Maluku

dua belas jam lagi kamu akan sampai di kepulauan Pattimura,

sampaikan salamku padanya,

katakan bahwa sekarang Indonesia telah merdeka,

tapi mungkin dia tak akan terlalu bersuka

karena kita belum sepenuhnya.

adakah kamu tahu kejayaan bangsa mereka dulu?

saat Ternate dan Tidore bersekutu, menjajah kapal-kapal perang Eropa.

dan berkata kapten kapal Ternate,

“Ini negeriku, tak tahu malu kalau kau mencabik rakyatku!”

dan sang Eropa gentar, hingga ke Selatan mereka berlayar.

kini kamu akan ke sana.

sampaikan salamku pada birunya lautan kita.

aku akan menyusulmu,

tidak, aku akan menunggu, dan nanti pergi bersamamu,

ke negeri yang pernah menjelajahi Maluku.

Stephen King

Saat jalan-jalan di Pameran Buku Bandung di Landmark beberapa hari yang lalu, saya secara tidak sengaja terdampar di stand Penerbit Mizan yang banyak banget diskonnya. Saya penasaran, kok banyak orang yang beli buku kayak beli baju di great sale. Ada satu spot yang berisi banyak buku yang dimasukkan ke dalam satu wadah gitu, ga teratur. Karena ingin lihat buku apa saja yang dijual, saya pun ikut nyemplung ke dalam keramaian itu.

Wah, ternyata luar biasa! Banyak banget buku yang masih bagus, tapi dijual murah. Yaa, kisaran Rp 5.000 sampai Rp 30.000 lah. Saya pun keasyikan mencari buku apa saja yang masih bisa diselamatkan kantong saya. Dan akhirnya, saya melihat buku luar biasa itu. Sebuah buku kecil berlatar hitam (mirip dengan buku horror atau thriller) dan judulnya “STEPHEN KING on Writing”. Hmm, pantas saja bukunya kayak buku horror, penulisnya aja Stephen King, sang penulis cerita horror dan thriller yang kebanyakan bukunya jadi best seller. Saya pun lihat harganya dan WOW! Hanya lima belas ribu untuk buku sebagus itu.

Saya pun mulai menyelami kata demi kata yang disusun oleh master cerita horror itu. Penyampaian bahasanya sungguh bagus, setidaknya menurut saya. Walaupun saya baru membacanya sedikit, tapi saya sudah merasakan asyiknya menulis itu. POW! Jadi semangat untuk menyelsaikan cerita saya yang udah dibuat!

SEMANGAT!

Hey, mau tau siapa Stephen King? Ini dia…

Jauh sebelum novel horornya terbit, hidup Stephen King sungguh sengsara. Meski punya gelar sarjana sastra Inggris dari Universitas Maine di Orono, ia harus banting tulang untuk menghidupi keluarganya. Ia tercatat pernah bekerja di binatu, dan menjadi pelayan pompa bensin sebelum memperoleh penghasilan tetap sebagai guru bahasa di sebuah sekolah menengah umum.

Tapi, begitu Carrie, novel seram pertamanya terbit, semua berubah. Awalnya, novel itu cuma dibayar US$ 2.500 oleh William Thompson, penerbit pertamanya. Belakangan, Doubleday, penerbitan milik Thompson, berhasil menjual Carrie ke New American Library seharga US$ 400.000. Dan, perlahan, novel itu pun menimbulkan demam Stephen King di Amerika.

Carrie akhirnya terjual jutaan jilid, dan membuat Stephen King kaya raya.

Sutradara sekelas Brian De Palma pun tertarik memfilmkan Carrie. Pada 1976, film Carrie rampung digarap dengan bintang-bintang terkemuka, seperti Amy Irving, Nancy Allen, John Travolta, dan Sissy Spacek. Sukses Carrie seolah membenarkan ucapan Stephen King: horor itu kebutuhan biologis!

Setelah Carrie, puluhan novel seram Stephen King lainnya juga laku keras. Tak kurang dari 62 film dibuat berdasarkan naskah seramnya. Sebagian besar masuk daftar film terlaris, sementara sebagiannya lagi dipujikan sebagai film yang baik. Salem’s Lot, Cujo, The Dead Zone, Stand By Me adalah beberapa judul dari daftar panjang film dari karya King.

Tak cuma Stephen King yang berhasil membuktikan bahwa horor itu enak dan perlu. Penulis lain, Anne Rice, berhasil menjadi kaya dengan kisah Vampire Chronicle-nya. Cerita seram Anne Rice juga laris ketika dibuat film. Interview with Vampire dan Queen of the Damned adalah dua film laris yang didasarkan pada kisah seram Anne Rice.

Cerita seram memang jadi genre yang tak pernah lekang. Film-film horor pun selalu tercatat punya pasar besar. Sukses The Exorcist, misalnya, menjadi legenda tersendiri. Film ini berhasil meraup keuntungan senilai US$ 357.500.000, dan berada di urutan ke-69 dalam daftar film terlaris sepanjang masa versi Internet Movie Data Base dot com.

Kisah tentang Lankester Merril, pastor pengusir hantu, itu telah dibuat sekuelnya dua kali. Tahun ini, rencananya beredar film Exorcist: The Beginning, prekuel dari kisah Lankester Merril. Bahkan, menurut Michael W. Cuneo, penulis American Exorcism: Expelling Demons in the Land of Plenty, kisah The Exorcist merupakan awal maraknya industri exorcism di Amerika.

Selaku sosiolog, Cuneo juga mencatat bahwa pasca-The Exorcist, banyak gereja kini secara terbuka berani melangsungkan praktek pengusiran hantu. Selain The Exorcist, kisah hantu dan makhluk dunia lain juga memadati daftar film terlaris. The Sixth Sense, kisah hantu garapan M. Night Shyamalan, misalnya, tercatat sebagai film ke-14 terlaris sepanjang masa.

Film Ghosts ada di urutan ke-24, sementara The Mummy Returns dan The Mummy ada di urutan ke-44 dan ke-45. Barangkali juga cuma film horor yang bisa melahirkan fenomena seperti The Blair Witch Project, film indie paling laku sepanjang sejarah. Dengan biaya cuma US$ 30.000 –tak akan cukup untuk biaya katering film studio besar Hollywood– The Blair Witch Project bisa meraup keuntungan US$ 240,5 juta, dan ada di urutan ke-166 film terlaris sepanjang masa.

Film horor juga bukan hanya monopoli kultur Barat. Lewat film layar lebar Nang Nak pada 1999, misalnya, Nonzee Nimitbur berhasil mengungguli Titanic sebagai film dengan penjualan tiket terbanyak di Thailand. Padahal, sebelumnya perfilman Thailand sudah mati suri. Lewat adaptasi kisah yang telah difilmkan atau disinetronkan sebanyak 22 kali itu, Nonzee Nimitbur juga memperoleh reputasi sebagai sutradara film seni terkemuka kelas dunia.

Kisah horor Asia memang tak kalah kelas. Belakangan, studio besar Hollywood keranjingan membuat ulang film-film horor dari kawasan ini. Setelah membuat ulang The Ring, yang merupakan adaptasi Ringu, film horor laris Jepang, Hollywood tengah menggarap ulang The Eye. Hak cerita film horor Hong Kong itu dibeli perusahaan film milik Tom Cruise.

Selain dua film itu, dua film hantu Jepang lainnya, Kidnap dan Water Ghost Fable, juga tengah digarap ulang studio besar Hollywood. Sejak krisis keuangan menghantam kawasan Asia, film-film horor-hantu memang menjamur di seluruh kawasan ini. Tampaknya, sejarah berulang: setiap kali ada krisis besar, cerita horor muncul jadi “jalan keluar”.

Bukankah pada 1920-an dan 1930-an, chaos dan kolaps-nya perekonomian Jerman, yang kemudian memunculkan teror rezim Nazi, melahirkan gelombang film ekspresionis Jerman? Sementara, pada Great Deppresion di Amerika Serikat, Universal Studios memilih mengeluarkan monster seperti Frankestein dan Drakula untuk menghantui mimpi-mimpi rakyat Amerika.

Stephen Edwin King (lahir di Portland, Maine, Amerika Serikat, 21 September 1947; umur 62 tahun) adalah seorang penulis asal Amerika Serikat. Ia populer lewat novel-novel horor tulisannya. Kisah-kisah yang ia tulis sering melibatkan protagonis yang “biasa”, misalnya keluarga kelas menengah, seorang anak-anak, atau penulis. Selain kisah-kisah horor, King juga menulis cerita dalam genre lain, termasuk The Body dan Rita Hayworth and Shawshank Redemption (masing-masing diadaptasikan menjadi film layar lebar berjudul Stand By Me dan The Shawshank Redemption), serta The Green Mile dan Hearts in Atlantis. (fn/gt/wk) www.suaramedia.com

referensi : Stephen King by suaramedia

Tas Ransel – 1(Wonosobo-Dieng)

“Beberapa tahun lagi, saat kalian sudah sukses, dateng lagi ke sini yaa. Ibu akan tetap disini kok. Oh iya, bawa juga istri masing masing..”

Terminal Cicaheum di timur selalu ramai dengan berbagai aktivitas. Begitu juga dengan sore itu, Rabu, 3 Juni 2010. Bus Budiman jurusan Wonosobo yang saya dan teman-teman akan naiki telah siap sejak pukul 16.30, padahal baru akan berangkat selepas maghrib. Karena tidak mau kekehabisan tempat duduk, kami segera masuk dan mencari tempat yang nyaman. Tas ransel yang penuh dengan makanan dan baju ganti kami simpan di dekat kaki, tak ingin hal yang buruk terjadi. Saya mendapat tambahan barang, sebuah tas kain yang penuh dengan buku-buku hasil sumbangan teman-teman di Bandung untuk Abdurrahman Ghifari, teman kami di Semarang.

Saya, Bima Abdul Rahman, dan Hafy Zaindini akan melakukan sebuah perjalanan yang cukup melelahkan ke Wonosobo, Dieng, Semarang, dan Jogjakarta. Perjalanan ini akan kami tempuh dalam waktu kurang lebih 6 hari, dengan budget sekitar 400-500 ribu. Ceritanya, kami sedang mengisi liburan dengan backpacking kecil-kecilan.

Tak banyak cerita yang didapat selama perjalanan hampir 9 jam dari Bandung ke Wonosobo. Hmm, hanya saja, buat yang ingin berpergian naik bis, jangan lupa untuk siapkan mental menghadapi pedagang-pedagang asongan yang sedikit memaksa. Jika tidak kuat mental, hasilnya akan seperti orang yang duduk di sebelah kursi saya dan Bima. Hampir semua makanan yang ditawarkan oleh pedagang asongan dia beli. Mulai dari donat, gorengan, bahkan dodol dia beli. Saya sih hanya tertipu satu kali. Ada pedagang asongan yang menawarkan sekotak donat yang isinya 6 donat, tiga di bagian atas, tiga di bagian bawah kotak. Tampilannya sih bagus, harganya juga murah, tapi rasanya….hhahahaha, ga enak banget! Ternyata, tampilan yang bagus hanya bagian atasnya saja. Tiga donat di bagian bawah hanya ditaburi meses seadanya.

Selain itu, saya sarankan untuk menghabiskan dulu ampas makanan yang ada di perut (^_^, soalnya, waktu istirahat di Tasik, si Hafy hampir ditinggal bus karena sibuk mengurus perut di WC..:p)

Jam 3 subuh, bus yang kami tumpangi sampai di Wonosobo. Saya cukup kagum dengan sepinya terminal Mendolo di kota ini. Sepertinya, terminal ini masih cukup baru. Tidak seperti Cicaheum atau Leuwipanjang di Bandung, terminal ini tertata sangat rapi. Ada kantin yang berjajar rapi, mushola yang cukup nyaman, dan berbagai kios agen yang menyediakan jasa bus antar kota. Dari pintu gerbang sampai bangunan wc, semuanya tampak baru dan masih terjaga dengan baik.

Terminal Mendolo di Pagi Hari

Karena tidak tahu harus kemana lagi, kami pergi menuju mushola terminal untuk beristrirahat (musholanya ga ada lampunya, jadi kami bergelap-gelap ria di sana). Setelah sholat subuh di mesjid terdekat (di mushola terminal ga ada air untuk wudhu..), kami mulai berburu sarapan. Udara di Wonosobo cukup mirip dengan Bandung, jadi kami merasa nyaman untuk berjalan-jalan. Kami kembali lagi ke terminal, sekalian mencari informasi transportasi ke Dieng.

Ternyata, terminal Mendolo di pagi hari tidak jauh berbeda dengan saat kami datang jam 3 pagi. Suasananya tetap lengang, tidak banyak aktivitas seperti di Bandung. Yah, ini mungkin akan mengurangi tingkat kriminalitas. Dari terminal Mendolo, kami naik sebuah minibus sampai ke kota (Mendolo ada di pinggiran kota). Perjalanan yang menyenangkan saat saya melintas dan melihat kota Wonosobo di pagi hari. Supir bus yang saya tumpangi pun sangat ramah (padahal wajahnya sangar). Dia mengajak saya ngobrol, membandingkan kota besar Bandung yang ramai dengan Wonosobo yang kecil tapi menyenangkan. Dari pusat kota, kami harus naik lagi minibus yang langsung menuju Dieng.

Tidak rugi saya membayar ongkos sepuluh ribu (walau pada akhirnya sedikit nyesel) dari Wonosobo ke Dieng karena sepanjang perjalanan kami disuguhi berbagai pemandangan menakjubkan. Gunung-gunung tinggi Plato Dieng kami lewati satu per satu. Suasana pedesaan masih sangat terlihat jelas. Apalagi itu saat pagi hari, saat semua orang baru memulai aktivitasnya. Semua orang di bus tampak saling menyapa dan mengenal satu sama lain, pemandangan yang akan sangat jarang terlihat di kota-kota besar. Saat melewati sebuah jurang di tempat yang sudah lumayan tinggi, tampak di kejauhan bahwa ada awan yang berada di bawah kita. Yup, ternyata negeri di atas awan itu ada.

Pemandangan dari Bus

Perjalanan satu jam itu sangat menyenangkan. Jam 9 pagi, kami sampai di wilayah wisata Dieng. Saat sedang melihat-lihat peta wisata, kami didatangi oleh seorang tukang ojek yang menawarkan jasanya untuk mengantar kami berkeliling-keliling ke setiap tempat wisata. Memang, Plato Dieng memiliki lebih dari sepuluh tempat wisata. Tetapi, karena harga yang ditawarkan SANGAT mahal, yaitu 50 ribu per orang, kami lebih memilih untuk jalan kaki saja, dengan resiko cape..(jarak antara tempat wisata bisa sampai 5 km). Hmm, dengan pikiran bahwa kami adalah backpacker yang kuat (^^), kami mengambil resiko itu.

Plato atau Dataran Tinggi Dieng mempunyai udara yang menurut saya khas. Saat matahari mulai meninggi, suasana cukup panas terasa di kulit. Tetapi, angin berhembus dengan membawa udara dingin yang menyejukkan. Jadinya, perpaduan antara udara dingin dan panas itulah yang menurut saya sangat khas. Berbeda dengan di Lembang yang memang sudah dingin dari sananya.

Peta Wisata Dieng

Berbagai peta petunjuk yang ditempel di berbagai sudut jalan memudahkan para wisatawan untuk menuju tempat wisata yang diinginkannya. Selain itu, wisatawan juga bisa bertanya arah ke penduduk sekitar. Mereka pasti akan menjawab dengan sangat ramah. Bagi yang ingin menghabiskan malam di Dieng, banyak juga penginapan-penginapan yang disediakan, dengan interval harga yang menurut saya cukup terjangkau.

Si Tampan

Saya dan teman-teman memilih untuk menuju ke kompleks Candi Arjuna terlebih dahulu, karena jaraknya paling dekat dari tempat kami datang. Dengan berjalan kaki sedikit, sekitar 300 meter, Candi Arjuna mulai tampak di depan mata. Setelah membeli tiket seharga 6 ribu (tiket berlaku untuk semua tempat wisata berupa candi, kawah, dan telaga, kecuali Telaga Warna), kami masuk ke dalam kompleks candi.

Yang sangat menakjubkan, kompleks candi itu tertata sangat baik. Jalan di sekitar candi tampak sangat bersih dan di sekitarnya ditumbuhi berbagai tanaman dan bunga yang cukup indah. Kompleks Candi Arjuna berada di tengah ladang masyarakat, sehingga kami dapat melihat para petani yang sedang merawat ladangnya. Candi Arjuna beralaskan pasir, seperti candi Prambanan di Solo. Candi Hindu ini memiliki beberapa candi utama (saya ga ngerti masalah percandian, jadi deskripsinya cukup sampai di sini). Mungkin karena hari itu bukan hari libur dan hari masih pagi, wisatawan yang ada di kompleks cankdi itu hanya kami bertiga. Kami pun puas melihat-lihat dan berfoto di sana, dilatarbelakangi lanskap candi, suasana pedesaan, dan langit yang biru terbentang.

Kompleks Candi Arjuna

Dari Candi Arjuna, kami melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Jalan yang kami lalui sungguh tertata sangat rapi, dipenuhi dengan tanaman dan bunga yang tampak mekar. Beberapa menit berjalan, kami bertemu dengan Candi Gatot Kaca. Candi ini tidak terlalu besar dan menarik perhatian. Hanya saja, candi ini terletak di ketinggian, sehingga kami dapat melihat hamparan padang hijau yang membentang di bawahnya.

Candi Bima menjadi candi berikutnya yang kami kunjungi. Kompleks candi ini hanya berisi satu candi saja, itu pun tidak terlalu besar. Hanya saja, kompleks candi dibuat menyerupai taman yang indah, sehingga kami betah berlama-lama di sana. Di belakang Candi Bima, kami beristirahat dan menyantap sajian snack sederhana, sisa bekal yang kami bawa dari Bandung.

Perjalanan kami lanjutkan ke arah barat, mencari Kawah Sikidang. Lima belas menit berjalan dari Candi Bima, dengan jalanan yang teduh dan banyak pepohonan, kami sampai di Kawah Sikidang. Bau belerang yang menyengat menyambut dengan mesra. Setelah beristirahat sejenak di sebuah ‘saung’, kami mulai berjalan ke arah bau yang paling menyengat, yaitu kawah. Mengapa Sikidang? Kata referensi yang saya baca, air-air belerang yang bertebaran di kompleks kawah suka meloncat-loncat karena suhu yang sangat panas. Oleh karena itu, dinamakanlah kawah ini kawah Sikidang (berasal dari Si Kijang kayaknya).

Kawah Sikidang

Kawah Sikidang merupakan sebuah kompleks kawah yang mempunyai banyak lekukan-lekukan yang berisi air belerang. Kawah utamanya berada di tempat yang cukup tinggi, sehingga harus melalui jalan yang menaik. Kawah utama itu berupa kolah berdiameter sekitar 10-15 meter yang berisi air belerang berwarna kelabu, terus bergelegak, mengeluarkan asap putih, dan berbau belerang yang sangat menyengat. Tidak ada sisi indahnya sama sekali, tapi saya sangat mengagumi fenomena alam ini. Hanya saja, sayang saya tidak melihat air belerang yang berlompatan seperti namanya.

Di Depan Kawah Sikidang

Setelah puas berfoto ria di sekitar kawah, kami bertiga beristirahat di sebuah warung. Kami pun berbincang-bincang sebentar dengan ibu penjaga warung tersebut. Memang benar, warga desa sangat ramah dan jujur. Bahkan, beliau mendoakan kami segala. Saat akan berpisah, beliau berkata, “Beberapa tahun lagi, saat kalian sudah sukses, dateng lagi ke sini yaa. Ibu akan tetap disini kok. Oh iya, bawa juga istri masing masing..”

Perjalanan kami lanjutkan. Kami kembali ke arah Candi Bima, melewatinya, lalu berjalan ke arah timur. Kali ini, kami menuju Telaga Warna. Menurut ibu penjaga warung di Kawah Sikidang, perjalanan ke sana sekitar satu kilometer. Udara yang sangat panas sempat membuat kami berpikir untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek. Akan tetapi, mengingat bahwa keuangan kami terbatas, pikiran itu ditepis jauh-jauh.

Si Tampan di Telaga Warna

Perjalanan ke Telaga Warna tidak semenyenangkan sebelumnya. Jika perjalanan ke Kawah Sikidang melalui jalanan teduh yang indah, perjalanan ke Telaga Warna dipenuhi rumah penduduk dan jarang pepohonan, membuat udara semakin terasa panas. Akan tetapi, saat melihat bahwa Telaga Warna telah di depan mata, rasa capek hilang begitu saja. Ternyata, untuk masuk ke Telaga, kami harus membayar lagi seharga lima ribu rupiah.

Telaga Warna adalah telaga yang memiliki kandungan belerang yang cukup tinggi, mirip seperti Kawah Putih di Bandung Selatan. Seperti namanya, te;aga ini mempunyai beberapa warna, yaitu biru muda, ungu, hijau, bahkan coklat. Telaga ini dikelilingi oleh hutan kecil, membuat udaranya cukup menyenangkan dan enak untuk dibuat tempat istirahat. Selain itu, di sekitar telaga ini ada tempat wisata yang lain, yaitu gua. Akan tetapi, gua-gua itu tidak dapat dimasuki, entah karena berbahaya, entah karena ada kekuatan mistisnya. Kami hanya bisa melihat-lihat dan berfoto di depannya saja.

Si Tampan dan Semar

Ada sebuah cerita menarik dan menyebalkan saat kami berjalan-jalan di sekitar gua-gua di Telaga Warna. Saat itu, kami sedang akan berfodto di depan patung Gajah Mada yang ada di depan salah satu gua. Kami bertemu dengan seorang ibu-ibu berpenampilan nyentrik : baju panjang merah seperti daster yang terbuat dari bahan bulu, jas warna abu-abu, dan rambut yang dicat merah. Ia mengaku sebagai guide dan supranaturalis di Telaga Warna. Dia mengajak kami ngobrol seputar Telaga Warna dan Dieng. Dia pun mulai meramal-ramal masa depan kami. Saya sih tidak terlalu menanggapi. Dalam Islam kan tidak boleh memercayai kata-kata peramal. Dia juga menunjukkan keanehan-keanehan gaib di Telaga Warna. Karena saya cuek dan menunjukkan wajah tidak begitu senang, ibu itu jarang mengajak ngobrol saya. Dia lebih banyak berbicara kepada Hafy dan Bima. Saat hendak menyalami saya pun, saya hanya meletakkan tangan di depan dada, menandakan saya tidak mau. Setelah berbicara panjang lebar tentang ramalan dan hal gaib, dia pun meminta sumbangan sukarela dari kami (-_-). Sudah saya duga sebelumnya….

Foto di Dekat Patung Gajah Mada (Katanya, di belakang kepala Hafy-tengah-ada sesosok bayangan perempuan..iya kah?)

Setelah bebas dari ibu-ibu itu, kami pun keluar dari kompleks Telaga Warna dengan sedikit terburu-buru, malas bertemu dia lagi. Apalagi, adzan dzuhur sudah berkumandang. Kami menyusuri jalan raya lagi, menuju tempat kami tiba beberapa jam lalu. Ternyata, jalan yang kami lalui saat melewati tempat wisata hanya memutar, membentuk sebuah lingkaran, sehingga kami tidak perlu balik lagi menyusuri jalan yang pernah kami lewati. Setelah berjalan kurang lebih 15 menit, kami sampai di tempat awal dan shalat dzuhur di mesjid terdekat.

Perut sudah berbunyi, lapar, menanti makan siang. Alhamdulillah, di dekat situ ada sebuah warung makan. Setelah makan nasi goreng yang rasanya cukup aneh (nasi gorengnya dicampur mie, dan ayam dari mie ayam), kami kembali naik bis, menuju Wonosobo. (bersambung…)

Pengeluaran :

Bus Bandung-Wonosobo : Rp 75.000
Toilet di Cicaheum : Rp 1.000
Delia’s Donuts : Rp 6.000
Toilet di Mendolo : Rp 1.000
Sarapan Soto : Rp 7.000
Minibus Mendolo-Wonosobo Kota : Rp 2.500
Minibus Wonosobo-Dieng : Rp 10.000
Tiket Wisata Dieng : Rp 6.000
Toilet di Dieng : Rp 1.000
Air minum di Kawah Sikidang : Rp 3.000
Tiket Wisata Telaga Warna : Rp 5.000
Inpak (iuran paksa) ibu-ibu di Telaga Warna : Rp 10.000 (bertiga)
Nasi Goreng Aneh : Rp 7.500
Bus Dieng-Wonosobo : Rp 7.000

Jumlah : Rp 142.000