“Maneh jurusan naon euy?” tanya temen-temen seangkatan di ITB akhir-akhir ini kalau kebetulan ketemu di jalan. Saya juga tidak lupa menanyakan hal yang sama. Beragam ekspresi yang saya lihat saat mereka menjawab pertanyaan itu. Ada yang senyum sambil mengucap alhamdulillah, ada yang langsung murung, ada yang lempeng, bahkan ada yang langsung bilang, “Iya deeh, yang Teknik Perminyakan…”
Lho, memang kenapa dengan Teknik Perminyakan? Saya rasa, sama aja dengan jurusan lain, ga perlu dibeda-bedain. Bahkan, saya merasa sangat biasa saja masuk di jurusan ini. TIDAK, saya tidak merasa sombong, kawan (maaf apabila ada yang tersindir atau ga suka dengan tulisan ini). Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa masuk jurusan ini mudah. Saya pun harus berjuang keras untuk masuk ke Perminyakan. Dan, saya sangat bersyukur, tentu saja. Tidak terlintas di pikiran saya untuk kufur nikmat atas anugrah dan jalan hidup yang telah Allah tetapkan untuk saya. Saya sadar, banyak temen-temen saya yang kecewa karena terlempar ke jurusan lain (yakinlah kawan, itu jalan yang Allah udah tetapkan untuk kita semua).
Entah apa yang menyebabkan saya merasa biasa saja setelah mengetahui hasil penjurusan. Mungkin, karena keinginan saya untuk masuk jurusan ini tidak sebesar yang lain. Lalu, bagaimana dengan jurusan yang lain? Apakah saya ingin masuk Metalurgi, Geofisika, atau Tambang? Entah, saya juga tidak tahu.
Saya sebenarnya tertarik dengan segala hal yang berbau lingkungan dan biologi. Tapi, orang tua saya tidak mengijinkan saya masuk ke Biologi, dengan alasan yang menurut saya ‘kolot’. Hmm, silakan tebak sendiri saja alasannya.
Yah, Teknik Perminyakan. Di sana saya akan belajar nanti untuk (insya Allah) 3 tahun ke depan. Saya yakin, saya tidak tersesat, karena Allah, Sang Maha Agung yang telah memilihkan jalan ini untuk saya. Bagaimana mungkin saya tersesat kalau petunjuk saya adalah Sang Maha Melihat? Apa pun yang terjadi, saya akan terus berikhtiar, berjuang semampu saya, dan berdoa setiap saat. Selalu terngiang sebuah quote yang saya dapatkan setahun lalu di sebuah pelatihan luar biasa.
“Seindah-indahnya rencana yang telah saya buat, walau diukir di atas batu yang paling bagus sekalipun, masih jauuuuuhhh lebih indah rencana yang Allah kasih untuk saya.”