Masa kecil. Setiap orang akan berbeda-beda dalam mengingat masa kecilnya. Ada yang sangat bahagia, ada yang tertawa, ada yang mengernyitkan dahinya, ada yang langsung menangis, ada yang hanya tersenyum penuh misteri, bahkan ada juga yang langsung pergi, tak mau lagi meneruskan pembicaraan tentang hal itu. Masa kecil adalah kenangan. Kenangan yang tak akan terlupakan kecuali oleh orang yang amnesia, yang tak lagi bisa mengingat tentang hari kemarin, apalagi bertahun-tahun ke belakang.
Yang terlintas dalam benak saya saat mengingat masa kecil adalah : teriak dan tangis saat bermain, baju yang kotor saat mandi lumpur, badan yang basah saat berlari menembus hujan, senyum saat mendapat teman baru, gundah saat bermusuhan, dan tawa puas saat berhasil membuat orang tua dan tetangga jengkel. Akan tetapi, tidak semuanya menjadi bagian masa kecil saya.
Pulang sekolah, lapangan adalah tempat yang sangat menarik untuk dituju. Semua aktivitas bisa dilakukan di sana. Ya, tentu saja dengan teman sebaya yang, entah mengapa, bisa menjadi lebih menarik daripada televisi atau video game. Di sana, di lapangan voli kecil itu, anak-anak bermain bola, berlari-lari riang sampai sore menjelang. Esok harinya, di waktu yang sama, akan ada permainan baru lagi yang lebih menarik dari sebelumnya. Bermain sepeda, lempar bola, petak umpet, mengganggu teman yang lain, melempar genteng rumah orang dengan kerikil, dan memanjat pohon jambu semua tampak sangat biasa bagi kita, orang yang sudah tak merasakan nikmatnya masa kecil. Jangan bohongi diri bahwa kadang kita ingin kembali ke masa itu. Tapi, lihat Kawan, Bunda telah memanggil kita, dan usia sudah menuju senja.

Ingin rasanya kembali ke masa itu. Pulang ke rumah dan meneriakkan salam, berganti baju dan makan siang, lalu tak sabar menanti waktu menunjukkan pukul tiga. Saat lonceng berbunyi, kaki kecil ini melompat semangat, membanting pintu di belakang, dan berlari ke lapangan itu. Di sana, sekitar sepuluh orang sudah menanti dan menyambut, tertawa saat melihat baju yang dipakai itu-itu lagi. Lalu, permainan dimulai, bola disimpan di tengah lapangan, dan tanpa ada peluit, permainan bergulir. Semua berlari ke sana kemari, berebut bola usang yang sudah terlalu lama dipakai. Gol demi gol pun tercipta, tawa dan keringat silih melaju, sehingga sangat sulit dibedakan yang mana yang menang. Tak terhitung lagi gol yang dibuat. Akan tetapi, bukan itu inti permainan ini. Bukan untuk mencari pemenang, bukan untuk mencari yang terhebat, hanya untuk tertawa bersama. Sesuatu yang akan sulit kita temukan saat usia tak lagi satu angka. Sulit mencari kebersamaan itu.
Sehari yang melayang, tapi akan selalu terkenang.
Seperti siput yang berjalan, perlahan tapi pasti sampai tujuan, waktu yang menemani masa kecil juga terus berjalan. Anak-anak itu berubah menjadi dewasa, seperti saya. Generasi baru muncul, tetapi tak akan sama. Lapangan yang dulu hanya beralaskan tanah coklat sejuk, sekarang diganti oleh blok-blok beton. Kaki yang dulu bebas menginjak, sekarang harus anggun tertutup getah sintetis kayu yang menyamar menjadi sepatu. Lumpur yang dulu asyik untuk diajak bercanda, sekarang pindah ke kota, menjadi bencana. Hujan yang dulu bisa menemani, sekarang seolah menyakiti. Keinginan untuk menjadi sederhana terhapuskan oleh keinginan untuk memperkaya. Kebersamaan diganti oleh layar-layar digital, membuat mereka terpaku berjam-jam hanya untuk menonton film kriminal dan bermain game yang membutakan. Senyum jahil bisa saja berubah menjadi seringai. Lalu, apa yang bisa anak-anak kecil sekarang pelajari tentang kehidupan? Apakah dengan lagu-lagu cinta yang menipu? Apakah dengan syair-syair gombal yang memperdaya? Apakah hanya dengan soal matematika dan fisika? Tidak, lebih dari itu yang mereka butuhkan. Ilmu tentang mencintai sesama, tentang kehidupan, tentang gejala alam, yang diwariskan dari generasi ke generasi oleh tanah tempat kita berpijaklah yang mereka butuhkan. Alami, batural bukan buatan.
Masa kecil harusnya mengalir, tidak bisu seperti film yang belum diberi efek suara. Nakal, tapi mencoba. Berteriak serak, tapi harmonis. Berkicau penuh tawa, agar saat dewasa, mereka mengerti untuk mencintai sesama. Bermain dan ceria seperti semilir angin di padang rumput atau ailiran air, berkecipak, jernih dan saling mengejar, berirama. Masa kanak-kanak tidak seharusnya tercekik oleh pelajaran-pelajaran les yang sungguh tidak menggairahkan. Terkotak-kotak dan terkerangkeng oleh kacamata Ayah dan Ibu yang tidak toleran akan satu angka merah dalam laporan akhir semester.
Sungguh menyesal orang-orang yang masa kecilnya ditelan ketidakbebasan, dilahap oleh kemarahan orang tua. Biarkan jiwa-jiwa kecil itu tumbuh, mekar dan berkembang alami, dengan pantauan yang tidak berlebihan. Tidak dengan makia dan asupan gizi lagu-lagu dewasa. Masa kecil yang berkesan, yang menarik, yang menghangatkan, akan membentuk jiwa-jiwa emas.