Which one is your path, my brother? Maybe we will take a different path, but we are still going to that place, aren’t we?
I take mine. This is me. I’m going to be an explorer!
berjalan membelah tanah yang basah
beriring menyapu yang kering
kita pasti bisa
berjalan bersama
mendaki yang susah tercakupi
memanjat tebing tanpa terperanjat.
kita pasti bisa
terbang bersama
menyelam ke samudra yang kelam
dan kembali dengan senyum di hati
kita pasti bisa
menyeberangi benua
ada yang memerhatikan kita
ada yang membantu kita
mengusap air mata, mengokohkan bahu yang layu
mengangkat berat, melangkah melewati masalah
aku untukmu
kamu untukku
dan ada Yang MahaKuasa
untuk kita
dan kita untuk-Nya
aku bertemu dengannya tepat seminggu lalu.
tergantung di sebuah toko, mengambang dalam udara.
aku mengambilnya, membawa pulang dengan tebusan.
dan si biru itu, menemaniku dalam sesaknya udara kota.
mengajakku berlari di bawah angin.
menertawakan ototku yang kejang karena mendaki kesunyian.
dan aku bersamanya.
suatu saat nanti, aku ingin berlari di Amerika.
menyeberang dari pantai timur ke barat.
aku ingin berperahu di Brazilia.
menantang arus Amazon yang menggoda.
aku ingin berkejaran dengan anak singa di daratan Afrika.
lalu kabur saat ibunya menyapa.
aku ingin menghadap rumah-Nya di Arabia,
tersungkur dalam sujud di padang Arafah.
juga berenang di laut Mediterania,
bertemu dengan kapal-kapal yang dulu sampai ke Indonesia.
lalu aku akan menjelajah di Turki.
mencari tahu tentang sebuah bahtera yang menggemparkan dunia.
menuju ke utara, sampailah aku di Yunani dan Italia.
melihat-lihat, bagaimana olimpiade pertama di Athena,
atau sekedar tahu bagaimana filsuf Yunani berpendapat.
Roma, menatap masa lalu, saat hewan diadu dengan manusia.
atau sebaliknya,
dan raja tertawa di tempat duduknya.
aku ingin ke Prancis.
naik ke sebuah menara.
tidak! tentu saja tidak dengan sepeda.
karena saat itu, seseorang telah bersamaku.
memegang tanganku saat aku telah lelah.
mendorong maju pundakku saat aku akan mundur.
menemaniku.
ada yang memar, kagum banggaku malu membelenggu ada yang mekar, serupa benalu tak mau temanimu lekas, bangun tidur berkepanjangan menyatakan mimpimu cuci muka biar terlihat segar merapikan wajahmu masih ada cara menjadi besar ada yang runtuh, tamah ramahmu beda teraniaya ada yang tumbuh, iri dengkimu cinta pergi kemana? memudakan tuamu menjelma dan menjadi indonesia
Efek Rumah Kaca-Menjadi Indonesia
Indonesia adalah negeri penuh pesona. Negeri luas di Asia sebelah tenggara. Membentang dari Aceh di ujung barat sampai ke timur, bumi Papua. Silih mengisi ruang dari Sulawesi di utara, sampai selatan, Nusa Tenggara. Ada ratusan suku bangsa, dan juga bahasa unik mereka yang menjadi masing-masing tanda. Semua terasa bahagia dengan segala harmonisasi yang tercipta. Tidak ada perang antar suku, bentrokan antar ras, kebencian antar daerah, karena ini Indonesia, dengan kesederhanaan dan keramahannya yang selalu terjaga.

Hayu ah!!! Kita menjadi pemuda Indonesia yang bukan hanya sekedar pemuda FOLLOWER, tapi juga jadi INSPIRATOR buat yang lain.
Di depanku ada sebuah tembok menghadang
saat aku berjalan menuju puncak sebuah bukit
Temboknya begitu besar, panjang, dan menyeramkan
aku takut.
Bagaimana aku bisa melewatinya jika tidak membawa tangga?
Bagaimana aku bisa melewatinya jika tidak mempunyai sayap seperti garuda?
Aku coba kekuatan tangan, kaki, dan tekadku.
berpijak pada apa yang kuraba
meraih mencoba, menapak pada batu
Puncak bukit tertawa, dia menganggap usahaku sia-sia
dan terbukti ternyata, karena aku terjatuh juga.
Temboknya begitu besar, panjang, dan menyeramkan
aku takut.
Lalu aku berlari ke utara, mencoba stamina.
berharap tembok itu ada ujungnya.
menatap ke bawah, ke atas, ke udara..
Kerikil-kerikil tertawa, tak percaya pada napasku.
dan terbukti ternyata, karena aku lelah juga, sedang tembok tak ada akhirnya.
Temboknya begitu besar, panjang, dan menyeramkan
aku takut.
di tembok itu ada sebuah pahatan yang berkata,
“Aku adalah apa yang kau pikirkan.”
dan aku mencoba hal yang baru. kekuatan imajinasi.
kekuatan hati.
kubayangkan tembok itu hanya setinggi kurcaci.
sebatas lutut bayi.
atau kupikirkan aku punya sayap sendiri, terbang tinggi.
aku bisa menjadi apa saja,
karena aku memikirkannya.
ketakutan itu hanya di dalam diri, menjadi berani.
Tembok itu hanya sebatas lutut bayi.
Matahari mulai tergelincir.
Jingga, jingga dimana-mana. Suara burung berwarna-warni berkicau di sekitarku. Juga ada kupu-kupu, belalang, jangkrik, juga kumbang yang berdesing. Aku duduk di bawah pohon berbatang putih yang tumbuh jarang di tempat ini. Angin berhembus begitu lembut, menerbangkan rambut panjangku, juga membasuh debu di wajahku. Tidak! Ini bukan mimpi yang terlampau indah. Secangkir teh panas di tanganku saja masih mengepulkan uapnya, dan aku pelan-pelan meminumnya, tidak mau kehilangan momen indah ini. Langit yang masih terang, jingga matahari, dan bulan pucat yang muncul di langit timur menunjukkan bahwa hari sudah tua.
Di hadapanku padang hijau tersaji. Membentang dari utara ke selatan, hingga garis batas cakrawala yang tak bisa kupandang karena silau matahari. Sebuah jalan setapak membelah padang hijau itu, tepat dari depanku, lalu berkelok-kelok anggun, entah menuju kemana. Aku duduk di sebuah gundukan, bukit kecil, jadi bisa kulihat dengan jelas daratan hijau ini. Sekelompok rusa bertotol putih sedang berlarian, bersuka hati menyantap makan malam mereka. Tak jauh dari komplotan rusa itu, ada sebuah sungai – tak terlalu lebar – yang airnya mengalir ke arah barat laut.
Tempat ini sungguh menakjubkan. Aku tak mau pergi dari tempat ini. Masih banyak keindahan yang susah untuk kuungkapkan dengan coretan kata, Kawan. Jika kau mau ikut bersamaku, masuklah ke dalam pikiranku, karena tempat ini hanya sebuah khayalan, tetapi kuharapkan ada di bumi ini.
Dan kunamakan padang ini, SORE.
Bismillah..
Assalamu’alaikum…
Hmm, ga kerasa udah lama banget saya ga posting. Hey, ini posting kedua saya..Baru yang kedua ternyata. Okay, gapapa, let it flow, and wind will blow…(apa sih???)
Postingan saya kali ini akan saya awali dengan sebuah syair lagu. Lagu ini ciptaannya Morning Blue, judulnya I Don’t Care. Mmh, pasti pada ga apal. Band ini emang band indie sih, juara L.A Lights Indie Fest taun berapaaa gitu, lupa saya. Gini liriknya…
kan kuukir dunia, dengan mimpi yang kupunya
tak akan ada yang mampu dan memandang ragu
‘coz i don’t care, and i don’t care
i don’t care anyway…
kuatkan langkahku dan berjalan semampuku
biarkanlah waktu yang bicara
dan buktikan semua…
Gitulah kira-kira.. Walaupun sederhana, buat saya yang kemaren2 sempet kehilangan arah dan tujuan kuliah di ITB, lirik ini sedikit banyak menyemangati saya buat terus menguatkan langkah semampu saya, bukan semau saya. Beda dua huruf, mau dan mampu, tapi hasil resultan gaya yang ditimbulkannya akan berbeda sangat jauh.
Ngomong2 tentang kehilangan arah (ga selebay itu sebenernya) yang sempet saya alami beberapa saat lalu, saya jadi ingin mengenangnya lagi. Ceritanya gini…
(tak sempat saya ceritakan,lain kali..mungkin–hhehe.red:penyadap)