Tanjung

Kira-kira pukul 10 malam, kami sampai di kota paling timur di Pulau Jawa, Banyuwangi. Di minimarket terdekat, kami melengkapi berbagai keperluan semacam makanan kaleng, minuman sachet, dan mengisi dompet dengan uang dari atm (atm-nya baik, suka ngasih uang..*garing). Berjalan 10 menit dari Stasiun Banyuwangi, kami sampai di Pelabuhan Ketapang. Kesan pertama buat saya yang baru pertama kali ngeliat pelabuhan dan baru pertama kali akan nyeberang Pulau Jawa adalah : “Wow, kereeeen!!”.

Boyband di Ketapang

Harga tiket kapal untuk menyeberang ke Bali adalah Rp 6.000. Kapal yang kami tumpangi malam itu lumayan nyaman, kursinya baru kayaknya. Perjalanannya hanya setengah jam. Kami sampai di Gilimanuk pukul 01.30 WIB, berarti jadi pukul 02.30 WITA. Ternyata hape saya canggih, otomatis berubah sendiri waktunya waktu masuk WITA, hhaha. Sampai di Gilimanuk, kami langsung masuk ke terminal buat nyari bis yang akan membawa kami ke ujung timur Pulau Bali, Pelabuhan Padang Bai. Pukul 02.45, bis yang kami tumpangi mulai berjalan ‘membelah’ Bali.

Perjalanan dari ujung ke ujung itu memakan waktu lebih dari 5 jam. Pukul 09.30 kami sampai di Pelabuhan Padang Bai. Yang pertama kami buru adalah rumah makan. Makanan khas Jawa Timur semacam rawon dan soto lumayan buat mengganjal perut yang sehari sebelumnya hanya mendapat asupan paket hemat di kereta. Setelah berfoto-foto (tetep kalo yang ini mah ga boleh kelewat :p ), ke toilet, dan sedikit membersihkan badan, kami siap melanjutkan perjalanan menyeberang Selat Lombok.

Kalau perjalanan dari Jawa ke Bali hanya setengah jam, menyeberang ke Lombok butuh kira-kira lima jam. Sayang banget, kapal laut yang kami tumpangi ternyata nggak terlalu nyaman. Padahal, Jody (salah satu teman perjalanan) bilang kalau dulu dia pernah dapet kapal yang enak banget, kayak hotel. Dengan harga tiket yang sama, kapal yang ditumpangi memang berbeda-beda setiap jam-nya, tergantung perusahaan. Jadi kayak maen lotre gitu deh.

serasa di atas kapal pesiar.. :p

Pukul 15.30 WITA, kami sampai di Pelabuhan Lembar, Lombok. Cuacanya nggak terlalu panas. Tapi langsung kami diserbu oleh beberapa calo yang menawarkan angkutan menuju berbagai tempat di Lombok, seperti Mataram, Tiga Gili, bahkan sampai Sembalun. Muka kami memang seperti turis mungkin yaa (ya iya lah, orang bawa carrier segede gitu..). Kami memutuskan untuk mengisi perut dulu, lalu dua jam kemudian, kami memutuskan untuk menerima tawaran seorang calo untuk mengantar kami ke Aikmel, sebuah kota kecamatan di Lombok Timur yang akan menjadi tempat menginap kami sebelum besok melanjutkan ke Sembalun Lawang, titik awal pendakian Rinjani.

Pelabuhan Lembar, Lombok

Kami sampai di Aikmel setelah menempuh perjalanan hampir 3 jam. Kami turun di sebuah pasar yang katanya akan rame di pagi hari sampai siang hari. Kami pun langsung mencari mesjid untuk tempat beristirahat. Beruntung, sebuah mesjid yang cukup besar di dekat pasar tersebut kami temukan. Pengurus mesjidnya pun baik banget dan menyambut kami dengan ramah, sepertinya sudah biasa dengan pendaki seperti kami. Setelah makan malam, kami pun beristirahat di lantai dua mesjid, mempersiapkan tubuh dan mental untuk memulai pendakian esok harinya. Tiga hari tiga malam dari Bandung menuju Lombok telah kami lalui dengan lancar.

Transportasi :
– Kiaracondong-Jogja, KA Kahuripan, 20.30 – 06.30 Rp 35.000
– Jogja-Banyuwangi, KA Sri Tanjung, 07.30 – 21.30 RP 35.000
– Pel. Ketapang-Pel. Gilimanuk, Kapal Ferry, Rp 6.000
– Gilimanuk-Padang Bai, Bis Buana Raya, 02.30 WITA – 08.30 WITA, Rp 40.000
– Pel. Padang Bai-Pel. Lembar, Kapal Ferry, 10.00 – 15.30 WITA, Rp 36.000
– Lembar-Aikmel, nyarter mobil, 17.30 – 21.00 WITA, Rp 50.000

Total : Rp 202.000

[ Catper Rinjani ] Prolog : Rinjani dalam Legenda


Gunung Rinjani terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung ini merupakan gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia dan masih merupakan bagian dari ring of fire. Ketinggian puncak Rinjani mencapai 3.726 mdpl. Keindahan padang rumput dan sabana yang berada di Taman Nasional Gunung Rinjani menjadikan gunung ini tak pernah sepi dari para pendaki, baik domestik maupun mancanegara.

Di sebelah barat kerucut Rinjani terdapat kaldera dengan luas sekitar 3.500 m × 4.800 m, memanjang kearah timur dan barat. Di kaldera ini terdapat Segara Anak (segara= laut, danau) seluas 11.000.000 m persegi dengan kedalaman 230 m. Air yang mengalir dari danau ini membentuk air terjun yang sangat indah, mengalir melewati jurang yang curam. Di Segara Anak banyak terdapat ikan mas dan mujair sehingga sering digunakan untuk memancing. Bagian selatan danau ini disebut dengan Segara Endut.

Di sisi timur kaldera terdapat Gunung Baru (atau Gunung Barujari) yang memiliki kawah berukuran 170m×200 m dengan ketinggian 2.296 – 2376 m dpl. Gunung kecil ini terakhir aktif/meletus sejak tanggal 2 Mei 2009 dan sepanjang Mei, setelah sebelumnya meletus pula tahun 2004. Jika letusan tahun 2004 tidak memakan korban jiwa, letusan tahun 2009 ini telah memakan korban jiwa tidak langsung 31 orang, karena banjir bandang pada Kokok (Sungai) Tanggek akibat desakan lava ke Segara Anak. Sebelumnya, Gunung Barujari pernah tercatat meletus pada tahun 1944 (sekaligus pembentukannya), 1966, dan 1994.

Selain Gunung Barujari terdapat pula kawah lain yang pernah meletus, disebut Gunung Rombongan.

–> disadur dari http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Rinjani

Sebelum cerita-cerita perjalanan ke Gunung Rinjani, kita ngomongin dulu tentang legenda gunung ini yuk. Banyak banget versi ceritanya, terutama dalam pewayangan. Mungkin yang paling mudah dicerna oleh saya adalah kisah Dewi Rinjani sebagai puteri dari seorang raja di Pulau Lombok.

Alkisah zaman dahulu kala di Pulau Lombok, tak jauh dari Pelabuhan Lembar, ada sebuah negeri bernama Taun yang dipimpin oleh Raja Datu Taun. Di bawah pemerintahannya, kerajaan ini sangat makmur dan sejahtera. Namun, Raja dan permaisurinya yang bernama Dewi Mas sangat sedih karena sudah lama tak kunjung diberi keturunan, padahal usia mereka sudah menginjak masa-masa senja. Raja merasa khawatir tentang siapa yang akan meneruskan memerintah Taun sepeninggalnya. Akhirnya, setelah meminta izin kepada Dewi Mas yang sangat baik hati, Raja meminang seorang istri muda.

Raja kemudian menikahi seorang gadis cantik yang bernama Sunggar Tutul. Lama kelamaan, perhatian raja kepada Dewi Mas memudar. Akan tetapi, Dewi Mas tetap sabar menghadapi kenyataan itu. Karena kesabarannya dan kemurahan Sang Maha Kuasa, Dewi Mas akhirnya mengandung.

Berita tentang kehamilan Dewi Mas merebak dengan cepat. Karena takut Raja akan kembali berpaling pada Dewi Mas, Sunggar Tutul melancarkan fitnah yang sangat kejam. Dia memberikan berita bohong pada Raja bahwa anak yang dikandung istri tuanya tersebut merupakan hasil selingkuh. Raja pun marah mendengarnya. Dewi Mas yang sedang mengandung dibuang ke sebuah pulau kecil (gili). Dengan ditemani pengiringnya, mereka membangun sebuah permukiman.

Meskipun sudah tua, kecantikan dan wibawa Dewi Mas tidaklah memudar. Suatu hari, lewatlah sebuah kapal ke gili tersebut. Nahkoda beserta para awaknya merasa bahwa ada sebuah kekuatan gaib yang mengarahkan kapal mereka untuk berlabuh di gili tersebut. Dari kejauhan, mereka melihat seorang wanita yang sangat cantik. Wanita tersebut adalah Dewi Mas. Pelaut-pelaut itu pun singgah di permukiman Dewi Mas.

Para pelaut bingung, mengapa di gili terasing seperti itu ada permukiman yang dipimpin oleh wanita secantik dan seberwibawa Dewi Mas. Setelah didesak, Dewi Mas pun menceritakan seluruh kisahnya. Dewi Mas kemudian meminta nahkoda kapal untuk membawanya ke Pulau Bali. Mereka semua pun kemudian berangkat dan membangun kehidupan baru di Pulau Bali.

Beberapa bulan kemudian, Dewi Mas melahirkan sepasang anak kembar, laki-laki dan perempuan. Kedua anak tersebut lahir dengan masing-masing keajaiban. Bayi laki-laki yang kemudian diberi nama Raden Nuna Putra Janjak lahir dengan diiringi sebuah keris, sedangkan sang bayi perempuan lahir dengan disertai sebuah anak panah. Bayi perempuan tersebut diberinama Dewi Rinjani.

Kedua anak tersebut tumbuh dengan sangat baik. Mereka ditempa dengan berbagai ilmu pengetahuan. Namun, suatu ketika Raden Nuna Putra Janjak dan Dewi Rinjani menanyakan siapa ayah mereka. Awalnya, Dewi Mas tak mau memberitahu. Namun, setelah didesak, sang permaisuri pun menceritakan bahwa ayah mereka adalah Raja Datu Taun, sebuah kerajaan di pulau Lombok. Mendengar cerita ibunya yang diusir karena fitnah yang sangat kejam, Raden Nuna Putra Janjak menjadi sangat marah. Ia kemudian meminta izin kepada ibunya untuk menemui Datu Taun. Karena terus didesak, Dewi Mas pun mengizinkan putranya berlayar ke Lombok.

Sesampainya di istana, pertarungan pun tak terelakkan. Tak ada pengawal kerajaan yang sanggup menghentikan kesaktian sang pangeran. Meskipun masih kecil, Raden Nuna Putra Janjak dengan kerisnya mampu mengalahkan semua pasukan. Akhirnya, Sang Raja pun turun ke medan pertarungan. Ayah dan anak itu ternyata seimbang. Namun karena pengalamannya lebih banyak Datu Taun dapat mengalahkan anaknya. Sejenak sebelum raja hendak menghabisi putranya, terdengar suara gaib yang menyuruh Datu Taun untuk berhenti. Suara itu berkata bahwa Raden Nuna Putra Janjak adalah putra kandungnya dari Dewi Mas.

Mendengar suara itu, Raja menyesal dan kemudian memeluk putra mahkotanya. Dia kemudian menjemput Dewi Mas dan seluruh pengikutnya ke Bali. Seluruh rakyat kerajaan bersuka cita. Dewi Mas sama sekali tak menaruh dendam kepada Sunggar Tutul. Mereka kemudian hidup berdampingan dengan bahagia.

Raden Nuna Putra Janjak tumbuh menjadi pemuda yang bijaksana seperti ayahnya. Datu Taun pun kemudian menyerahkan tahta kerajaan kepada anaknya. Kemudian, ia dan Dewi Rinjani menyepi ke gunung untuk lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Dewi Rinjani diangkat oleh jin dan makhluk halus di puncak gunung menjadi ratu. Sejak saat itulah, gunung di utara pulau Lombok tersebut dikenal dengan nama Gunung Rinjani.

Banyak Asap Di Sana!


hidup tak lagi sama
konglomerasi pesta
lapar bagaikan hama
tak ada yang tersisa

dedikasi dijaga
berjejal di kepala
demi sanak saudara
hingga sesakkan dada

diskriminasi harga
untuk kita semua
kado bersama-sama
di musim kering tiba

yang muda lari ke kota
berharap tanahnya mulia
kosong di depan mata
banyak asap di sana!

menanam tak bisa, menangis pun sama.
gantung cita-cita di tepian kota.

 

-efek rumah kaca (lagi)

Surat Cinta


Bertahun lamanya kita terpisah. Sudah sejak aku menginjakkan kaki di ruang-ruang yang penuh meja dan kursi yang berjejer, yang jika pagi sampai siang dipenuhi oleh anak-anak manusia dan konon saat malam dipenuhi anak dedemit, kau telah meninggalkanku. Sejenak, aku juga telah lupa. Lupa akan kehadiranmu yang dulu sangat berharga untuk kutunggu. Dulu. Dulu sekali saat aku masih ingusan, dicari-cari ibuku untuk dipopok saat aku bermain denganmu.

Dan aku tak tahu namamu. Dan aku tidak peduli.

Ingatkah engkau? Dulu kita berusaha mengejar sore bersama-sama. Kita patri jingganya di sebuah frame foto yang terbuat dari buluh-buluh bambu. Lalu kita bawa pulang. Dan malamnya aku tertidur, memimpikan angan-angan kita tentang sebuah album foto, agar setiap sore yang kita tangkap dapat kita simpan di sana. Dan kita dapat mengenangnya saat aku berkumis nanti.

Ingatkah engkau? Lumpur menjadi teman kita. Debu menjadi udara yang kita hirup. Dan aku ingat saat engkau selalu terbatuk menghirup udara malam. “Kau seperti kakekku,” kataku dulu, lalu kita tertawa bersama. Saat matahari pagi bangkit dari kedalaman malam, aku dibangunkanmu, lalu kita terbang mencari pagi. Ya, kau selalu mengejekku karena aku tak pernah bisa membawa pagi pulang. Dia selalu berubah menjadi siang.

Mimpiku adalah mengecilkan bulan. Ya, bulan yang besar itu ingin sekali aku buat masuk ke kantongku. Seperti bintang yang selalu kau beri padaku. Aku pernah bertanya. “Mengapa kau belum pernah memberiku bulan?” Kau hanya tersenyum dan menjawab, “Jika bintang kuambil satu, masih ada yang akan menerangi malam, karena mereka sangat banyak. Jika bulan kuberikan padamu, maka malam akan segelap kolong tempat tidurmu.”

Lalu kau melanjutkan. “Jadilah seperti bulan. Satu-satunya. Istimewa, dan dirasakan istimewa. Jadi jika kau pergi, orang-orang akan merasa kehilangan.”

Tak pernah kulupa bagaimana dulu sawah hijau di depan rumah itu menjadi tempat bersua kita. Lihatlah itu di imajinasiku. Aku yang bertelanjang dada, dengan kaki yang masih goyah, tangan yang begitu mungil, dan celana hitam pendek yang begitu penuh lumpur, berusaha mengejarmu di pematang sawah. “Tunggu aku!” kataku. Aku berlari, lalu jatuh, tapi tetap terbahak-bahak. Lihatlah itu laying-layang yang kau terbangkan untukku. Aku tak pernah bisa menerbangkannya, aku ingat. Kau yang selalu membantuku. Oh iya, angin juga. Tak pernah kulupa.

Kau pasti masih ingat, bukan? Aku yang saat itu menangis. Tak bisa kuhentikan air mataku. Dan kau datang, dengan angin, dengan bintang, dengan hijaunya padi yang belum matang, dengan secuil jingganya senja, dan layangan yang telah robek di bagian tengahnya, untuk menghiburku. “Mari bermain, Kawan,” katamu. “Bermain apa?” tanyaku setenga terisak. Kau tidak menjawab. Kau genggam tangan kecilku, menyeka air mataku, lalu menggendongku. “Apa saja,” katamu. “Apa saja yang kau mau.” Lalu aku berteriak suka, dan kau mulai berlari. Menuju masa depanku. Lalu kau turunkan aku di depan bangunan penuh meja dan kursi itu. Dan baru setelah lama, setelah aku bertemu dengan kawan lainnya yang disebut lelaki dan wanita, yang disebut Ibu dan Bapak Guru, juga kucing dan siput di halaman, dan juga lembaran-lembaran angka, aku sadar. Gendonganmu itu adalah yang terakhir. Dan itu adalah perpisahan.

Kau begitu ramah padaku. Kau begitu baik. Dan aku pun merasakan cinta padamu. Tapi, kau pergi. Atau mungkin, justru aku yang meninggalkanmu?

Cintaku yang entah kemana.

Aku sering membaca tentangmu di buku-buku. Itu sedikit banyak mengobati rinduku, Mereka bicara yang baik-baik tentangmu. Ah, ternyata tidak juga. Akhir-akhir ini aku sering mendengar engkau sakit. Benarkah itu? Aku tak percaya. Dulu kau selalu ceria, aku tahu. Aku ingin membuktikannya. Aku ingin menjengukmu, Cinta. Tapi tak pernah bisa aku menemukanmu. Aku tak tahu engkau dimana. Tak seperti dulu, saat aku sangat mudah bertemu denganmu yang tersenyum.

Kutulis surat ini untukmu. Aku rindu, dan akan kusampaikan sendiri tulisan ini padamu. Tak kupercayakan pada orang lain. Karena di amplopnya, ada bintang yang kau beri, senja di frame yang tak sempat kita masukkan ke dalam album foto, secuil pagi yang berusaha kutangkap tadi, semua puisimu untukku, dan laying-layang yang robek di bagian tengahnya.

Itulah bukit yang pertama aku harus taklukan. Tunggu, apakah itu sebuah bukit? Dahulu saat kita bermain, mereka penuh dengan hijaunya daun, berserakan bintang-bintang hijau di bawahnya. Tapi apakah itu yang sekarang berada di puncaknya? Kokoh angkuh, lantang menentang yang mau membabatnya. Aku tak akan sanggup. Aku tak akan bisa. Hey, angin datang membantuku, membawa ketapel yang kutembakkan pada si angkuh itu. Dan dengan bintang yang selalu kau beri itu, dia roboh.

“Gunakan laying-layangmu,” kata angin. Aku memakainya di punggungku. Kutambal robekannya dengan foto-foto senja. “Apakah aku tak bisa terbang bebas seperti dulu?” tanyaku pada angin. Dia menjawab muram. “Tidak, kini kau membutuhkan bantuan. Kau tak sebebas dahulu. Lihatlah saja hati dan pikiranmu.”

Hati dan pikiranku? Itukah yang membuat aku sulit mencarimu?

Aku tetap terbang bersama angina dan laying-layang yang robek di bagian tengahnya. Aku menanyakan tentang cintaku pada angin yang kini kurasa sudah berbeda, tapi dia tak menjawab. Sampai suatu saat, malam tiba. Entah sudah berapa lama aku berada di udara. Malam datang tak sendirian. Bersamanya, bukan datang bintang atau bulan. Tapi awan yang penuh dengan halilintar. Hujan mulai membasahi kemejaku. Dasi merah yang aku pakai sudah hilang entah kemana. “Bulan!” aku berteriak. “Bencikah engkau padaku sampai tak mau membantuku?”

“Jangan berteriak-teriak!” seru angin. “Kau masih punya secuil pagi, bukan?” Dan aku pun teringat olehnya. Dengan susah payah, aku tarik amplop surat ini dari saku celana. Tanpa sengaja, pagi yang sudah kutangkap berhamburan. Jatuh ke bumi. Matahari kembali. Awan, hujan, dan halilintar pergi.

Betapa sulit aku mencarimu. Padahal, kini langkahku sudah tegap. Otot dan tulangku tumbuh dipupuk oleh susu dan semangat untuk menemukanmu. Aku tidak lagi dikejar-kejar ibuku untuk memakai popok. Dan seperti yang kau ramalkan dahulu, kini aku mempunyai rambut-rambut tipis di bawah hidungku. Bahkan, rambutku pun sudah ada yang memutih. Tuhan, tolong aku. Aku ingin sekali menemukannya.

“Di sana!” teriak angin. Aku melihat ke arah yang ditujunya. Kuturunkan laying-layangku dan aku hampiri dirimu. Itukah engkau? Tak lagi kukenali dirimu. Kau memang berada di sana. Keindahan dan senyum ramahmu masih ada di wajahmu. Tapi benarkah itu engkau? Engkau sekarang melemah. Terbaring tak berdaya di trotoar jalan. Darahmu mengucur tak henti-henti. Lumpur menghiasi pakaianmu. Keringat membasahi seluruh badanmu. Tuhan, benarkah ini cintaku? Benarkah ini? Mengapa ia menjadi seperti itu?

“Apa yang terjadi?” tanyaku. “Aku susah payah mencarimu, melawan bukit dan badai dan ombak besar di lautan. Tapi mengapa dengan seperti ini kau menyambutku? Tidakkah kau merindukanku?”

Aku menangis. Aku tak tahu apakah tangisanku hanya pura-pura agar cintaku mengangkat tangannya dan menyeka air mataku atau ini memang tangisan pili. Aku tak tahu. Tolong, jangan mati. Lalu aku teringat tentang semua yang aku bawa. Surat itu, dan amplop yang berisi bintang yang kau beri, senja di frame yang tak sempat kita masukkan ke dalam album foto, secuil pagi yang berusaha kutangkap tadi, semua puisimu untukku, dan laying-layang yang robek di bagian tengahnya. Kubuka amplop itu, tapi yang tersisa hanya suratku dan puisimu.

“Aku membawa surat untukmu,” kataku. Kau tersenyum, tapi terengah-engah. Angin hanya menatap kita dan membelai dengan segala kemampuannya. Luka di sekujur tubuhmu masih tetap mengalirkan darah. Itu, aku tak bisa menyeka keringatmu, bisakah kau membantu dirimu sendiri?

“Bacakan untukku,” katamu lirih.

“Tak bisa, aku harus menulis namamu di suratku agar semuanya lengkap.” Aku mulai menangis melihatmu yang kehabisan nafas. Kau memberikan isyarat untuk memberikanmu penaku. Lalu, kau menulis sebuah kata yang sangat indah, hanya sembilan huruf, tapi mampu membuat air mataku mengalir lebih deras. Lalu, kubacakan suratku untuknya.

Indonesia tanah air beta

pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala

tetap dipuja-puja bangsa.

 

Di sana tempat lahir beta

dibuai dibesarkan bunda

tempat berlindung di hari tua

sampai akhir menutup mata.

 

Ternyata aku menyanyi diiring siulan angin. Kau tersenyum, lalu berkata. “Aku akan selalu di sini sampai tidak ada lagi yang mencintaiku. Lagumu untukku menunjukkan bahwa ternyata aku masih dicintai. Aku percaya, dengan cinta, kita akan berlari bersama lagi.”

Dan suratku pun lengkap dengan kalimat terakhirku :

Aku cinta Indonesia.