Old Child (judul asli : Budak Baheula)

Lagu::

Yeuh aya digigireun
Hey nu gelo ulah gandeng nde bobo
Insya allah enjing2 bade ngiring
Jeung ibuna naek kuda di ganesha

Yeuh ieu anak saya
Kasep bageur soleh nurun ti bapana
Gaduh kaos kaki seueur warna warni
Topi rompi bade meser tanggal hiji

Sing luhur sakola
Elehkeun si bapa
Bagikeun elmuna
Anu sombong moal boga babaturan

Yeuh tingal diri kami
Langkung bagja ti kaluarga cemara
Artos seueur tapina moal bebeja
Kami sieun bilih dipaok tatangga

Yeuh hayu geura gede
Indonesia geus direbut kelong wewe
Lamun maneh cicing wae teu kabere
Mun teu kabere mendingan cicing wae

Upami si bapa
Ngan nyieun kaera
Mun kitu hampura
Bapa mah maklum budak baheula

—panas dalam

Lagi ga ada inspirasi..jadi bedah lirik aja ah…

Tadi lagi ngomongin masa muda waktu les di Edulab sama temen, dan terasa nostalgia…inget kalo dulu pas di edulab kang Acung (ex guru matematika Edulab) sering banget dengerin lagu The Panas Dalam, band humor asal bandung yang kuliahnya di Seni Rupa ITB. Dengerin lagu2 Panas Dalam emang bikin ketawa, tapi liriknya tetep sarat makna. Banyaknya kritik2 thd kehidupan sosial (walaupun sebenernya harus ditelaah dan dipikirin lebih jauh lagi..hhe..:p)

Nah, lagu yang satu ini judulnya Budak Baheula. Buat yang ga ngerti bahasa Sunda, let me translate to Indonesia..

Nih ada di samping,,
Hey orang gila jangan berisik, mau bobo
Insya allah pagi2 mau ikut
Sama mamah naek kuda di ganesha
Nih ini anak saya
Cakep, baik, soleh, turunan bapanya
Punyakaos kaki banyak warna warni
Topi rompi mau beli tanggal satu
Sekolah yang tinggi..
Kalahin si bapa
Bagiin ilmunya
Yang sombong ga akan punya temen
Nih liat diri kami
Lebih bahagia dari keluarga cemara
Banyak duit tapi ga akan bilang siapa2
Takut diambil sama tetangga
Ayo cepet gede
Indonesia udah direbut kelong wewe
Kalo diem aja ga akan kebagian
Kalo ga kebagian mending diem aja
Kalo si bapa
Cuma bikin malu
Mohon dimaapin
Maklum bapa mah anak zaman dulu..

Hmm, menurut intelejensia saya, lagu ini bagusnya, nyeritain tentang masa kecil kita… Mamah yang ngedoain kita.. Pokoknya kasih sayang orang tua lah..Oia, ga boleh jadi orang yang sombong juga.. Itu kata mamah,.harus berbagi ke sesama manusia..

Makanya, kita harus berbakti sama orang tua..

Mungkin itu pesen dari lagu ini…hhaha..geje saya..

Masa Kecil

Masa kecil. Setiap orang akan berbeda-beda dalam mengingat masa kecilnya. Ada yang sangat bahagia, ada yang tertawa, ada yang mengernyitkan dahinya, ada yang langsung menangis, ada yang hanya tersenyum penuh misteri, bahkan ada juga yang langsung pergi, tak mau lagi meneruskan pembicaraan tentang hal itu. Masa kecil adalah kenangan. Kenangan yang tak akan terlupakan kecuali oleh orang yang amnesia, yang tak lagi bisa mengingat tentang hari kemarin, apalagi bertahun-tahun ke belakang.

Yang terlintas dalam benak saya saat mengingat masa kecil adalah : teriak dan tangis saat bermain, baju yang kotor saat mandi lumpur, badan yang basah saat berlari menembus hujan, senyum saat mendapat teman baru, gundah saat bermusuhan, dan tawa puas saat berhasil membuat orang tua dan tetangga jengkel. Akan tetapi, tidak semuanya menjadi bagian masa kecil saya.

Pulang sekolah, lapangan adalah tempat yang sangat menarik untuk dituju. Semua aktivitas bisa dilakukan di sana. Ya, tentu saja dengan teman sebaya yang, entah mengapa, bisa menjadi lebih menarik daripada televisi atau video game. Di sana, di lapangan voli kecil itu, anak-anak bermain bola, berlari-lari riang sampai sore menjelang. Esok harinya, di waktu yang sama, akan ada permainan baru lagi yang lebih menarik dari sebelumnya. Bermain sepeda, lempar bola, petak umpet, mengganggu teman yang lain, melempar genteng rumah orang dengan kerikil, dan memanjat pohon jambu semua tampak sangat biasa bagi kita, orang yang sudah tak merasakan nikmatnya masa kecil. Jangan bohongi diri bahwa kadang kita ingin kembali ke masa itu. Tapi, lihat Kawan, Bunda telah memanggil kita, dan usia sudah menuju senja.

sweetchildmemories

Ingin rasanya kembali ke masa itu. Pulang ke rumah dan meneriakkan salam, berganti baju dan makan siang, lalu tak sabar menanti waktu menunjukkan pukul tiga. Saat lonceng berbunyi, kaki kecil ini melompat semangat, membanting pintu di belakang, dan berlari ke lapangan itu. Di sana, sekitar sepuluh orang sudah menanti dan menyambut, tertawa saat melihat baju yang dipakai itu-itu lagi. Lalu, permainan dimulai, bola disimpan di tengah lapangan, dan tanpa ada peluit, permainan bergulir. Semua berlari ke sana kemari, berebut bola usang yang sudah terlalu lama dipakai. Gol demi gol pun tercipta, tawa dan keringat silih melaju, sehingga sangat sulit dibedakan yang mana yang menang. Tak terhitung lagi gol yang dibuat. Akan tetapi, bukan itu inti permainan ini. Bukan untuk mencari pemenang, bukan untuk mencari yang terhebat, hanya untuk tertawa bersama. Sesuatu yang akan sulit kita temukan saat usia tak lagi satu angka. Sulit mencari kebersamaan itu.

Sehari yang melayang, tapi akan selalu terkenang.

Seperti siput yang berjalan, perlahan tapi pasti sampai tujuan, waktu yang menemani masa kecil juga terus berjalan. Anak-anak itu berubah menjadi dewasa, seperti saya. Generasi baru muncul, tetapi tak akan sama. Lapangan yang dulu hanya beralaskan tanah coklat sejuk, sekarang diganti oleh blok-blok beton. Kaki yang dulu bebas menginjak, sekarang harus anggun tertutup getah sintetis kayu yang menyamar menjadi sepatu. Lumpur yang dulu asyik untuk diajak bercanda, sekarang pindah ke kota, menjadi bencana. Hujan yang dulu bisa menemani, sekarang seolah menyakiti. Keinginan untuk menjadi sederhana terhapuskan oleh keinginan untuk memperkaya. Kebersamaan diganti oleh layar-layar digital, membuat mereka terpaku berjam-jam hanya untuk menonton film kriminal dan bermain game yang membutakan. Senyum jahil bisa saja berubah menjadi seringai. Lalu, apa yang bisa anak-anak kecil sekarang pelajari tentang kehidupan? Apakah dengan lagu-lagu cinta yang menipu? Apakah dengan syair-syair gombal yang memperdaya? Apakah hanya dengan soal matematika dan fisika? Tidak, lebih dari itu yang mereka butuhkan. Ilmu tentang mencintai sesama, tentang kehidupan, tentang gejala alam, yang diwariskan dari generasi ke generasi oleh tanah tempat kita berpijaklah yang mereka butuhkan. Alami, batural bukan buatan.

Masa kecil harusnya mengalir, tidak bisu seperti film yang belum diberi efek suara. Nakal, tapi mencoba. Berteriak serak, tapi harmonis. Berkicau penuh tawa, agar saat dewasa, mereka mengerti untuk mencintai sesama. Bermain dan ceria seperti semilir angin di padang rumput atau ailiran air, berkecipak, jernih dan saling mengejar, berirama. Masa kanak-kanak tidak seharusnya tercekik oleh pelajaran-pelajaran les yang sungguh tidak menggairahkan. Terkotak-kotak dan terkerangkeng oleh kacamata Ayah dan Ibu yang tidak toleran akan satu angka merah dalam laporan akhir semester.

Sungguh menyesal orang-orang yang masa kecilnya ditelan ketidakbebasan, dilahap oleh kemarahan orang tua. Biarkan jiwa-jiwa kecil itu tumbuh, mekar dan berkembang alami, dengan pantauan yang tidak berlebihan. Tidak dengan makia dan asupan gizi lagu-lagu dewasa. Masa kecil yang berkesan, yang menarik, yang menghangatkan, akan membentuk jiwa-jiwa emas.