SOI, Butuh Inovasi

BANDUNG, yoancosmos.wordpress.com – Tahun 1996, beberapa negara Asia mendirikan sebuah terobosan baru dalam bidang jaringan internet yang menggunakan teknologi satelit, yaitu Asian Internet Infrastructure Insisiative. Adanya jaringan internet dengan teknologi satelit tersebut, Keio University di Jepang menginisiasikan adanya sistem pendidikan jarak jauh atau distance learning. Berdirilah School on Internet (SOI) di tahun yang sama. Dengan SOI, perguruan-perguruan tinggi di Asia dapat saling berbagi ilmu dengan metode kuliah umum bersama melalui internet.

Program-program kuliah yang dilaksanakan SOI dilakukan melalui media internet. Pengajarannya dilakukan melalui semacam video conference yang bersifat dua arah, sehingga mahasiswa yang mendengarkan perkuliahan juga dapat bertanya kepada dosen atau pengajar. Biasanya, kuliah di SOI berbahasa Inggris.

Indonesia, khususnya ITB, bergabung dengan jaringan SOI di tahun 2003. Metode kuliah umum melalui video conference dengan berbagai perguruan tinggi di Asia memudahkan mahasiswa ITB untuk berinteraksi dengan mahasiswa luar negeri. Berbagai topik kuliah umum tentang teknologi menarik minat mahasiswa ITB. Selain itu, ada juga kuliah yang tidak berkaitan dengan teknologi, seperti bencana alam, perikanan, dan entrepreneurship. Kuliah umum seperti ini dapat meningkatkan wawasan mahasiswa.

Kuliah umum yang diadakan SOI ITB biasanya tiga bulan sekali. Untuk mengikuti kuliah SOI, mahasiswa harus mendaftar terlebih dahulu. SOI akan mempublikasikan perkuliahan yang akan diadakan. “Untuk topik-topik yang berkaitan dengan teknologi, mahasiswa yang mendaftar untuk mengikuti kuliah cukup banyak. Jika topik kuliahnya seperti perikanan atau bencana alam, mahasiswa yang mendaftar biasanya lebih sedikit,” kata Pak Basuki, Penanggung Jawab SOI ITB.

Selain mengadakan kuliah umum, SOI ITB juga mengadakan program bagi mahasiswa yang ingin magang di SOI ITB. Mahasiswa yang magang di SOI dapat belajar mengenai teknologi komunikasi internet seperti multicast yang masih jarang digunakan oleh masyarakat umum. Selain itu, para magangers juga bisa mendapat kesempatan untuk kuliah singkat ke Keio University, bersaing dengan mahasiswa di perguruan tinggi lain. “Tahun ini, seorang mahasiswa ITB berhasil mendapatkan beasiswa itu,” lanjut Pak Basuki.

Seiring dengan berjalannya waktu, Universitas Brawijaya Malang, Universitas Hasanuddin Makassar, dan Universitas Sam Ratulangi Manado mendaftarkan diri menjadi bagian dari SOI. Tahun 2005, Universitas Syah Kuala Banda Aceh juga masuk sebagai anggota. Jaringan SOI yang semakin luas membuat topik perkuliahan juga semakin luas dan tidak terbatas pada topik teknologi.

Kendala

Kendala yang timbul adalah susahnya menemukan kecocokan jadwal antara berbagai perguruan tinggi di seluruh Asia. Selain itu, topik yang diangkat menjadi suatu kuliah umum terkadang tidak menarik bagi mahasiswa, seperti kuliah perikanan. Bagi mahasiswa ITB yang sehari-harinya berkecimpung di dunia teknologi, topik seperti itu mungkin tidak akan menarik perhatian.

“Saat ini, untuk mendapatkan informasi sangat mudah. Di situs-situs seperti Youtube, orang dapat dengan mudah menemukan berbagai video tutorial. Mungkin itulah yang menyebabkan pamor SOI di mata mahasiswa sebagai penyedia pendidikan murah lewat internet menjadi turun,” kata Pak Basuki.

Selain itu, untuk mengadakan kuliah lewat internet, dibutuhkan fasilitas penunjang yang memadai. Di Keio University atau universitas lain di luar negeri yang memiliki banyak dana, fasilitas seperti itu mungkin mudah untuk didapatkan. Namun, SOI ITB belum dapat menyediakan fasilitas canggih seperti itu sehingga kuliah lewat internet diadakan tidak terlalu canggih.

“Untuk mengembalikan citra SOI di mata mahasiswa, SOI membutuhkan inovasi. Tentu saja inovasi tersebut masih dalam lingkup pendidikan. Itulah yang saat ini sedang diupayakan oleh kami,” lanjut Pak Basuki.

Mari kita tunggu perkembangan inovasi apa yang akan diciptakan SOI untuk menunjang pendidikan di dunia, khususnya Indonesia.

Stephen King

Saat jalan-jalan di Pameran Buku Bandung di Landmark beberapa hari yang lalu, saya secara tidak sengaja terdampar di stand Penerbit Mizan yang banyak banget diskonnya. Saya penasaran, kok banyak orang yang beli buku kayak beli baju di great sale. Ada satu spot yang berisi banyak buku yang dimasukkan ke dalam satu wadah gitu, ga teratur. Karena ingin lihat buku apa saja yang dijual, saya pun ikut nyemplung ke dalam keramaian itu.

Wah, ternyata luar biasa! Banyak banget buku yang masih bagus, tapi dijual murah. Yaa, kisaran Rp 5.000 sampai Rp 30.000 lah. Saya pun keasyikan mencari buku apa saja yang masih bisa diselamatkan kantong saya. Dan akhirnya, saya melihat buku luar biasa itu. Sebuah buku kecil berlatar hitam (mirip dengan buku horror atau thriller) dan judulnya “STEPHEN KING on Writing”. Hmm, pantas saja bukunya kayak buku horror, penulisnya aja Stephen King, sang penulis cerita horror dan thriller yang kebanyakan bukunya jadi best seller. Saya pun lihat harganya dan WOW! Hanya lima belas ribu untuk buku sebagus itu.

Saya pun mulai menyelami kata demi kata yang disusun oleh master cerita horror itu. Penyampaian bahasanya sungguh bagus, setidaknya menurut saya. Walaupun saya baru membacanya sedikit, tapi saya sudah merasakan asyiknya menulis itu. POW! Jadi semangat untuk menyelsaikan cerita saya yang udah dibuat!

SEMANGAT!

Hey, mau tau siapa Stephen King? Ini dia…

Jauh sebelum novel horornya terbit, hidup Stephen King sungguh sengsara. Meski punya gelar sarjana sastra Inggris dari Universitas Maine di Orono, ia harus banting tulang untuk menghidupi keluarganya. Ia tercatat pernah bekerja di binatu, dan menjadi pelayan pompa bensin sebelum memperoleh penghasilan tetap sebagai guru bahasa di sebuah sekolah menengah umum.

Tapi, begitu Carrie, novel seram pertamanya terbit, semua berubah. Awalnya, novel itu cuma dibayar US$ 2.500 oleh William Thompson, penerbit pertamanya. Belakangan, Doubleday, penerbitan milik Thompson, berhasil menjual Carrie ke New American Library seharga US$ 400.000. Dan, perlahan, novel itu pun menimbulkan demam Stephen King di Amerika.

Carrie akhirnya terjual jutaan jilid, dan membuat Stephen King kaya raya.

Sutradara sekelas Brian De Palma pun tertarik memfilmkan Carrie. Pada 1976, film Carrie rampung digarap dengan bintang-bintang terkemuka, seperti Amy Irving, Nancy Allen, John Travolta, dan Sissy Spacek. Sukses Carrie seolah membenarkan ucapan Stephen King: horor itu kebutuhan biologis!

Setelah Carrie, puluhan novel seram Stephen King lainnya juga laku keras. Tak kurang dari 62 film dibuat berdasarkan naskah seramnya. Sebagian besar masuk daftar film terlaris, sementara sebagiannya lagi dipujikan sebagai film yang baik. Salem’s Lot, Cujo, The Dead Zone, Stand By Me adalah beberapa judul dari daftar panjang film dari karya King.

Tak cuma Stephen King yang berhasil membuktikan bahwa horor itu enak dan perlu. Penulis lain, Anne Rice, berhasil menjadi kaya dengan kisah Vampire Chronicle-nya. Cerita seram Anne Rice juga laris ketika dibuat film. Interview with Vampire dan Queen of the Damned adalah dua film laris yang didasarkan pada kisah seram Anne Rice.

Cerita seram memang jadi genre yang tak pernah lekang. Film-film horor pun selalu tercatat punya pasar besar. Sukses The Exorcist, misalnya, menjadi legenda tersendiri. Film ini berhasil meraup keuntungan senilai US$ 357.500.000, dan berada di urutan ke-69 dalam daftar film terlaris sepanjang masa versi Internet Movie Data Base dot com.

Kisah tentang Lankester Merril, pastor pengusir hantu, itu telah dibuat sekuelnya dua kali. Tahun ini, rencananya beredar film Exorcist: The Beginning, prekuel dari kisah Lankester Merril. Bahkan, menurut Michael W. Cuneo, penulis American Exorcism: Expelling Demons in the Land of Plenty, kisah The Exorcist merupakan awal maraknya industri exorcism di Amerika.

Selaku sosiolog, Cuneo juga mencatat bahwa pasca-The Exorcist, banyak gereja kini secara terbuka berani melangsungkan praktek pengusiran hantu. Selain The Exorcist, kisah hantu dan makhluk dunia lain juga memadati daftar film terlaris. The Sixth Sense, kisah hantu garapan M. Night Shyamalan, misalnya, tercatat sebagai film ke-14 terlaris sepanjang masa.

Film Ghosts ada di urutan ke-24, sementara The Mummy Returns dan The Mummy ada di urutan ke-44 dan ke-45. Barangkali juga cuma film horor yang bisa melahirkan fenomena seperti The Blair Witch Project, film indie paling laku sepanjang sejarah. Dengan biaya cuma US$ 30.000 –tak akan cukup untuk biaya katering film studio besar Hollywood– The Blair Witch Project bisa meraup keuntungan US$ 240,5 juta, dan ada di urutan ke-166 film terlaris sepanjang masa.

Film horor juga bukan hanya monopoli kultur Barat. Lewat film layar lebar Nang Nak pada 1999, misalnya, Nonzee Nimitbur berhasil mengungguli Titanic sebagai film dengan penjualan tiket terbanyak di Thailand. Padahal, sebelumnya perfilman Thailand sudah mati suri. Lewat adaptasi kisah yang telah difilmkan atau disinetronkan sebanyak 22 kali itu, Nonzee Nimitbur juga memperoleh reputasi sebagai sutradara film seni terkemuka kelas dunia.

Kisah horor Asia memang tak kalah kelas. Belakangan, studio besar Hollywood keranjingan membuat ulang film-film horor dari kawasan ini. Setelah membuat ulang The Ring, yang merupakan adaptasi Ringu, film horor laris Jepang, Hollywood tengah menggarap ulang The Eye. Hak cerita film horor Hong Kong itu dibeli perusahaan film milik Tom Cruise.

Selain dua film itu, dua film hantu Jepang lainnya, Kidnap dan Water Ghost Fable, juga tengah digarap ulang studio besar Hollywood. Sejak krisis keuangan menghantam kawasan Asia, film-film horor-hantu memang menjamur di seluruh kawasan ini. Tampaknya, sejarah berulang: setiap kali ada krisis besar, cerita horor muncul jadi “jalan keluar”.

Bukankah pada 1920-an dan 1930-an, chaos dan kolaps-nya perekonomian Jerman, yang kemudian memunculkan teror rezim Nazi, melahirkan gelombang film ekspresionis Jerman? Sementara, pada Great Deppresion di Amerika Serikat, Universal Studios memilih mengeluarkan monster seperti Frankestein dan Drakula untuk menghantui mimpi-mimpi rakyat Amerika.

Stephen Edwin King (lahir di Portland, Maine, Amerika Serikat, 21 September 1947; umur 62 tahun) adalah seorang penulis asal Amerika Serikat. Ia populer lewat novel-novel horor tulisannya. Kisah-kisah yang ia tulis sering melibatkan protagonis yang “biasa”, misalnya keluarga kelas menengah, seorang anak-anak, atau penulis. Selain kisah-kisah horor, King juga menulis cerita dalam genre lain, termasuk The Body dan Rita Hayworth and Shawshank Redemption (masing-masing diadaptasikan menjadi film layar lebar berjudul Stand By Me dan The Shawshank Redemption), serta The Green Mile dan Hearts in Atlantis. (fn/gt/wk) www.suaramedia.com

referensi : Stephen King by suaramedia