pada-Mu

pada siapa ku mengadu
jika bukan pada-Mu?
Kau pemberi mata,
juga hidung,
juga telinga,
dan segalanya.
durhaka jika aku mendustakan-Mu.

pada siapa ku mengeluh
jika bukan pada-Mu?
tentang sakitnya raga
juga harta
juga rasa
juga cinta
berdosa aku jika meninggalkan-Mu.

pada siapa ku meminta
jika bukan pada-Mu?
tentang malam yang tenang,
juga pagi,
juga hari,
juga cita-cita.
merugi aku jika menjauhi-Mu.

pada siapa ku bersyukur
jika bukan pada-Mu?
soal hati,
juga nikmat,
juga masa,
juga hidup.
tak tahu diri jika aku melupakan-Mu.

pada siapa ku mencinta
jika bukan kepada-Mu, dan karena-Mu?
untuk ibu yang tersenyum,
juga bapak,
juga adik,
dan dirinya yang jauh disana.
gila jika aku membenci-Mu.

Surat dari Bilal

Saya ingin berbagi sebuah artikel yang menarik nih. Artikel ini saya baca pas saya masih duduk di kelas 3 SMA. Waktu itu saya diminta teman untuk memilih beberapa artikel untuk dimasukkan ke dalam buletin kelas. Dia memberikan banyak sekali artikel dalam bentuk soft copy. Saya pun membaca artikel-artikel itu, hingga suatu saat saya menemukan artikel yang membuat air mata saya mengalir. Sumbernya saya kurang tahu, tapi di filenya tertulis eramuslim. Hmm, mungkin memang dari eramuslim.com.

Okey, ini dia artikelnya, judul aslinya Aku Memanggil Kalian

Bismillah, Assalamu’alaikum….

Perkenalkan!
Namaku Bilal. Ayahku bernama Rabah, seorang budak dari Abesinia, oleh karena itu nama panjangku Bilal Bin Rabah. Aku tidak tahu mengapakah Ayah dan Ibuku sampai di sini, Makkah. Sebuah tempat yang hanya memiliki benderang matahari, hamparan sahara dan sedikit pepohonan. Aku seorang budak yang menjadi milik tuannya. Umayyah, biasa tuan saya itu dipanggil. Seorang bangsawan Quraisy, yang hanya peduli pada harta dan kefanaan. Setiap jeda, aku harus bersiap kapan saja dilontarkan perintah. Jika tidak, ada cambuk yang menanti akan mendera bagian tubuh manapun yang disukainya.

Setiap waktu adalah sama, semua hari juga serupa tak ada bedanya, yakni melayani majikan dengan sempurna. Hingga suatu hari aku mendengar seseorang menyebutkan nama Muhammad. Tadinya aku tak peduli, namun kabar yang ku dengar membuatku selalu memasang telinga baik-baik. Muhammad, mengajarkan agama baru yaitu menyembah Tuhan yang maha tunggal. Tidak ada tuhan yang lain. Aku tertarik dan akhirnya, aku bersyahadat diam-diam.

Namun, pada suatu hari majikanku mengetahuinya. Aku sudah tahu kelanjutannya. Mereka memancangku di atas pasir sahara yang membara. Matahari begitu terik, seakan belum cukup, sebuah batu besar menindih dada ini. Mereka mengira aku akan segera menyerah. Haus seketika berkunjung, ingin sekali minum. Aku memintanya pada salah seorang dari mereka, dan mereka membalasnya dengan lecutan cemeti berkali-kali. Setiap mereka memintaku mengingkari Muhammad, aku hanya berucap “Ahad… ahad”. Batu diatas dada mengurangi kemampuanku berbicara sempurna. Hingga suatu saat, seseorang menolongku, Abu Bakar menebusku dengan uang sebesar yang Umayyah minta. Aku pingsan, tak lagi tahu apa yang terjadi.

Segera setelah sadar, aku dipapah Abu Bakar menuju sebuah tempat tinggal Nabi Muhammad. Kakiku sakit tak terperi, badanku hampir tak bisa tegak. Ingin sekali rubuh, namun Abu Bakar terus membimbingku dengan sayang. Tentu saja aku tak ingin mengecewakannya. Aku harus terus melangkah menjumpai seseorang yang kemudian ku cinta sampai nafas terakhir terhembus dari raga. Aku tiba di depan rumahnya. Ada dua sosok disana. Yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib sepupunya yang masih sangat muda dan yang di sampingnya adalah dia, Muhammad.

Muhammad, aku memandangnya lekat, tak ingin mata ini berpaling. Ku terpesona, jatuh cinta, dan merasakan nafas yang tertahan dipangkal tenggorokan. Wajahnya melebihi rembulan yang menggantung di angkasa pada malam-malam yang sering ku pandangi saat istirahat menjelang. Matanya jelita menatapku hangat. Badannya tidak terlalu tinggi tidak juga terlau pendek. Dia adalah seorang yang jika menoleh maka seluruh badannya juga. Dia menyenyumiku, dan aku semakin mematung, rasakan sebuah aliran sejuk sambangi semua pori-pori yang baru saja dijilati cemeti.

Dia bangkit, dan menyongsongku dengan kegembiraan yang nampak sempurna. Bahkan hampir tidak ku percaya, ada genangan air mata di pelupuk pandangannya. Ali, saat itu bertanya “Apakah orang ini menjahati engkau, hingga engkau menangis”. “Tidak, orang ini bukan penjahat, dia adalah seorang yang telah membuat langit bersuka cita”, demikian Muhammad menjawab. Dengan kedua tangannya, aku direngkuhnya, di peluk dan di dekapnya, lama. Aku tidak tahu harus berbuat apa, yang pasti saat itu aku merasa terbang melayang ringan menjauhi bumi. Belum pernah aku diperlakukan demikian istimewa.

Selanjutnya aku dijamu begitu ramah oleh semua penghuni rumah. Ku duduk di sebelah Muhammad, dan karena demikian dekat, ku mampu menghirup wewangi yang harumnya melebihi aroma kesturi dari tegap raganya. Dan ketika tangan Nabi menyentuh tangan ini begitu mesra, aku merasakan semua derita yang mendera sebelum ini seketika terkubur di kedalaman sahara. Sejak saat itu, aku menjadi sahabat Muhammad.

Kau tidak akan pernah tahu, betapa aku sangat beruntung menjadi salah seorang sahabatnya. Itu ku syukuri setiap detik yang menari tak henti. Aku Bilal, yang kini telah merdeka, tak perlu lagi harus berdiri sedangkan tuannya duduk, karena aku sudah berada di sebuah keakraban yang mempesona. Aku, Bilal budak hitam yang terbebas, mereguk setiap waktu dengan limpahan kasih sayang Al-Musthafa. Tak akan ada yang ku inginkan selain hal ini.

Oh iya, aku ingin mengisahkan sebuah pengalaman yang paling membuatku berharga dan mulia. Inginkah kalian mendengarnya?

Di Yathrib, mesjid, tempat kami, umat Rasulullah beribadah telah berdiri. Bangunan ini dibangun dengan bahan-bahan sederhana. Sepanjang hari, kami semua bekerja keras membangunnya dengan cinta, hingga kami tidak pernah merasakan lelah. Nabi memuji hasil kerja kami, senyumannya selalu mengembang menjumpai kami. Ia begitu bahagia, hingga selalu menepuk setiap pundak kami sebagai tanda bahwa ia begitu berterima kasih. Tentu saja kami melambung.

Kami semua berkumpul, meski mesjid telah selesai dibangun, namun terasa masih ada yang kurang. Ali mengatakan bahwa mesjid membutuhkan penyeru agar semua muslim dapat mengetahui waktu shalat telah menjelang. Dalam beberapa saat kami terdiam dan berpandangan. Kemudian beberapa sahabat membicarakan cara terbaik untuk memanggil orang-orang.

“Kita dapat menarik bendera” seseorang memberikan pilihan.
“Bendera tidak menghasilkan suara, tidak bisa memanggil mereka”
“Bagaimana jika sebuah genta?”
“Bukankah itu kebiasaan orang Nasrani”
“Jika terompet tanduk?”
“Itu yang digunakan orang Yahudi, bukan?”

Semua yang hadir di sana kembali terdiam, tak ada yang merasa puas dengan pilihan-pilihan yang dibicarakan. Ku lihat Nabi termenung, tak pernah ku saksikan beliau begitu muram. Biasanya wajah itu seperti matahari di setiap waktu, bersinar terang. Sampai suatu ketika, adalah Abdullah Bin Zaid dari kaum Anshar, mendekati Nabi dengan malu-malu. Aku bergeser memberikan tempat kepadanya, karena ku tahu ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Nabi secara langsung.

“Wahai, utusan Allah” suaranya perlahan terdengar. Mesjid hening, semua mata beralih pada satu titik. Kami memberikan kepadanya kesempatan untuk berbicara.

“Aku bermimpi, dalam mimpi itu ku dengar suara manusia memanggil kami untuk berdoa…” lanjutnya pasti. Dan saat itu, mendung di wajah Rasulullah perlahan memudar berganti wajah manis berseri-seri. “Mimpimu berasal dari Allah, kita seru manusia untuk mendirikan shalat dengan suara manusia juga….”. Begitu nabi bertutur.

Kami semua sepakat, tapi kemudian kami bertanya-tanya, suara manusia seperti apa, lelakikah?, anak-anak?, suara lembut?, keras? atau melengking? Aku juga sibuk memikirkannya. Sampai kurasakan sesuatu diatas bahuku, ada tangan Al-Musthafa di sana. “Suara mu Bilal” ucap Nabi pasti. Nafasku seperti terhenti.

Kau tidak akan pernah tahu, saat itu aku langsung ingin beranjak menghindarinya, apalagi semua wajah-wajah teduh di dalam mesjid memandangku sepenuh cinta. “Subhanallah, saudaraku, betapa bangganya kau mempunyai sesuatu untuk kau persembahkan kepada Islam” ku dengar suara Zaid dari belakang. Aku semakin tertunduk dan merasakan sesuatu bergemuruh di dalam dada. “Suaramu paling bagus duhai hamba Allah, gunakanlah” perintah nabi kembali terdengar. Pujian itu terdengar tulus. Dan dengan memberanikan diri, ku angkat wajah ini menatap Nabi. Allah, ada senyuman rembulannya untukku. Aku mengangguk.

Akhirnya, kami semua keluar dari mesjid. Nabi berjalan paling depan, dan bagai anak kecil aku mengikutinya. “Naiklah ke sana, dan panggillah mereka di ketinggian itu” Nabi mengarahkan telunjuknya ke sebuah atap rumah kepunyaan wanita dari Banu’n Najjar, dekat mesjid. Dengan semangat, ku naiki atap itu, namun sayang kepalaku kosong, aku tidak tahu panggilan seperti apa yang harus ku kumandangkan. Aku terdiam lama.

Di bawah, ku lihat wajah-wajah menengadah. Wajah-wajah yang memberiku semangat, menelusupkan banyak harapan. Mereka memandangku, mengharapkan sesuatu keluar dari bibir ini. Berada diketinggian sering memusingkan kepala, dan ku lihat wajah-wajah itu tak mengharapkan ku jatuh. Lalu ku cari sosok Nabi, ada Abu Bakar dan Umar di sampingnya. “Ya Rasul Allah, apa yang harus ku ucapkan?” Aku memohon petunjuknya. Dan kudengar suaranya yang bening membumbung sampai di telinga “ Pujilah Allah, ikrarkan Utusan-Nya, Serulah manusia untuk shalat”. Aku berpaling dan memikirkannya. Aku memohon kepada Allah untuk membimbing ucapanku.

Kemudian, ku pandangi langit megah tak berpenyangga. Lalu di kedalaman suaraku, aku berseru :

Allah Maha Besar. Allah Maha Besar
Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah
Aku bersaksi bahwa Muhammad Utusan Allah
Marilah Shalat
Marilah Mencapai Kemenangan
Allah Maha Besar. Allah Maha Besar
Tiada Tuhan Selain Allah.

Ku sudahi lantunan. Aku memandang Nabi, dan kau akan melihat saat itu Purnama Madinah itu tengah memandangku bahagia. Ku turuni menara, dan aku disongsong begitu banyak manusia yang berebut memelukku. Dan ketika Nabi berada di hadapan ku, ia berkata “Kau Bilal, telah melengkapi Mesjidku”.

Aku, Bilal, anak seorang budak, berkulit hitam, telah dipercaya menjadi muadzin pertama, oleh Dia, Muhammad, yang telah mengenyahkan begitu banyak penderitaan dari kehidupan yang ku tapaki. Engkau tidak akan pernah tahu, mengajak manusia untuk shalat adalah pekerjaan yang dihargai Nabi begitu tinggi. Aku bersyukur kepada Allah, telah mengaruniaku suara yang indah. Selanjutnya jika tiba waktu shalat, maka suaraku akan memenuhi udara-udara Madinah dan Makkah.

Hingga suatu saat,

Manusia yang paling ku cinta itu dijemput Allah dengan kematian terindahnya. Purnama Madinah tidak akan lagi hadir mengimami kami. Sang penerang telah kembali. Tahukah kau, betapa berat ini ku tanggung sendirian. Aku seperti terperosok ke sebuah sumur yang dalam. Aku menangis pedih, namun aku tahu sampai darah yang keluar dari mata ini, Nabi tak akan pernah kembali. Di pangkuan Aisyah, Nabi memanggil ‘ummatii… ummatiii’ sebelum nafas terakhirnya perlahan hilang. Aku ingat subuh itu, terkakhir nabi memohon maaf kepada para sahabatnya, mengingatkan kami untuk senantiasa mencintai kalam Ilahi. Kekasih Allah itu juga mengharapkan kami untuk senantiasa mendirikan shalat. Jika ku kenang lagi, aku semakin ingin menangis. Aku merindukannya, sungguh, betapa menyakitkan ketika senggang yang kupunya pun aku tak dapat lagi mendatanginya.

Sejak kematian nabi, aku sudah tak mampu lagi berseru, kedukaan yang amat membuat ku lemah. Pada kalimat pertama lantunan adzan, aku masih mampu menahan diri, tetapi ketika sampai pada kalimat Muhammad, aku tak sanggup melafalkannya dengan sempurna. Adzanku hanya berisi isak tangis belaka. Aku tak sanggup melafalkan seluruh namanya, ‘Muhammad’. Jangan kau salahkan aku. Aku sudah berusaha, namun, adzanku bukan lagi seruan. Aku hanya menangis di ketinggian, mengenang manusia pilihan yang menyayangiku pertama kali. Dan akhirnya para sahabat memahami kesedihan ini. Mereka tak lagi memintaku untuk berseru.

Sekarang, ingin sekali ku memanggil kalian… memanggil kalian dengan cinta. Jika kalian ingin mendengarkan panggilanku, dengarkan aku, akan ada manusia-manusia pilihan lainnya yang mengumandangkan adzan. Saat itu, anggaplah aku yang memanggil kalian. Karena, sesungguhnya aku sungguh merindui kalian yang bersegera mendirikan shalat.

Alhamdulillah kisahku telah sampai, ku sampaikan salam untuk kalian.

Wassalamu’alaikum….

Ada yang terharu seperti saya? Semoga bukan hanya terharu, tapi kita juga mempunyai semangat dan izzah keislaman seperti beliau.



Ta’lim Perdana FTTM 09

Selasar CC Barat menjadi saksi sebuah peristiwa bersejarah (hhe, lebay..). Tadi siang, tepatnya pukul 11.00, ta’lim perdana FTTM ITB 2009 telah dilaksanakan dengan lancar.

Ta’lim yang berdurasi kurang lebih satu jam tersebut diadakan dalam rangka mempererat silaturahmi diantara sesama muslim FTTM 2009 dan fakultas lain, juga bertujuan untuk sharing ilmu antara pemateri dan teman-teman FTTM. Bukan hanya ilmu agama, tetapi juga tentang softskill, tips dan trik survive di ITB, dan juga ilmu-ilmu lainnya yang insya Allah bermanfaat untuk semua.

Hari ini, yang menjadi pembicara adalah Kang Ridwansyah Yusuf, Presiden KM ITB yang sekarang masih menjabat. Materi yang disampaikan adalah Manusia Mandiri. Materi yang disampaikan cukup menarik sehingga teman-teman FTTM pun terlihat antusias dalam mendengarkan materi dari Kang Ucup (hhe, sok akrab banget saya.. :p). Karena tadi saya datang terlambat dan tidak mencatat, maka untuk saat ini saya belum bisa mengulang dan membahas kembali materi yang disampaikan. Hmm, penasaran kan? Makanya, tunggu dua minggu lagi, karena ta’lim FTTM akan kembali digelar.

Berikut adalah sedikit foto yang bisa saya abadikan lewat kamera hape yang cukup…cukup jelek..hhe, maaf yaa..

Ingin liat foto-foto kumplitnya? Silakan hubungi Nico Satrio, ketua angkatan kita itu, soalnya tadi dia yang jadi juru foto. Buat teman-teman yang tadi datang, nanti ajakin temannya yang lain yaa, biar semua dapat ilmunya..

Makasih!!!

Semangat, muslim FTTM!!!

Golden Ratio!

Leonardo Fibonacci (1175-1245) adalah ilmuwan asal Italia yang menemukan sebuah barisan angka yang unik, yang kemudian dinamakan deret Fibonacci, sesuai namanya. Barisan ini adalah sekumpulan angka yang angka kedua, ketiga, keempat, dan sebelumnya merupakan penjumlahan dua angka sebelumnya. Berikut adalah barisan tersebut..

0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89, 144, 233, 377, dst…

Fakta unik yang ada dalam barisan ini adalah, jika kita membagi suatu angka dalam deret ini dengan angka sebelumnya, maka kita akan mendapatkan angka yang besarnya mendekati satu sama lain. Lebih hebat lagi, setelah angka ke-13, hasil pembagiannya tetap, yaitu 1,618. Angka inilah yang kemudian dinamakan GOLDEN RATIO. Ternyata, angka golden ratio tidak hanya ditemukan dalam deret fibonacci saja. Di tubuh manusia, tubuh makhluk hidup, berbagai bangunan di bumi, dll juga mempunyai perbandingan angka ini.

Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Ath Thalaaq, 65: 3)

Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah. (QS. Al Mulk, 67: 3-4)

Dikutip dari http://www.harunyahya.com/indo/artikel/068.htm, contoh-contoh golden ratio dalam tubuh manusia adalah sebagai berikut.

Jarak antara ujung jari dan siku / jarak antara pergelangan tangan dan siku,
Jarak antara garis bahu dan unjung atas kepala / panjang kepala,
Jarak antara pusar dan ujung atas kepala / jarak antara garis bahu dan ujung atas kepala,
Jarak antara pusar dan lutut / jarak antara lutut dan telapak kaki.

Tangan Manusia

Angkatlah tangan Anda dari mouse komputer dan lihatlah bentuk jari telunjuk Anda. Dalam segala kemungkinan akan Anda saksikan rasio emas padanya.

Jari-jemari kita memiliki tiga ruas. Perbandingan ukuran panjang dari dua ruas pertama terhadap ukuran panjang keseluruhan jari tersebut menghasilkan angka rasio emas (kecuali ibu jari). Anda juga dapat melihat bahwa perbandingan ukuran panjang jari tengah terhadap jari kelingking merupakan rasio emas pula.

Anda memiliki dua (2) tangan, dan jari-jemari yang ada padanya terdiri dari tiga (3) ruas. Terdapat lima (5) jari pada setiap tangan, dan hanya delapan (8) dari keseluruhan sepuluh jari ini tersambung menurut rasio emas: 2, 3, 5, dan 8 bersesuaian dengan angka-angka pada deret Fibonacci.

Rasio Emas pada Wajah Manusia

Terdapat beberapa rasio emas pada wajah manusia. Akan tetapi Anda tidak dianjurkan mengambil penggaris dan berusaha mengukur wajah-wajah orang, sebab hal ini merujuk pada “wajah manusia ideal” yang ditetapkan oleh para ilmuwan dan seniman.

Misalnya, jumlah lebar dua gigi depan pada rahang atas dibagi dengan tingginya menghasilkan rasio emas. Lebar gigi pertama dari tengah dibandingkan gigi kedua juga menghasilkan rasio emas. Semua ini adalah perbandingan ukuran ideal yang mungkin dipertimbangkan oleh seorang dokter. Sejumlah rasio emas lain pada wajah manusia adalah:

Panjang wajah / lebar wajah,
Jarak antara bibir dan titik di mana kedua alis mata bertemu / panjang hidung,
Panjang wajah / jarak antara ujung rahang dan titik di mana kedua alis mata bertemu,
Panjang mulut / lebar hidung,
Lebar hidung / jarak antara kedua lubang hidung,
Jarak antara kedua pupil / jarak antara kedua alis mata.

Rasio Emas pada Paru-Paru

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan antara tahun 1985 dan 1987, fisikawan Amerika B. J. West dan Dr. A. L. Goldberger menemukan keberadaan rasio emas pada struktur paru-paru. Salah satu ciri jaringan bronkia yang menyusun paru-paru adalah susunannya yang asimetris. Misalnya, pipa saluran udara yang bercabang membentuk dua bronkia utama, satu panjang (bronkia kiri) dan yang kedua pendek (bronkia kanan). Percabangan asimetris ini terus berlanjut ke percabangan-percabangan bronkia selanjutnya. Telah dipastikan bahwa pada seluruh percabangan ini perbandingan antara bronkia pendek terhadap bronkia panjang selalu bernilai 1/1,618.

Untuk lebih lengkapnya, silakan baca artikel komplitnya di:

http://www.harunyahya.com/indo/artikel/068.htm

Rame banget, Kawan. Nah, ternyata, dari sebuah video yang di-tag teman saya di FB, saya baru tahu bahwa pusat golden ratio di dunia, di bumi kita adalah….

KA’BAH, di Mekkah Al Mukarromah..

subhanallah, maha besar kekuasaan Allah..

Buat yang mau lihat videonya, silakan buka video di sidebar situs ini atau klik link ini..

http://www.youtube.com/watch?v=hD2323zkQUM

Mencetak Sejarah dari Sejarah (2)

(sambungan…udah seger!)

Yup, dengan mempelajari masa lalu sesuatu, kita bisa lebih bijaksana menyikapi hal tersebut. Misalnya, ada temen kita yang kalo diliat-liat, dia tuh susah banget bergaul. Pendiem, jarang ngobrol atau nyapa, malu-malu, dll. Mungkin awalnya, kita akan dengan kejam men-judge dia adalah orang yang anti sosial. Akan tetapi, saat kita mencoba bergaul dengannya, mempelajarinya, mengenal sisi lain kehidupannya, dan sejarahnya, mungkin kita akan menemukan sesuatu yang berbeda di dirinya. Kita akan menemukan penyebab kenapa dia seperti itu. Ya, kita akan menjadi lebih bijaksana untuk dapat meniliai dirinya. Agar kita bisa lebih pintar, pandai, dan solutif dalam memecahkan suatu masalah di lain waktu.

ISLAM. Sebagai seorang muslim, maka adalah suatu kebutuhan untuk mengetahui bagaimana sejarah agama ini. Setidaknya, kita harus mempelajari bagaimana dulu Islam muncul, bagaimana Islam berkembang, bagaimana Rasulullah berjuang, bagaimana Islam bertahan dalam goncangan konflik yang luar biasa, bagaimana para penyebar Islam berdakwah, dan bagaimana-bagaimana yang lainnya. Kalo kata Kang Yahdi (murobbi saya), minimal, siroh Nabawiyah telah kita lahap dan pelajari isinya. So, ayo Kawan, pelajari tarikh Islam juga…

Tidak tertutup kemungkinan, masalah-masalah umat yang kita hadapi saat ini telah terjadi di masa lalu. Dengan mempelajari bagaimana pendahulu kita menyelsaikannya, maka kita juga, Insya Allah akan mampu menyelsaikannya…

Jadi, ayo kita mencetak sejarah untuk masa depan dengan mempelajari juga sejarah di masa lalu. Karena kita, dengan segenap kemampuan dan potensi, akan mampu juga menjadi SEJARAH, yang tertulis dan terabadikan dalam ingatan atau buku-buku, atau museum. Tentu saja dengan cap yang hebat, yang baik, dan bukan yang buruk.

^_^

Mencetak Sejarah dari Sejarah (1)

Ada yang suka pelajaran sejarah? Atau mungkin pertanyaan yang lebih tepatnya, ada yang ga tidur waktu pelajaran sejarah? Hahaha, pertanyaan yang ga bagus, ga usah dijawab. Hmm, emang sih, pelajaran sejarah mungkin jadi salahsatu pelajaran yang membosankan untuk disimak. Yang saya bayangin kalo bicara tentang pelajaran ini : duduk di ruangan panas, udah siang, ngantuk, laper, ngedengerin suara sayup-sayup dan sangat menday-dayu dari guru sejarah yang selama lebih dari satu setengah jam berdongeng ria. Wah, lebay banget imajinamsi saya ya.

Tapi ternyata, Kawan, betapa pentingnya sejarah untuk kita. Betapa pentingnya masa lalu untuk kita. Bukan! Bukan untuk diratapi atau hanya direnungi, tapi diambil sebagai pelajaran. Setidaknya, ada dua hal yang bisa kita gunakan sebagai alat untuk sukses di waktu yang sedang kita jalani saat ini, yaitu melihat masa lalu sebagai pelajaran dan bahan solusi, dan memandang jauh masa depan sebagai pendorong untuk meraih cita-cita.

*Sebenernya saya bingung gimana membuat post ini tidak menjadi se-membosankan pelajaran sejarah…hhaha, soalnya meni asa serius banget daritadi..

Yup, bener banget, bos, sejarah, atau kasarnya mah masa lalu, bisa menjadi jawaban dari masalah yang sedang kita hadapi sekarang ini. Mungkin saja, masalah yang kita hadapi sekarang pernah terjadi di masa lalu kita, dan kita bisa menjadikannya sebagai referensi untuk menemukan solusi. Ada sebuah buku berjudul Nusantara. Buku ini menceritakan tentang sejarah negara kita, dari zaman dahulu kala. Buku ini dicetak di tahun 1940-an dan ditulis oleh seorang penulis Amerika (kalo ga salah). Akan tetapi, yang membuat buku ini berbeda dari buku sejarah lainnya adalah….,buku ini bukan dibuat untuk dibaca oleh orang Indonesia, tetapi untuk bahan Amerika mempelajari Indonesia. Ya, dari sejarahnya. Dan sekarang terbukti, perusahaan2 asal negara itu merambah Indonesia dengan semudah me-ngiceup (ngedip.red).

Beuh, liat deh, betapa niatnya orang2 di luar sana untuk menguasai Indonesia. Contoh lainnya adalah saat perang Aceh ratusan tahun lalu. Saat itu, di zaman kolonial, Belanda sangat sulit untuk menguasai Aceh. Untuk dapat mengetahui kelemahan rakyat Aceh, Belanda mengirimkan seorang pakar theologi yang bernama DR. Snock Hurgronje (gini bukan sih nulisnya? hhe), ke Mekkah untuk mempelajari Islam dalam beberapa tahun. Setelah itu, Snock dikirim lagi ke Aceh untuk mempelajari sejarah masyarakatnya. Dia menyamar dan mengaku sebagai muslim, menjadi ulama, dan dapat diterima oleh masyarakat Aceh. Dia pun dapat dengan mudah mengetahui kelemahan Aceh dan membocorkannya kepada Belanda.

Dengan mempelajari sejarah, dan mengingat masa lalu, kita bisa lebih bijaksana, atau bahasa Inggris na mah :

WISE

(bersambung….sayanya keburu ngantuk..)

This is Islam

People of the world…..
Do you know the truth about….. Islam?
Or do you think it’s about
Bombing planes and killing innocent people…..?
Forget about the lies…..
I’ am here to tell you how it really is…..
You deserve to know the truth
About this beautiful way of life…..
People of the world
Islam is all about peace
Terrorism it doesn’t teach
Its all about love and family and charity
And praying to one God
This is Islam
It’s something you should know…..
I know it’s really helped me grow
It does away with greed, filth, arrogance
And teaches us morality
A perfect way to live…..
So don’t believe all you see and hear
Too many people wear a title of a Muslim…..
But they don’t practice Islam…..
People of the world
Islam is all about peace
Terrorism it doesn’t teach
Its all about love and family and charity
And praying to one God
This is Islam
And it teaches us the creator’s made this life for us a test…..
And if we follow truth and do good deeds, He’ll reward us in the Next…..
If we remember God & teach each other the truth and patience in His way
Together we can live…..in peace…..
This is Islam

–Mustaqim Sahir

—Lagunya bagus juga loh…cek di youtube deh..

Kepakan Sayap Kecil

bagus warnanya, match ama background...

bagus warnanya, match ama background...

Saya pernah baca kalo sebuah kepakan sayap, walaupun sangat kecil, bisa membawa pengaruh yang sangat besar, tak terbayang sebelumnya. Walau saya bacanya di novel fantasi (seperti biasa), tapi kata2nya inspiratif banget. Gini kira2, “Sebuah kepakan sayap kupu2 kecil di daratan China bisa menyebabkan tornado dahsyat di Amerika beberapa waktu setelahnya.”

Ya, semua yang ada di dunia ini saya rasa saling berpengaruh. Allah ga mungkin menciptakan sesuatu tanpa ada manfaat di baliknya. Bahkan, monera yang sangat kecil sekalipun bermanfaat, setidaknya untuk dirinya sendiri dan koloni di sebelahnya. Subhanallah.

Ayo coba pikirin makna kata2 di atas. Sederhana dan tampak tidak rasional emang. Masa sih, sebuah kepakan sayap kupu2 bisa menyembabkan tornado? Hey, jangan pikirin kejadiannya, tapi pikirin aja makna di baliknya. Setidaknya, ada dua hal yang bisa saya tangkep. Pertama, sekecil apapun perjuangan kita di jalan kebaikan, pasti suatu saat akan membuahkan hasil, tanpa kita duga sebelumnya. Allah akan menyimpan ‘video’ perjuangan kita itu baik-baik, lalu suatu saat, bahkan mungkin saat itu juga Dia tunjukkan pada kita hasilnya. Misalnya aja, kita coba bersedekah buat pengamen di jalan, kita kasih tuh dia 500 rupiah, ridho lillahita’ala. Beberapa saat kemudian, tanpa kita sadari, tanpa kita ingat kejadian itu, nenek ngasih kita thr yang lebih besar, berpuluh2 kali lipat dari yang kita keluarkan. Allah memberikan rezeki dari arah yang tidak kita sangka-sangka, iya kan? (At-Talaq : 2-3) Perbuatan kita yang kita anggap remeh itu, memberikan hasil yang luar biasa meski kita ga menyadarinya..

Yang kedua, kalo kata saya, makna dari kata2 itu adalah, bahwa amal perbuatan kita, sekecil biji sawi pun akan Allah balas nanti, baik yang buruk dan yang baik. Disebutkan dalam Al-Qur’an berkali-kali.. iya kan? (Al-zalzalah ayat 7-8)..

Semoga itu memberikan motivasi buat kita untuk terus berjuang, menegakkan agama ini, berdakwah, amar makruf nahi munkar, berjuang untuk lebih mencintai-Nya. Perjuangan yang kecil aja akan menghasilkan hasil yang hebat, apalagi kalo kita berjuang dengan sekuat tenaga? Hmm, bisa dibayangkan betapa besarnya hasil yang insya Allah bisa dicapai (WOW!). Semua karena kuasa dan kebesaran Allah..

Wallahualam bish shawab…