Aku-Kamu-Bayanganku

aku

dimana aku?

engkaukah aku?

menatapku di balik lapisan bercahaya.

sayu

matamu sendu

engkaukah aku?

dibalik kaca, ingin menyentuh wajahku

 

dimana aku?

apakah kamu adalah aku?

menjerit ingin keluar, menggebuk-gebuk kaca di depanku

teriakkanmu bisu

dan tangisanmu kelu

engkaukah aku?

 

tidak.

akulah aku.

bukan kamu. kamu hanya imajinasi

proyeksi energi dari matahari, bukan kamu yang aku.

aku adalah aku.

aku bebas bergerak di dunia.

kamu akan hilang saat aku tak lagi di depan kace.

jadi, biarkan aku pergi.

biar kamu tak lagi jadi menghantui.

 

dalam cermin.

dalam dimensi berjumlah dua.

aku adalah aku.

kamu adalah kamu, bayanganku.

 

lalu bagaimana aku bisa melihat aku tanpa kamu?

benarkah mataku layu?

apa aku juga bisu?

aku butuh kamu, bayanganku, proyeksi energi matahari

dalam cahaya aku berpendar, dan kamu tak pernah bisa berkoar.

kamu butuh cahaya, tapi kamu tetap seperti malam.

aku butuh kamu, untuk melihat bagaimana rupaku.

 

aku adalah aku.

bukan bayanganku.

 

Bulan Sabit

bulan sabit,

kamu bersinar merah, membasahi langit.

menelanjangi gelapnya malam berserak bintang.

apa kamu akan juga membuatku terang?

bintang kecil bawalah cahayamu padanya.

karena merah akan meramah..

menjamah aku yang terpesona.

buatku hilang hampa.

bulan sabit..

apakah kamu adalah sekumpulan keju?

yang memancing tikus mengais-ais udara untuk mencapaimu.

mencakar langit, menendang tanah.

apakah kamu semulus krim pengoles wajah?

bersahaja demi sedikit cinta.

atau sebenarnya kau tak mengerti apa yang kukata?

bulan sabit,

sampaikan salamku pada dia,

hanya dia.

bidadari pagi yang selalu menyapaku lembut di ujung malam.

bidadari malam yang selalu bertanya apa kabar di akhir siang.

yang aku berharap agar dia selalu kembali pulang.

bulan sabit,

kamu bersinar merah, membasahi langit.

menelanjangi gelapnya malam berserak bintang.

apa kamu akan juga membuatku terang?

Stephen King

Saat jalan-jalan di Pameran Buku Bandung di Landmark beberapa hari yang lalu, saya secara tidak sengaja terdampar di stand Penerbit Mizan yang banyak banget diskonnya. Saya penasaran, kok banyak orang yang beli buku kayak beli baju di great sale. Ada satu spot yang berisi banyak buku yang dimasukkan ke dalam satu wadah gitu, ga teratur. Karena ingin lihat buku apa saja yang dijual, saya pun ikut nyemplung ke dalam keramaian itu.

Wah, ternyata luar biasa! Banyak banget buku yang masih bagus, tapi dijual murah. Yaa, kisaran Rp 5.000 sampai Rp 30.000 lah. Saya pun keasyikan mencari buku apa saja yang masih bisa diselamatkan kantong saya. Dan akhirnya, saya melihat buku luar biasa itu. Sebuah buku kecil berlatar hitam (mirip dengan buku horror atau thriller) dan judulnya “STEPHEN KING on Writing”. Hmm, pantas saja bukunya kayak buku horror, penulisnya aja Stephen King, sang penulis cerita horror dan thriller yang kebanyakan bukunya jadi best seller. Saya pun lihat harganya dan WOW! Hanya lima belas ribu untuk buku sebagus itu.

Saya pun mulai menyelami kata demi kata yang disusun oleh master cerita horror itu. Penyampaian bahasanya sungguh bagus, setidaknya menurut saya. Walaupun saya baru membacanya sedikit, tapi saya sudah merasakan asyiknya menulis itu. POW! Jadi semangat untuk menyelsaikan cerita saya yang udah dibuat!

SEMANGAT!

Hey, mau tau siapa Stephen King? Ini dia…

Jauh sebelum novel horornya terbit, hidup Stephen King sungguh sengsara. Meski punya gelar sarjana sastra Inggris dari Universitas Maine di Orono, ia harus banting tulang untuk menghidupi keluarganya. Ia tercatat pernah bekerja di binatu, dan menjadi pelayan pompa bensin sebelum memperoleh penghasilan tetap sebagai guru bahasa di sebuah sekolah menengah umum.

Tapi, begitu Carrie, novel seram pertamanya terbit, semua berubah. Awalnya, novel itu cuma dibayar US$ 2.500 oleh William Thompson, penerbit pertamanya. Belakangan, Doubleday, penerbitan milik Thompson, berhasil menjual Carrie ke New American Library seharga US$ 400.000. Dan, perlahan, novel itu pun menimbulkan demam Stephen King di Amerika.

Carrie akhirnya terjual jutaan jilid, dan membuat Stephen King kaya raya.

Sutradara sekelas Brian De Palma pun tertarik memfilmkan Carrie. Pada 1976, film Carrie rampung digarap dengan bintang-bintang terkemuka, seperti Amy Irving, Nancy Allen, John Travolta, dan Sissy Spacek. Sukses Carrie seolah membenarkan ucapan Stephen King: horor itu kebutuhan biologis!

Setelah Carrie, puluhan novel seram Stephen King lainnya juga laku keras. Tak kurang dari 62 film dibuat berdasarkan naskah seramnya. Sebagian besar masuk daftar film terlaris, sementara sebagiannya lagi dipujikan sebagai film yang baik. Salem’s Lot, Cujo, The Dead Zone, Stand By Me adalah beberapa judul dari daftar panjang film dari karya King.

Tak cuma Stephen King yang berhasil membuktikan bahwa horor itu enak dan perlu. Penulis lain, Anne Rice, berhasil menjadi kaya dengan kisah Vampire Chronicle-nya. Cerita seram Anne Rice juga laris ketika dibuat film. Interview with Vampire dan Queen of the Damned adalah dua film laris yang didasarkan pada kisah seram Anne Rice.

Cerita seram memang jadi genre yang tak pernah lekang. Film-film horor pun selalu tercatat punya pasar besar. Sukses The Exorcist, misalnya, menjadi legenda tersendiri. Film ini berhasil meraup keuntungan senilai US$ 357.500.000, dan berada di urutan ke-69 dalam daftar film terlaris sepanjang masa versi Internet Movie Data Base dot com.

Kisah tentang Lankester Merril, pastor pengusir hantu, itu telah dibuat sekuelnya dua kali. Tahun ini, rencananya beredar film Exorcist: The Beginning, prekuel dari kisah Lankester Merril. Bahkan, menurut Michael W. Cuneo, penulis American Exorcism: Expelling Demons in the Land of Plenty, kisah The Exorcist merupakan awal maraknya industri exorcism di Amerika.

Selaku sosiolog, Cuneo juga mencatat bahwa pasca-The Exorcist, banyak gereja kini secara terbuka berani melangsungkan praktek pengusiran hantu. Selain The Exorcist, kisah hantu dan makhluk dunia lain juga memadati daftar film terlaris. The Sixth Sense, kisah hantu garapan M. Night Shyamalan, misalnya, tercatat sebagai film ke-14 terlaris sepanjang masa.

Film Ghosts ada di urutan ke-24, sementara The Mummy Returns dan The Mummy ada di urutan ke-44 dan ke-45. Barangkali juga cuma film horor yang bisa melahirkan fenomena seperti The Blair Witch Project, film indie paling laku sepanjang sejarah. Dengan biaya cuma US$ 30.000 –tak akan cukup untuk biaya katering film studio besar Hollywood– The Blair Witch Project bisa meraup keuntungan US$ 240,5 juta, dan ada di urutan ke-166 film terlaris sepanjang masa.

Film horor juga bukan hanya monopoli kultur Barat. Lewat film layar lebar Nang Nak pada 1999, misalnya, Nonzee Nimitbur berhasil mengungguli Titanic sebagai film dengan penjualan tiket terbanyak di Thailand. Padahal, sebelumnya perfilman Thailand sudah mati suri. Lewat adaptasi kisah yang telah difilmkan atau disinetronkan sebanyak 22 kali itu, Nonzee Nimitbur juga memperoleh reputasi sebagai sutradara film seni terkemuka kelas dunia.

Kisah horor Asia memang tak kalah kelas. Belakangan, studio besar Hollywood keranjingan membuat ulang film-film horor dari kawasan ini. Setelah membuat ulang The Ring, yang merupakan adaptasi Ringu, film horor laris Jepang, Hollywood tengah menggarap ulang The Eye. Hak cerita film horor Hong Kong itu dibeli perusahaan film milik Tom Cruise.

Selain dua film itu, dua film hantu Jepang lainnya, Kidnap dan Water Ghost Fable, juga tengah digarap ulang studio besar Hollywood. Sejak krisis keuangan menghantam kawasan Asia, film-film horor-hantu memang menjamur di seluruh kawasan ini. Tampaknya, sejarah berulang: setiap kali ada krisis besar, cerita horor muncul jadi “jalan keluar”.

Bukankah pada 1920-an dan 1930-an, chaos dan kolaps-nya perekonomian Jerman, yang kemudian memunculkan teror rezim Nazi, melahirkan gelombang film ekspresionis Jerman? Sementara, pada Great Deppresion di Amerika Serikat, Universal Studios memilih mengeluarkan monster seperti Frankestein dan Drakula untuk menghantui mimpi-mimpi rakyat Amerika.

Stephen Edwin King (lahir di Portland, Maine, Amerika Serikat, 21 September 1947; umur 62 tahun) adalah seorang penulis asal Amerika Serikat. Ia populer lewat novel-novel horor tulisannya. Kisah-kisah yang ia tulis sering melibatkan protagonis yang “biasa”, misalnya keluarga kelas menengah, seorang anak-anak, atau penulis. Selain kisah-kisah horor, King juga menulis cerita dalam genre lain, termasuk The Body dan Rita Hayworth and Shawshank Redemption (masing-masing diadaptasikan menjadi film layar lebar berjudul Stand By Me dan The Shawshank Redemption), serta The Green Mile dan Hearts in Atlantis. (fn/gt/wk) www.suaramedia.com

referensi : Stephen King by suaramedia

Renungan Malam

sudah pukul satu.
lalu kenapa? aku hanya tak bisa terlelap.
biarkan saja dengkur adikku yang tak kian meluntur.
atau jangkrik yang semakin malas untuk berbisik.
aku hanya masih ingin terjaga.
merasakan denyut malam, menghirup nafas alam.
tidak, ini bukan insomnia.
aku tidak biasa tidur larut.
aku hanya masih ingin terjaga.
menikmati kesunyian.

semenjak tadi pagi, sepi sudah merasuki.
lalu kenapa tidak sekalian saja sampai malam meninggi, menjadi terang lagi?
bertemu pagi lagi.
biar saja kacamata yang sudah melorot ingin dilepas.
atau lengan baju yang sudah digulung.
aku hanya masih ingin terjaga.
menunggu mata tak bisa lagi diajak kerjasama.
sudah sejak siang aku merasa rindu.
lalu kenapa tidak sekalian saja sampai pagi tak lagi menunggu?
bertemu matahari kembali.

tidak ada yang perlu ditakuti saat malam telah datang.
gelap tak akan membunuhmu.
aku tidak bernyanyi jangan takut akan gelap.
karena kadang aku merasa khawatir juga.
bukan akan gelapnya malam.
tapi gelapnya hati, membungkus diam-diam dari cahaya.
menutup rapat semua bagian.
terkunci.
terperangkap dalam pengap.
tak ada cahaya masuk, apalagi keluar.
hanya kegelapan, kekosongan, tidak ada keseimbangan.
ketiadaan dan pasti akan ada dahaga terhadap iman yang pergi entah kemana.
atau mungkin tidak ada?
merugilah saat hati telah terkunci.

kita mungkin terlalu lurus melihat ke depan.
sehingga yang tampak adalah sempitnya bumi oleh bangunan ciptaan kita.
tapi saat kita menatap langit, di sanalah terdapat lebih banyak.
lebih megah dan tertata dengan mewah.
anggun mempesona, menawan setiap jiwa,
menggoda untuk dijelajahi, menginjakkan kaki.

kita mungkin terlalu lurus melihat ke depan.
sehingga yang tampak adalah manusia, dan hewan, dan tumbuhan.
tapi saat mata memandang keeksotisan di bawah kita, di sanalah jeruji kehidupan juga ada.
teratur, terkondisikan, terstruktur.
setiap lapisan punya arti, peran, dan fungsi tanpa ada ketimpangan.
satu bagian bergeser, maka semua merasakan,
empati sosial itu benar-benar ada.
di sana, di lapisan tanah, di kedalaman lautan.

kita mungkin terlalu lurus melihat ke depan.
sehingga yang tampak adalah kegemilangan hari esok.
dibangun atas mimpi dan fantasi imajiner yang membutakan saat tak terbatasi.
tapi saat kita menengok ke belakang, tercerminlah diri kita.
kita siapa. kita apa. kita darimana. dan untuk apa.
setiap pertanyaan punya jawaban, dan silakan jawab sendiri.
mari bernostalgi, merenung, membaca masa lalu.
membuka setiap lembaran yang telah terlalui, diisi oleh tinta.
merah. biru. hitam. PUTIH.
pulpen, spidol, pena, arang.
apapun, dan tak bisa terulang.
kita bisa belajar banyak dari buku itu, tapi untuk mengulang, akan ada TIDAK yang besar.

kita mungkin terlalu lurus melihat ke depan.
sehingga yang tampak adalah ceriminan hati orang lain.
dihamparkan di atas padang fatamorgana, kekaguman, kebencian, dan cinta pada mereka.
pada orang tua, kekasih, guru, dan saudara.
mungkin juga pada idola.
sehingga mata kita tertutup untuk masuk ke dalam diri sendiri.
melihat betapa kotornya hati ini.
perlu dicuci dengan deterjen yang abadi.
yang harum, yang keharumannya sampai mati.
dicuci sampai bersih.
sebelum hati terkunci, tanpa cahaya, masuk atau keluar.

kita adalah manusia.
fitrah kita, memimpin.
khalifah di bumi-biru-bulat-penuh-air ini.
dan kita adalah insan.
yang pelupa.
tapi, lupa bukan alasan untuk tidak punya responsi.
untuk menjustifikasi, apa yang seharusnya tak dipertanyakan.

kita adalah manusia.
fitrah kita untuk menghamba.
pada Sang Pencipta. 

Sepeda

aku bertemu dengannya tepat seminggu lalu.
tergantung di sebuah toko, mengambang dalam udara.
aku mengambilnya, membawa pulang dengan tebusan.
dan si biru itu, menemaniku dalam sesaknya udara kota.
mengajakku berlari di bawah angin.
menertawakan ototku yang kejang karena mendaki kesunyian.
dan aku bersamanya.

suatu saat nanti, aku ingin berlari di Amerika.
menyeberang dari pantai timur ke barat.
aku ingin berperahu di Brazilia.
menantang arus Amazon yang menggoda.
aku ingin berkejaran dengan anak singa di daratan Afrika.
lalu kabur saat ibunya menyapa.
aku ingin menghadap rumah-Nya di Arabia,
tersungkur dalam sujud di padang Arafah.
juga berenang di laut Mediterania,
bertemu dengan kapal-kapal yang dulu sampai ke Indonesia.
lalu aku akan menjelajah di Turki.
mencari tahu tentang sebuah bahtera yang menggemparkan dunia.
menuju ke utara, sampailah aku di Yunani dan Italia.
melihat-lihat, bagaimana olimpiade pertama di Athena,
atau sekedar tahu bagaimana filsuf Yunani berpendapat.
Roma, menatap masa lalu, saat hewan diadu dengan manusia.
atau sebaliknya,
dan raja tertawa di tempat duduknya.
aku ingin ke Prancis.
naik ke sebuah menara.

tidak! tentu saja tidak dengan sepeda.
karena saat itu, seseorang telah bersamaku.
memegang tanganku saat aku telah lelah.
mendorong maju pundakku saat aku akan mundur.
menemaniku.

Melankolis

aku merajuk dalam melankolia.
atau yang biasa kusebut ke-autis-an romantika.
merenung dengan segala potensi ke dalam hati.
terpesona dalam berbagai pembenaran atas kesalahan
tertawa dengan ironi yang ada karena alasan dan pelampiasan..

aku bukan Shalahuddin al Ayyubi,
berlari, bertakbir, merebut Jerussalem
aku bukan Pangeran Diponegoro,
mengobarkan semangat jihad selama 5 tahun
aku hanyalah saya
dengan kesederhanaan dan kekayaan berpikir lewat pena.
setidaknya, selalu berusaha.

silakan kau tertawa dengan apa yang kau baca.
mungkin itu caramu mengapresiasi sastra.
tapi setidaknya, dengan ini aku bisa lebih berani mengamati
berani men-jastifikasi
berani menghormati
berani menyalahkan diri sendiri
berani mengkritisi

karena Umar bin Khattab pernah berkata,
“Ajarkanlah sastra pada anak-anakmu,
karena sastra membuat anak yang pengecut menjadi berani.”