Mari Bersinergi!

“Saya ingin ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Kalimat di atas bukan dikatakan oleh seorang politikus terkenal, bukan juga oleh seorang aktivis partai politik. Kalimat itu diucapkan oleh seorang mahasiswa ITB yang mempunyai cita-cita luhur. Dialah Ikhsan Abdussyakur.

Nama Ikhsan Abdusyakur atau yang biasa dikenal dengan Syakur mungkin sudah tidak asing lagi bagi telinga massa kampus ITB. Bagaimana tidak, sosok periang dan bersemangat ini aktif dimana-mana, mulai dari Keluarga Mahasiswa ITB, Himpunan Mahasiswa Elektro atau HME, dan sekarang aktif sebagai Anggota MWA Wakil Mahasiswa ITB.

Syakur lahir pada tanggal 29 Juni 1988. Setelah lulus dari SMA 8 Jakarta di tahun 2006, dia melanjutkan kuliah ke Teknik Telekomunikasi ITB. Di kampus, selain aktif di dunia akademis, pemuda penggemar klub sepakbola AC Milan ini juga aktif di berbagai organisasi. Dia pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Elektro.

“Saat menjadi Kahim, saya berusaha untuk terus menjalin hubungan baik dengan prodi dan rektorat. Ya, kita butuh untuk berkolaborasi dengan mereka dan mereka pun butuh kita. Dengan begitu, kita bisa menjadi lebih berkesempatan untuk melahirkan karya besar. Contohnya saja Palapa untuk himpunan saya,” ujarnya.

Menurutnya, perguruan tinggi idealnya melahirkan seorang mahasiswa yang bukan hanya cerdas di bidang akademis, melainkan juga memiliki inovasi, keingintahuan terhadap permasalahan di masyarakat, dan punya semangat untuk mengabdi pada masyarakat dalam diri masing-masing. Intinya, lulusan ITB harus memiliki integritas dalam dirinya.

“Mahasiswa sekarang cenderung menghadapi pilihan yang dilematis, yaitu kuliah dan organisasi. Padahal, kedua hal itu bisa berjalan secara sinergis, saling melengkapi,” kata Syakur.

Sinergi

Syakur juga berpendapat bahwa kegiatan mahasiswa juga harus sinergis dengan pihak rektorat. “Kita masih bergerak sendiri-sendiri,” katanya. “Padahal, kalau kita bergerak bersama, hasilnya akan luar biasa.”

Sekarang, Syakur aktif di Majelis Wali Amanat Wakil Mahasiswa. Syakur mempunyai visi untuk meningkatkan sinergi antara pihak rektorat dengan mahasiswa agar dapat bermanfaat bagi Indonesia. Di MWA, cakupan kegiatannya lebih luas sehingga kolaborasi untuk berkarya juga bisa lebih luas.

“Sebagai Anggota MWA Wakil Mahasiswa, kami punya kewenangan untuk menyalurkan aspirasi mahasiswa ke rektorat, menyampaikan info dari rektorat ke mahasiswa, dan menunjukkan bahwa mahasiswa itu adalah subjek pendidikan, bukan objek pendidikan.”

Dia berharap suatu saat nanti terdapat integrasi pengembangan softskill dalam kegiatan akademik, misalnya saja ada mata kuliah kepemimpinan atau organisasi. Target yang ingin Syakur capai adalah berjalan baiknya komunikasi dan meningkatnya kepercayaan antara mahasiswa dan pihak kampus. Semoga target tersebut dapat tercapai, untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Negeriku Tak Seperti Itu!!!

Yup, negeri saya, negeri Indonesia tidak seperti yang ditulis di atas. Saya berharap yang dimaksud orang yang nulis di truk tersebut bukan negeri ini..^_^

Mungkin, yang bed*bah bukan negerinya..tapi para koruptor dan penjahat negeri yang ga tau malu menguras kekayaan negeri untuk dirinya sendiri. Terkutuklah mereka-mereka itu, yang dengan sengaja, sembunyi-sembunyi, mengobrak-abrik pertahanan mental bangsa dengan hasrat memperkaya diri. Mencoreng harkat dan martabat bangsa, membuat tangis membahana di alam negeri..

TIKUS

aku melihat tikus tadi pagi
mencari keju, mengorek laci
menggigit kayu, mencicit tidak lucu
dan saat akan kutangkap
dia pergi melompat, mencari tempat pengap
dan aku hanya bisa berharap sang tikus terperangkap

aku melihat televisi tadi di siang hari
saat melihat seorang bapak digiring oleh polisi
katanya dia mengambil duit punya negeri
tanpa izin tetapi
dan dia berlari-lari bersembunyi,
berharap tak ditemukan jejak kakinya

lalu, apa bedanya korupsi dan tikus tadi pagi?
mencuri
lari
bersembunyi
untuk perut sendiri.

*gambar diambil dengan kamera hape SE K510i waktu saya dan opan jalan2 ke Depok beberapa waktu lalu..^^

Indonesische Onderwijs (Pendidikan Indonesia)

Salah satu tujuan dari pendidikan yang dilaksanakan di Indonesia adalah “memanusiakan manusia”. Menjadi manusia seutuhnya, yang tidak hanya peduli terhadap kenyangnya perut sendiri, melainkan juga yang respect terhadap orang di sekelilingnya, mempunyai jiwa empati, mempunyai rasa kekhawatiran juga akan hidup orang lain, dan memiliki integritas yang tinggi dalam bertindak. Tidak hanya membuang muka saat ditanya, tapi mendekati, berani mejawab meski dalam hati. Bersinergi dengan alam, tidak merusaknya dengan kejam. Mengerti bahwa tidak akan ada kehidupan saat alam sudah murka, mengeluarkan semua isinya. Memahami bahwa yang ada di bumi semuanya terhubung dalam satu sistem yang tertata rapi, yang akan sulit kembali seimbang saat ada yang membenci. Ya, pendidikan memang seharusnya memanusiakan manusia. Manusia yang tidak menjadi robot, melahap semua ilmu tanpa mampu mengaplikasikan untuk secercah kesejahteraan. Sudahkah, Indonesia?

Secara teori, setiap institusi pendidikan mengamalkan prinsip itu, Tertulis jelas dalam poster di ruang tamu sekolah bahwa visinya adalah untuk membentuk manusia yang bukan hanya berilmu, tapi jelas berakhlakul karimah, bertindak sesuai dengan rasa kemanusiaan dalam setiap aktivitas. Akan tetapi, dalam prakteknya, ilmu dan akhlak terpuji seolah berjalan di dua gang yang berbeda. Seperti sekuler. Berjalan sendiri, tanpa kenal satu sama lain. Akhlak yang baik hanya tercantum di buku-buku agama, juga kewarganegaraan, tanpa kemasan yang menarik sehingga siswa, untuk menyentuhnya pun merasa enggan. Etika mungkin hanya diajarkan beberapa jam saja dalam satu semester, atau mungkin satu tahun. Kejujuran hanya ada di dalam salah satu bab Kewarganegaraan, itu pun hanya di SD, karena di SMP dan SMA, Kewarganegaraan sudah masuk ke bab yang pure tentang negara. Begitu juga dengan rasa empati, rendah hati, mawas diri, dan sebagainya. Sekolah-sekolah lebih lanjut sepertinya tidak menganggap bahwa itu adalah hal-hal yang penting, menganggap bahwa siswanya sudah dewasa, tahu yang mana hitam, yang mana putih.

Mari kembali pada tujuan pendidikan di atas. Memanusiakan manusia. Sungguh tujuan yang mulia jika kita dapat mengerti maksudnya. Perlu kita garis bawahi kata pendidikan. Menurut UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Ya, itulah arti pendidikan secara umum. Ternyata, ilmu tidak bisa dipisahkan dengan ke-spiritual-an.

Tidak sulit untuk mengombinasikan keduanya. Mendidik juga berarti memaksukkan nilai-nilai kehidupan, tidak hanya menyuruh siswa untuk menghirup ilmu-ilmu eksak. Apa gunanya ilmu di tangan orang yang akan menghancurkan dunia? Apa gunanya ilmu di tangan orang yang salah?

Banyak sekali sunnah Rasulullah yang sebenarnya bukan berasal dari perkataan beliau, tapi dari perbuatannya. Seorang teladan akan lebih banyak memberikan contoh daripada berkata tanpa ada isi.Talk less do more. Tidak akan meresap ke dalam hati siswa saat guru banyak berceloteh tentang pembangunan karakter tapi tidak didukung oleh karakter yang baik dari gurunya. Jangan sampai hanya menjadi sekedar motto, kemasan di luar. Atau, saat seorang guru berkata tentang pentingnya kejujuran, tapi saat ulangan, kelas ditinggalkan tanpa pengawasan, padahal sang guru hanya ingin bersantai. Pendidikan butuh waktu, tidak instan. Pendidikan diharapkan memberi bekas jangka panjang, seperti sebuah unsur radioaktif yang meluruh. Bukan masuk ke telinga kanan, lalu keluar secepatnya di telinga kiri. Pendidikan dapat dimulai dari proses melihat sesuatu, berpikir apakah itu pantas dan benar untuk ditiru, lalu berusaha mencari cara untuk menirunya, improvisasi, lalu terciptalah sebuah tindakan yang benar. Proses.

Kemana integritas yang seharusnya menjadi salah satu sifat KEMANUSIAAN yang alami saat ujian nasional berlangsung? Itu hanya satu contoh nyata. Seluruh pihak di sekolah sibuk, ingin siswa-siswanya lulus dengan nilai ajaib, menggembirakan, dan membanggakan dibanding sekolah lainnya. Jalan yang benar-benar singkat pun ditempuh. Jika ada kesempatan mencari kunci jawaban sebelum soal dibagikan, maka itu dianggap sebuah anugerah. Sekolah-sekolah ingin memperlihatkan kepada publik bahwa sekolahnya berstandar baik, walau dengan cara busuk. Akan tetapi, itu hanya sebagian, tidak semua sekolah seperti itu.

Dan sekarang, saat semua sistem pendidikan belum seluruhnya terpenuhi, maksud saya, pendidikan yang memanusiakan manusia, judul-judul SEKOLAH BERSTANDAR INTERNASIONAL muncul seperti cendawan di musim hujan di sekolah-sekolah. Semuanya seolah berlomba memproklamasikan dirinya ke hadapan publik bahwa sekolahnya adalah sekolah yang sudah mampu bersaing dengan dunia luar. Berbagai fasilitas yang menunjang kegiatan belajar mengajar pun dimasukkan ke dalam anggaran belanja sekolah, mulai dari infocus, komputer, meja-meja yang bagus, dll. Dan semua itu, tidak membutuhkan biaya yang sedikit, membuat biaya masuk dan sekolah di sana sangat tidak murah. Biaya bulanan yang harus dikeluarkan oleh orang tua bisa mencapai ratusan ribu, bahkan jutaan. Lalu, dimana orang miskin bisa sekolah?

Oh, bukannya pemerintah sudah membuat sebuah program hebat, wajib belajar 9 tahun? Program itu membuat sekolah-sekolah dasar dan menengah pertama gratis. Hmm, coba ditilik lebih lanjut. Ke-gratis-an program itu hanya untuk sekolah tak ber-SBI. Jika seperti itu, coba bayangkan jika semua sekolah berlomba-lomba mendapatkan titel SBI, dimana mereka sekolah? Kenapa dengan SBI? Pemerintah menggratiskan sekolah, maka tidak ada lagi kucuran dana dari orang tua yang bisa sekolah minta, karena itulah banyak sekolah yang mencari cara lain, SBI-lah salah satunya.

Zaman kolonial pun, orang miskin sulit untuk sekolah, lalu apa bedanya dengan sekarang? Seperti deja vu, kita kembali ke zaman dulu. Memang ada yang mengatakan bahwa sejarah itu adakalanya berulang, berputar seperti lingkaran di poros yang sama. Zaman dulu, sekolah untuk orang-orang Belanda dan pribumi yang ningrat. Sekarang, pendidikan berkualitas juga untuk orang-orang berduit. Sejarah berulang bukan?

Banyak civitas academica yang menggunakan label itu, padahal kualitas tidak terjaga. Ya, seolah-olah hanya mengikuti pasar penjualan. Ingin menggunakan bahasa asing saat pembelajaran, padahal gurunya sendiri terbata-bata dalam berbahasa inggris. Menambah fasilitas, tetapi fasilitas yang lama terabaikan, dari mulai kelas bocor, bangku yang tidak layak lagi, dan masalah lainnya. Padahal, ada sebuah fakta unik di negeri ini. Tahun ini, yang menjadi JUARA SATU saat Ujian Nasional untuk SD, SMP, dan SMA adalah siswa dari sekolah yang BUKAN berlabel hebat itu. Dia berasal dari sekolah biasa-biasa saja. Dan yang paling penting, sepertinya banyak sekolah yang menganggap bahwa kegiatan ekskul itu tidak terlalu penting lagi.

Ya, study oriented sekali. Birokrasi seperti dipersulit jika siswa ingin mengadakan suatu acara. Kegiatan ekskul dibatasi, begitu juga dananya. Hanya untuk meminjam bangku dari dalam kelas saja, susahnya bukan main, mesti ada surat jauh-jauh hari. Bahkan, ada sekolah yang untuk beberapa waktu di awal tahun pelajaran tidak memperbolehkan adanya kegiatan ekskul. Dan hasilnya mungkin tidak diketahui oleh sekolah. Karena tidak ada penyalur kegiatan, siswa-siswa baru akhirnya hanya nongkrong-nongkrong sepulang sekolah, sambil mencoba beberapa batang obat yang katanya pengobat stres.

Kreatif? TIDAK sama sekali. Pemikiran-pemikiran fresh dari murid baru di-stop. Pengalaman untuk organisasi? Ada, tapi agak terlambat. Sosialitas? Berkurang drastis. Persaudaraan? Apalagi.

Beberapa teman saya mengatakan bahwa, semakin lama, aktivitas siswa sepulang sekolah sudah jarang ditemukan. Kecenderungan siswa adalah belajar di sekolah, lalu les, atau langsung pulang. Organisasi dan pendidikan sosial di masyarakat semakin terlupakan. Padahal, banyak sekali nilai yang didapatkan di kedua aktivitas itu, yang, SAYA YAKIN akan ada manfaatnya di kemudian hari.

Pendidikan Indonesia, memanusiakan manusia. Akankah manusia kita hilang suatu saat nanti, saat setengah dari metode pembelajaran itu menguap entah kemana?

Entah, saya tidak tahu.

Games

Terinspirasi dari temen (^_^) yang nanyain tentang games apa yang bisa ningkatin kerja sama kelompok, saya googling dan menemukan beberapa games berikut ini, hasil co-pas dari sumber di bawah..

1. Boom 7

Peserta diharuskan berhitung jika ketemu angka dan kelipatan 7 harus menyebutkan boom.

Contoh : 1,2,3,4,5,6,boom,8,9,10,11,12,13,boom,15,16,boom, dan seterusnya…

Jika peserta yang melanggar akan diberi sanksi yakni dikerjain.

Tujuan : untuk melatih konsentrasi dan daya ingat para peserta.

2. Puzzle

Peserta / kelompok diharuskan memasang gambar yang susunannya diacak. Intinya sih sama seperti main puzzle biasa, Tapi ini dibutuhkan kecepatan dan ketelitian dalam memasangnya. (soalnya di puzzle itu ada keywordnya dan diberi waktu hanya 1 menit).

Alat yang digunakan : puzzle dan kertas.

Tujuan : untuk melatih daya pikir, ketelitian dan kecepatan tangan.

3. Komunikata

Salah satu peserta dari kelompok memilih kalimat, lalu kalimat tersebut diaplikasikan ke kelompoknya. Caranya kalimat tersebut harus dibisikan berurutan ke teman kelompoknya dengan cara berbanjar / baris memanjang. Peserta yang paling ujung harus memberikan hasil kalimat yang telah dibisikan ke panitia.

Tujuan : untuk melatih daya pendengaran, daya pengucapan, dan daya ingat.

4. Pipa Korupsi

Setiap kelompok diharuskan mengisi air ke dalam pipa yang sisi pipanya sudah diberikan lubang kecil. Kelompok yang dapat mengisi air lebih banyak ke dalam pipa dalam waktu 10 menit maka ia adalah pemenangnya.

Tujuan : untuk melatih tingkat kerjasama tim, kekompakan, kekreatifan dan daya nalar peserta.

5. Langkah Misteri

Awalnya setiap peserta dalam kelompok harus menghadap membelakangi kotak angka 1-20, lalu peserta bergiliran jalan menebak beberapa kotak angka dari 1-20. Agar mereka dapat berjalan hingga ke angka 20, setiap peserta harus menebak kotak tersebut ada yang bisa dilalui dan tidak dapat dilalui. Jika peserta melewati kotak yang tidak dapat dilalui maka ia harus mengulang lagi dan mengantri ke urutan terakhir.

Alat yang digunakan : Karton / Koran yang di beri nomor 1-20 dan kertas.

Tujuan : untuk melatih daya ingat, kerjasama tim, dan daya nalar.

6. Lingkaran Setan

Semua peserta dalam kelompok harus menyentuh bola plastik yang ada di tengah lingkaran dengan dengan syarat tidak diperbolehkan anggota tubuh menyentuh garis lingkaran dan setelah panitia berkata “mulai” maka anggota kelompok mulai melepaskan tangannya dari menyentuh bola sesuai urutan giliran dalam lingkaran tersebut. Bagi yang terakhir harus mengambil bolanya keluar lingkaran tersebut.

Tujuan : untuk melatih kekompakan, daya nalar, dan kerjasama tim.

7. Jejak Maut

Dalam satu tim diharuskan menunjuk satu orang yang menjadi leader dan anggota sisanya harus siap untuk ditutup matanya satu persatu. Setiap anggota kelompok bergantian harus jalan melewati rintangan yang berupa gelas aqua, kardus, dan sandal dengan mata ditutup kain / slayer dan orang yang menjadi leader harus memberikan instruksi kepada anggota kelompok yang matanya tertutup hingga ia dapat mencapai garis finish. Tetapi saat leader dari satu kelompok memberikan instruksi, panitia dan musuh dari kelompoknya dibolehkan memberikan instruksi juga sehingga konsentrasi dari peserta yang ditutup matanya menjadi buyar.

Syarat : kelompok yang sedang bermain harus ditutup matanya, kecuali orang yang menjadi leader.

Tujuan :

untuk melatih rasa kepercayaan kepada teman kita

untuk melatih diri agar siap untuk dipimpin

untuk melatih seseorang dalam jiwa kepemimpinan

untuk melatih seberapa dekat mengenal suara teman kita dalam satu kelompok

8. Trust your Friend

Permainan ini hampir sama dengan permainan di atas, yakni Seluruh mata anggota kelompok ditutup kain / slayer kecuali satu orang yang menjadi leader. Panitia akan mengacak peserta yang ditutup matanya hingga berpencar satu sama lain. Seorang leader bertugas memberikan instruksi kepada anggota kelompok yang ditutup matanya dan diharuskan membuat lingkaran kecil didepannya dan saling berpegangan. Ketika leader memberikan instruksi, panitia berusaha membuyarkan daya pikir mereka dengan cara panitia memberikan instruksi juga dan mengatur gerakan mereka.

Tujuan :

Untuk melatih rasa kepercayaan kepada teman kita

Untuk melatih jiwa kepemimpinan terhadap seorang

Untuk melatih tingkat kekompakan dan kerjasama tim

9. SpiderWeb

Setiap anggota kelompok harus melewati jarring-jaring yang telah dibuat panitia dengan tidak menyentuh tali yang dibuat panitia dan setiap jaring-jaring yang sudah dimasuki oleh anggotanya tidak boleh lagi dimasuki oleh anggota kelompok yang lainnya.

Tujuan : untuk melatih kekompakan, kebersamaan dan solidaritas.

10. Kotak Berganda

Seluruh anggota harus dapat masuk dalam kotak yang ukurannya mulai besar hingga kecil. Dan seluruh anggota dilarang keluar kotak / garis yang ditentukan oleh panitia. Peserta harus bertahan di kotak terakhir / kotak terkecil selama 30 detik.

Tujuan : untuk melatih rasa solidaritas, kekompakan dan kebersamaan

11. Kertas Panas

Setiap peserta kelompok diharuskan melipat sebuah kertas menjadi 10 sisi (tergantung jumlah anggota kelompok) di sisi pertama dituliskan nama anda masing-masing. Setiap peserta diharuskan mengisi setiap sisi tentang pandangan mereka terhadap peserta yang bersangkutan dalam waktu 10 detik / peserta kelompok dengan cara kertas diputar secara bergilir.

Alat yang digunakan : kertas dan pulpen / pensil.

Tujuan : untuk mengetahui pandangan rekan sekelompok terhadap diri peserta.

12. Botol Metal

Satu kelompok akan diberikan 5 bola kertas yang harus dilemparkan ke botol yang telah disediakan panitia. Peserta dalam melemparkan bola kertas akan diberikan jarak 10 meter.

Alat yang digunakan : botol beling dan bola kertas / bola koran.

Tujuan : untuk melatih tingkat ketepatan peserta dalam menganalisa suatu masalah

13. Konsentrasi Style

Setiap peserta harus menghapalkan semua nama gerakan yang diberikan panitia, jika panitia menyebutkan kata yang diinginkan maka peserta harus menunjukan salah satu gerakan yang tak disebutkan. (intinya hampir sama permainan pundak lutut kaki).

Tujuan : untuk melatih konsentrasi

blognya Kang Subhan Apriyatna

Surat dari Bilal

Saya ingin berbagi sebuah artikel yang menarik nih. Artikel ini saya baca pas saya masih duduk di kelas 3 SMA. Waktu itu saya diminta teman untuk memilih beberapa artikel untuk dimasukkan ke dalam buletin kelas. Dia memberikan banyak sekali artikel dalam bentuk soft copy. Saya pun membaca artikel-artikel itu, hingga suatu saat saya menemukan artikel yang membuat air mata saya mengalir. Sumbernya saya kurang tahu, tapi di filenya tertulis eramuslim. Hmm, mungkin memang dari eramuslim.com.

Okey, ini dia artikelnya, judul aslinya Aku Memanggil Kalian

Bismillah, Assalamu’alaikum….

Perkenalkan!
Namaku Bilal. Ayahku bernama Rabah, seorang budak dari Abesinia, oleh karena itu nama panjangku Bilal Bin Rabah. Aku tidak tahu mengapakah Ayah dan Ibuku sampai di sini, Makkah. Sebuah tempat yang hanya memiliki benderang matahari, hamparan sahara dan sedikit pepohonan. Aku seorang budak yang menjadi milik tuannya. Umayyah, biasa tuan saya itu dipanggil. Seorang bangsawan Quraisy, yang hanya peduli pada harta dan kefanaan. Setiap jeda, aku harus bersiap kapan saja dilontarkan perintah. Jika tidak, ada cambuk yang menanti akan mendera bagian tubuh manapun yang disukainya.

Setiap waktu adalah sama, semua hari juga serupa tak ada bedanya, yakni melayani majikan dengan sempurna. Hingga suatu hari aku mendengar seseorang menyebutkan nama Muhammad. Tadinya aku tak peduli, namun kabar yang ku dengar membuatku selalu memasang telinga baik-baik. Muhammad, mengajarkan agama baru yaitu menyembah Tuhan yang maha tunggal. Tidak ada tuhan yang lain. Aku tertarik dan akhirnya, aku bersyahadat diam-diam.

Namun, pada suatu hari majikanku mengetahuinya. Aku sudah tahu kelanjutannya. Mereka memancangku di atas pasir sahara yang membara. Matahari begitu terik, seakan belum cukup, sebuah batu besar menindih dada ini. Mereka mengira aku akan segera menyerah. Haus seketika berkunjung, ingin sekali minum. Aku memintanya pada salah seorang dari mereka, dan mereka membalasnya dengan lecutan cemeti berkali-kali. Setiap mereka memintaku mengingkari Muhammad, aku hanya berucap “Ahad… ahad”. Batu diatas dada mengurangi kemampuanku berbicara sempurna. Hingga suatu saat, seseorang menolongku, Abu Bakar menebusku dengan uang sebesar yang Umayyah minta. Aku pingsan, tak lagi tahu apa yang terjadi.

Segera setelah sadar, aku dipapah Abu Bakar menuju sebuah tempat tinggal Nabi Muhammad. Kakiku sakit tak terperi, badanku hampir tak bisa tegak. Ingin sekali rubuh, namun Abu Bakar terus membimbingku dengan sayang. Tentu saja aku tak ingin mengecewakannya. Aku harus terus melangkah menjumpai seseorang yang kemudian ku cinta sampai nafas terakhir terhembus dari raga. Aku tiba di depan rumahnya. Ada dua sosok disana. Yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib sepupunya yang masih sangat muda dan yang di sampingnya adalah dia, Muhammad.

Muhammad, aku memandangnya lekat, tak ingin mata ini berpaling. Ku terpesona, jatuh cinta, dan merasakan nafas yang tertahan dipangkal tenggorokan. Wajahnya melebihi rembulan yang menggantung di angkasa pada malam-malam yang sering ku pandangi saat istirahat menjelang. Matanya jelita menatapku hangat. Badannya tidak terlalu tinggi tidak juga terlau pendek. Dia adalah seorang yang jika menoleh maka seluruh badannya juga. Dia menyenyumiku, dan aku semakin mematung, rasakan sebuah aliran sejuk sambangi semua pori-pori yang baru saja dijilati cemeti.

Dia bangkit, dan menyongsongku dengan kegembiraan yang nampak sempurna. Bahkan hampir tidak ku percaya, ada genangan air mata di pelupuk pandangannya. Ali, saat itu bertanya “Apakah orang ini menjahati engkau, hingga engkau menangis”. “Tidak, orang ini bukan penjahat, dia adalah seorang yang telah membuat langit bersuka cita”, demikian Muhammad menjawab. Dengan kedua tangannya, aku direngkuhnya, di peluk dan di dekapnya, lama. Aku tidak tahu harus berbuat apa, yang pasti saat itu aku merasa terbang melayang ringan menjauhi bumi. Belum pernah aku diperlakukan demikian istimewa.

Selanjutnya aku dijamu begitu ramah oleh semua penghuni rumah. Ku duduk di sebelah Muhammad, dan karena demikian dekat, ku mampu menghirup wewangi yang harumnya melebihi aroma kesturi dari tegap raganya. Dan ketika tangan Nabi menyentuh tangan ini begitu mesra, aku merasakan semua derita yang mendera sebelum ini seketika terkubur di kedalaman sahara. Sejak saat itu, aku menjadi sahabat Muhammad.

Kau tidak akan pernah tahu, betapa aku sangat beruntung menjadi salah seorang sahabatnya. Itu ku syukuri setiap detik yang menari tak henti. Aku Bilal, yang kini telah merdeka, tak perlu lagi harus berdiri sedangkan tuannya duduk, karena aku sudah berada di sebuah keakraban yang mempesona. Aku, Bilal budak hitam yang terbebas, mereguk setiap waktu dengan limpahan kasih sayang Al-Musthafa. Tak akan ada yang ku inginkan selain hal ini.

Oh iya, aku ingin mengisahkan sebuah pengalaman yang paling membuatku berharga dan mulia. Inginkah kalian mendengarnya?

Di Yathrib, mesjid, tempat kami, umat Rasulullah beribadah telah berdiri. Bangunan ini dibangun dengan bahan-bahan sederhana. Sepanjang hari, kami semua bekerja keras membangunnya dengan cinta, hingga kami tidak pernah merasakan lelah. Nabi memuji hasil kerja kami, senyumannya selalu mengembang menjumpai kami. Ia begitu bahagia, hingga selalu menepuk setiap pundak kami sebagai tanda bahwa ia begitu berterima kasih. Tentu saja kami melambung.

Kami semua berkumpul, meski mesjid telah selesai dibangun, namun terasa masih ada yang kurang. Ali mengatakan bahwa mesjid membutuhkan penyeru agar semua muslim dapat mengetahui waktu shalat telah menjelang. Dalam beberapa saat kami terdiam dan berpandangan. Kemudian beberapa sahabat membicarakan cara terbaik untuk memanggil orang-orang.

“Kita dapat menarik bendera” seseorang memberikan pilihan.
“Bendera tidak menghasilkan suara, tidak bisa memanggil mereka”
“Bagaimana jika sebuah genta?”
“Bukankah itu kebiasaan orang Nasrani”
“Jika terompet tanduk?”
“Itu yang digunakan orang Yahudi, bukan?”

Semua yang hadir di sana kembali terdiam, tak ada yang merasa puas dengan pilihan-pilihan yang dibicarakan. Ku lihat Nabi termenung, tak pernah ku saksikan beliau begitu muram. Biasanya wajah itu seperti matahari di setiap waktu, bersinar terang. Sampai suatu ketika, adalah Abdullah Bin Zaid dari kaum Anshar, mendekati Nabi dengan malu-malu. Aku bergeser memberikan tempat kepadanya, karena ku tahu ia ingin menyampaikan sesuatu kepada Nabi secara langsung.

“Wahai, utusan Allah” suaranya perlahan terdengar. Mesjid hening, semua mata beralih pada satu titik. Kami memberikan kepadanya kesempatan untuk berbicara.

“Aku bermimpi, dalam mimpi itu ku dengar suara manusia memanggil kami untuk berdoa…” lanjutnya pasti. Dan saat itu, mendung di wajah Rasulullah perlahan memudar berganti wajah manis berseri-seri. “Mimpimu berasal dari Allah, kita seru manusia untuk mendirikan shalat dengan suara manusia juga….”. Begitu nabi bertutur.

Kami semua sepakat, tapi kemudian kami bertanya-tanya, suara manusia seperti apa, lelakikah?, anak-anak?, suara lembut?, keras? atau melengking? Aku juga sibuk memikirkannya. Sampai kurasakan sesuatu diatas bahuku, ada tangan Al-Musthafa di sana. “Suara mu Bilal” ucap Nabi pasti. Nafasku seperti terhenti.

Kau tidak akan pernah tahu, saat itu aku langsung ingin beranjak menghindarinya, apalagi semua wajah-wajah teduh di dalam mesjid memandangku sepenuh cinta. “Subhanallah, saudaraku, betapa bangganya kau mempunyai sesuatu untuk kau persembahkan kepada Islam” ku dengar suara Zaid dari belakang. Aku semakin tertunduk dan merasakan sesuatu bergemuruh di dalam dada. “Suaramu paling bagus duhai hamba Allah, gunakanlah” perintah nabi kembali terdengar. Pujian itu terdengar tulus. Dan dengan memberanikan diri, ku angkat wajah ini menatap Nabi. Allah, ada senyuman rembulannya untukku. Aku mengangguk.

Akhirnya, kami semua keluar dari mesjid. Nabi berjalan paling depan, dan bagai anak kecil aku mengikutinya. “Naiklah ke sana, dan panggillah mereka di ketinggian itu” Nabi mengarahkan telunjuknya ke sebuah atap rumah kepunyaan wanita dari Banu’n Najjar, dekat mesjid. Dengan semangat, ku naiki atap itu, namun sayang kepalaku kosong, aku tidak tahu panggilan seperti apa yang harus ku kumandangkan. Aku terdiam lama.

Di bawah, ku lihat wajah-wajah menengadah. Wajah-wajah yang memberiku semangat, menelusupkan banyak harapan. Mereka memandangku, mengharapkan sesuatu keluar dari bibir ini. Berada diketinggian sering memusingkan kepala, dan ku lihat wajah-wajah itu tak mengharapkan ku jatuh. Lalu ku cari sosok Nabi, ada Abu Bakar dan Umar di sampingnya. “Ya Rasul Allah, apa yang harus ku ucapkan?” Aku memohon petunjuknya. Dan kudengar suaranya yang bening membumbung sampai di telinga “ Pujilah Allah, ikrarkan Utusan-Nya, Serulah manusia untuk shalat”. Aku berpaling dan memikirkannya. Aku memohon kepada Allah untuk membimbing ucapanku.

Kemudian, ku pandangi langit megah tak berpenyangga. Lalu di kedalaman suaraku, aku berseru :

Allah Maha Besar. Allah Maha Besar
Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah
Aku bersaksi bahwa Muhammad Utusan Allah
Marilah Shalat
Marilah Mencapai Kemenangan
Allah Maha Besar. Allah Maha Besar
Tiada Tuhan Selain Allah.

Ku sudahi lantunan. Aku memandang Nabi, dan kau akan melihat saat itu Purnama Madinah itu tengah memandangku bahagia. Ku turuni menara, dan aku disongsong begitu banyak manusia yang berebut memelukku. Dan ketika Nabi berada di hadapan ku, ia berkata “Kau Bilal, telah melengkapi Mesjidku”.

Aku, Bilal, anak seorang budak, berkulit hitam, telah dipercaya menjadi muadzin pertama, oleh Dia, Muhammad, yang telah mengenyahkan begitu banyak penderitaan dari kehidupan yang ku tapaki. Engkau tidak akan pernah tahu, mengajak manusia untuk shalat adalah pekerjaan yang dihargai Nabi begitu tinggi. Aku bersyukur kepada Allah, telah mengaruniaku suara yang indah. Selanjutnya jika tiba waktu shalat, maka suaraku akan memenuhi udara-udara Madinah dan Makkah.

Hingga suatu saat,

Manusia yang paling ku cinta itu dijemput Allah dengan kematian terindahnya. Purnama Madinah tidak akan lagi hadir mengimami kami. Sang penerang telah kembali. Tahukah kau, betapa berat ini ku tanggung sendirian. Aku seperti terperosok ke sebuah sumur yang dalam. Aku menangis pedih, namun aku tahu sampai darah yang keluar dari mata ini, Nabi tak akan pernah kembali. Di pangkuan Aisyah, Nabi memanggil ‘ummatii… ummatiii’ sebelum nafas terakhirnya perlahan hilang. Aku ingat subuh itu, terkakhir nabi memohon maaf kepada para sahabatnya, mengingatkan kami untuk senantiasa mencintai kalam Ilahi. Kekasih Allah itu juga mengharapkan kami untuk senantiasa mendirikan shalat. Jika ku kenang lagi, aku semakin ingin menangis. Aku merindukannya, sungguh, betapa menyakitkan ketika senggang yang kupunya pun aku tak dapat lagi mendatanginya.

Sejak kematian nabi, aku sudah tak mampu lagi berseru, kedukaan yang amat membuat ku lemah. Pada kalimat pertama lantunan adzan, aku masih mampu menahan diri, tetapi ketika sampai pada kalimat Muhammad, aku tak sanggup melafalkannya dengan sempurna. Adzanku hanya berisi isak tangis belaka. Aku tak sanggup melafalkan seluruh namanya, ‘Muhammad’. Jangan kau salahkan aku. Aku sudah berusaha, namun, adzanku bukan lagi seruan. Aku hanya menangis di ketinggian, mengenang manusia pilihan yang menyayangiku pertama kali. Dan akhirnya para sahabat memahami kesedihan ini. Mereka tak lagi memintaku untuk berseru.

Sekarang, ingin sekali ku memanggil kalian… memanggil kalian dengan cinta. Jika kalian ingin mendengarkan panggilanku, dengarkan aku, akan ada manusia-manusia pilihan lainnya yang mengumandangkan adzan. Saat itu, anggaplah aku yang memanggil kalian. Karena, sesungguhnya aku sungguh merindui kalian yang bersegera mendirikan shalat.

Alhamdulillah kisahku telah sampai, ku sampaikan salam untuk kalian.

Wassalamu’alaikum….

Ada yang terharu seperti saya? Semoga bukan hanya terharu, tapi kita juga mempunyai semangat dan izzah keislaman seperti beliau.



Ingin Aku Bergabung Denganmu, Pemuda Bangsa!

aku ada di sini.
di negeri yang penuh dengan janji-janji.
dari ibu bapak.
dari kakek nenek.
dari guru dan dosen.
dari mahasiswanya.
dari calon-calon pejabat negeri.
tak ketinggalan dari presiden, orang tertinggi
dan belum tentu semua terpenuhi.

aku berdiri di sini.
di bukit tandus yang penuh dengan duri
melihat ayahku yang bekerja tanpa henti.
dia kumpulkan sebotol, dua botol, tiga botol, sampai tak terhitung botol plastik bekas minum pejabat yang sedang rapat.
ayahku ada di sana.
di bukit subur di seberang bukitku.
tapi tumbuhannya sedikit berbeda, Kawan.
mereka layu dan bermacam-macam.
juga berwarna-warni.
banyak sekali bukit macam itu di negeri ini.
bahkan katanya, beberapa tahun lalu, bukit seperti ini pernah longsor di Cimahi.

Aku masih di bukitku yang kering.
dan kulihat jauh di sana, di negeri yang sama,
ibuku mengantri panjang sekali untuk mendapat seliter nasi.
juga sama dengan ibu kawanku.
ibu kawanku yang satunya.
dan juga tetangga-tetangga.
dan nenekku hampir terinjak-injak demi mendapat 3 lembar kertas merah.
sedang kakekku, dia terbatuk lemas di serambi.
tak kuat lagi membantu kami.

Aku masih belum beranjak.
meratapi nasib kami di atas bukit yang terpecah tanahnya.
lalu kulihat adikku.
dia sangat lucu dan memakai celana merah.
dan kemeja putih.
topinya, yang juga merah menutupi pitak di kepala.
wajahnya begitu cerah, mengangkat pensil murah di tangan kanannya.
tapi dia tak tahu itu murah.
dia hanya ingin sekolah.

Bukitku mungkin bosan melihatku terus terpaku.
tapi aku tak peduli, tetap di sini.
tiga detik aku menangis, aku melihat mobil-mobil melaju di jalan raya, diiringi barisan polisi.
itu mobil para orang tinggi, kataku.
semoga mereka melihat ibu, ayah, kakek, nenek, dan adikku,
juga ibu kawanku,
ibu kawanku yang satunya,
dan juga tetangga-tetangga
sejelas aku melihat semua dari atas sini.
melihat penderitaan kami.
semoga mereka teringat akan kami dan negeri ini saat mereka mau korupsi.
juga ingat tentang mati.

Lalu, saat aku akan pergi,
aku melihat kau, Saudaraku.
menyimak pelajaran di kelas yang kelam.
memperhatikan semua kata dari dosenmu yang tampak tua.
Mencatat setiap nama dari sejarah Fisika.
menghitung semua angka dari Integral dan Diferensial
dan lalu menyatakan aspirasi tentang kemajuan negeri ini pada dosen yang tak punya rasa nasionalisme.
kau membuatku kagum.

Lalu kau berkumpul dengan teman-temanmu.
mengenakan ikat kepala dan mengacungkan tangan, membawa bendera merah putih.
ya, kau meneriakkan nama kami.
nama semua keluargaku.
nama negeri kita.
dan aku terharu saat kau berkata,
“Hidup Rakyat Indonesia!!!”
Ya, ya!!
itu kita, Saudaraku.
kita rakyat Indonesia.
pewaris negeri ini, dari para pahlawan di zaman dulu.
kenapa kau menyebut-nyebut kita?
dan kemudian aku tahu.
kau adalah pemuda bangsa.
calon pemimpin bangsa.

aku akan turun dari bukitku.
aku akan berlari menyongsongmu..
membantumu membangun negeri ini.
negeri kita.
aku ingin kembali pada ibu, ayah, kakek, nenek, dan adikku.
aku ingin bertatap muka denganmu, Saudaraku.
calon pemimpin bangsa!!

Tapi ternyata aku tak bisa.
aku lupa.
kemarin aku baru saja mati.
ditabrak lari.
Tolong jaga adikku.
Bimbing ia agar menjadi sepertimu.

Old Child (judul asli : Budak Baheula)

Lagu::

Yeuh aya digigireun
Hey nu gelo ulah gandeng nde bobo
Insya allah enjing2 bade ngiring
Jeung ibuna naek kuda di ganesha

Yeuh ieu anak saya
Kasep bageur soleh nurun ti bapana
Gaduh kaos kaki seueur warna warni
Topi rompi bade meser tanggal hiji

Sing luhur sakola
Elehkeun si bapa
Bagikeun elmuna
Anu sombong moal boga babaturan

Yeuh tingal diri kami
Langkung bagja ti kaluarga cemara
Artos seueur tapina moal bebeja
Kami sieun bilih dipaok tatangga

Yeuh hayu geura gede
Indonesia geus direbut kelong wewe
Lamun maneh cicing wae teu kabere
Mun teu kabere mendingan cicing wae

Upami si bapa
Ngan nyieun kaera
Mun kitu hampura
Bapa mah maklum budak baheula

—panas dalam

Lagi ga ada inspirasi..jadi bedah lirik aja ah…

Tadi lagi ngomongin masa muda waktu les di Edulab sama temen, dan terasa nostalgia…inget kalo dulu pas di edulab kang Acung (ex guru matematika Edulab) sering banget dengerin lagu The Panas Dalam, band humor asal bandung yang kuliahnya di Seni Rupa ITB. Dengerin lagu2 Panas Dalam emang bikin ketawa, tapi liriknya tetep sarat makna. Banyaknya kritik2 thd kehidupan sosial (walaupun sebenernya harus ditelaah dan dipikirin lebih jauh lagi..hhe..:p)

Nah, lagu yang satu ini judulnya Budak Baheula. Buat yang ga ngerti bahasa Sunda, let me translate to Indonesia..

Nih ada di samping,,
Hey orang gila jangan berisik, mau bobo
Insya allah pagi2 mau ikut
Sama mamah naek kuda di ganesha
Nih ini anak saya
Cakep, baik, soleh, turunan bapanya
Punyakaos kaki banyak warna warni
Topi rompi mau beli tanggal satu
Sekolah yang tinggi..
Kalahin si bapa
Bagiin ilmunya
Yang sombong ga akan punya temen
Nih liat diri kami
Lebih bahagia dari keluarga cemara
Banyak duit tapi ga akan bilang siapa2
Takut diambil sama tetangga
Ayo cepet gede
Indonesia udah direbut kelong wewe
Kalo diem aja ga akan kebagian
Kalo ga kebagian mending diem aja
Kalo si bapa
Cuma bikin malu
Mohon dimaapin
Maklum bapa mah anak zaman dulu..

Hmm, menurut intelejensia saya, lagu ini bagusnya, nyeritain tentang masa kecil kita… Mamah yang ngedoain kita.. Pokoknya kasih sayang orang tua lah..Oia, ga boleh jadi orang yang sombong juga.. Itu kata mamah,.harus berbagi ke sesama manusia..

Makanya, kita harus berbakti sama orang tua..

Mungkin itu pesen dari lagu ini…hhaha..geje saya..

Menjadi INDONESIA !!!

ada yang memar, kagum banggaku
malu membelenggu
ada yang mekar, serupa benalu
tak mau temanimu

lekas,
bangun tidur berkepanjangan
menyatakan mimpimu
cuci muka biar terlihat segar
merapikan wajahmu
masih ada cara menjadi besar

ada yang runtuh, tamah ramahmu
beda teraniaya
ada yang tumbuh, iri dengkimu
cinta pergi kemana?

memudakan tuamu
menjelma dan menjadi indonesia

Efek Rumah Kaca-Menjadi Indonesia

Indonesia adalah negeri penuh pesona. Negeri luas di Asia sebelah tenggara. Membentang dari Aceh di ujung barat sampai ke timur, bumi Papua. Silih mengisi ruang dari Sulawesi di utara, sampai selatan, Nusa Tenggara. Ada ratusan suku bangsa, dan juga bahasa unik mereka yang menjadi masing-masing tanda. Semua terasa bahagia dengan segala harmonisasi yang tercipta. Tidak ada perang antar suku, bentrokan antar ras, kebencian antar daerah, karena ini Indonesia, dengan kesederhanaan dan keramahannya yang selalu terjaga.

peta-indonesia

Hayu ah!!! Kita menjadi pemuda Indonesia yang bukan hanya sekedar pemuda FOLLOWER, tapi juga jadi INSPIRATOR buat yang lain.

Masa Kecil

Masa kecil. Setiap orang akan berbeda-beda dalam mengingat masa kecilnya. Ada yang sangat bahagia, ada yang tertawa, ada yang mengernyitkan dahinya, ada yang langsung menangis, ada yang hanya tersenyum penuh misteri, bahkan ada juga yang langsung pergi, tak mau lagi meneruskan pembicaraan tentang hal itu. Masa kecil adalah kenangan. Kenangan yang tak akan terlupakan kecuali oleh orang yang amnesia, yang tak lagi bisa mengingat tentang hari kemarin, apalagi bertahun-tahun ke belakang.

Yang terlintas dalam benak saya saat mengingat masa kecil adalah : teriak dan tangis saat bermain, baju yang kotor saat mandi lumpur, badan yang basah saat berlari menembus hujan, senyum saat mendapat teman baru, gundah saat bermusuhan, dan tawa puas saat berhasil membuat orang tua dan tetangga jengkel. Akan tetapi, tidak semuanya menjadi bagian masa kecil saya.

Pulang sekolah, lapangan adalah tempat yang sangat menarik untuk dituju. Semua aktivitas bisa dilakukan di sana. Ya, tentu saja dengan teman sebaya yang, entah mengapa, bisa menjadi lebih menarik daripada televisi atau video game. Di sana, di lapangan voli kecil itu, anak-anak bermain bola, berlari-lari riang sampai sore menjelang. Esok harinya, di waktu yang sama, akan ada permainan baru lagi yang lebih menarik dari sebelumnya. Bermain sepeda, lempar bola, petak umpet, mengganggu teman yang lain, melempar genteng rumah orang dengan kerikil, dan memanjat pohon jambu semua tampak sangat biasa bagi kita, orang yang sudah tak merasakan nikmatnya masa kecil. Jangan bohongi diri bahwa kadang kita ingin kembali ke masa itu. Tapi, lihat Kawan, Bunda telah memanggil kita, dan usia sudah menuju senja.

sweetchildmemories

Ingin rasanya kembali ke masa itu. Pulang ke rumah dan meneriakkan salam, berganti baju dan makan siang, lalu tak sabar menanti waktu menunjukkan pukul tiga. Saat lonceng berbunyi, kaki kecil ini melompat semangat, membanting pintu di belakang, dan berlari ke lapangan itu. Di sana, sekitar sepuluh orang sudah menanti dan menyambut, tertawa saat melihat baju yang dipakai itu-itu lagi. Lalu, permainan dimulai, bola disimpan di tengah lapangan, dan tanpa ada peluit, permainan bergulir. Semua berlari ke sana kemari, berebut bola usang yang sudah terlalu lama dipakai. Gol demi gol pun tercipta, tawa dan keringat silih melaju, sehingga sangat sulit dibedakan yang mana yang menang. Tak terhitung lagi gol yang dibuat. Akan tetapi, bukan itu inti permainan ini. Bukan untuk mencari pemenang, bukan untuk mencari yang terhebat, hanya untuk tertawa bersama. Sesuatu yang akan sulit kita temukan saat usia tak lagi satu angka. Sulit mencari kebersamaan itu.

Sehari yang melayang, tapi akan selalu terkenang.

Seperti siput yang berjalan, perlahan tapi pasti sampai tujuan, waktu yang menemani masa kecil juga terus berjalan. Anak-anak itu berubah menjadi dewasa, seperti saya. Generasi baru muncul, tetapi tak akan sama. Lapangan yang dulu hanya beralaskan tanah coklat sejuk, sekarang diganti oleh blok-blok beton. Kaki yang dulu bebas menginjak, sekarang harus anggun tertutup getah sintetis kayu yang menyamar menjadi sepatu. Lumpur yang dulu asyik untuk diajak bercanda, sekarang pindah ke kota, menjadi bencana. Hujan yang dulu bisa menemani, sekarang seolah menyakiti. Keinginan untuk menjadi sederhana terhapuskan oleh keinginan untuk memperkaya. Kebersamaan diganti oleh layar-layar digital, membuat mereka terpaku berjam-jam hanya untuk menonton film kriminal dan bermain game yang membutakan. Senyum jahil bisa saja berubah menjadi seringai. Lalu, apa yang bisa anak-anak kecil sekarang pelajari tentang kehidupan? Apakah dengan lagu-lagu cinta yang menipu? Apakah dengan syair-syair gombal yang memperdaya? Apakah hanya dengan soal matematika dan fisika? Tidak, lebih dari itu yang mereka butuhkan. Ilmu tentang mencintai sesama, tentang kehidupan, tentang gejala alam, yang diwariskan dari generasi ke generasi oleh tanah tempat kita berpijaklah yang mereka butuhkan. Alami, batural bukan buatan.

Masa kecil harusnya mengalir, tidak bisu seperti film yang belum diberi efek suara. Nakal, tapi mencoba. Berteriak serak, tapi harmonis. Berkicau penuh tawa, agar saat dewasa, mereka mengerti untuk mencintai sesama. Bermain dan ceria seperti semilir angin di padang rumput atau ailiran air, berkecipak, jernih dan saling mengejar, berirama. Masa kanak-kanak tidak seharusnya tercekik oleh pelajaran-pelajaran les yang sungguh tidak menggairahkan. Terkotak-kotak dan terkerangkeng oleh kacamata Ayah dan Ibu yang tidak toleran akan satu angka merah dalam laporan akhir semester.

Sungguh menyesal orang-orang yang masa kecilnya ditelan ketidakbebasan, dilahap oleh kemarahan orang tua. Biarkan jiwa-jiwa kecil itu tumbuh, mekar dan berkembang alami, dengan pantauan yang tidak berlebihan. Tidak dengan makia dan asupan gizi lagu-lagu dewasa. Masa kecil yang berkesan, yang menarik, yang menghangatkan, akan membentuk jiwa-jiwa emas.

Love Generation

“aku tak mau bicara
sebelum kau cerita semua
apa maumu, siapa dirinya
tak betah bila ada yang lain

jangan hubungi ku lagi
ini bisa jadi yang terakhir
aku ngerti kamu, kau tak ngerti aku
sekarang atau tak selamanya”

Itu adalah sepenggal lagu Wali yang sekarang sedang menjadi hits blantika musik Indonesia. Tadi malam, waktu saya sedang beli kwetiaw di deket rumah, saya mendengar lagu itu. Bukan dari radio, hp saya, telavisi, atau pengamen jalanan, melainkan dari seorang gadis kecil berumur sekitar 3 tahun. Dia memegang hape, entah punya dia atau ibunya, dan menyetel lagu Wali itu keras-keras, mendekatkannya ke telinga, lalu ikut menyanyi bersama vokalis band tersebut. Bayangkan! Gadis sekecil itu menyanyikan lagu yang saya yakin dia sendiri juga tidak mengerti maksudnya.

Hmm, saya sebenarnya sudah tidak terlalu kaget dengan fenomena ini. Waktu SMA, sekitar 2 tahun yang lalu, saya pernah melakukan sebuah riset sederhana (waktu itu saya mendapat tugas Bahasa Indonesia untuk membuat sebuah karya tulis ilmiah. Kelompok saya mengambil judul “Pengaruh Lagu Dewasa terhadap Siswa Kelas 5 SDN Sukarasa 3 Bandung”. Hasilnya cukup mengejutkan. Hampir sebagian besar dari mereka memang lebih menyukai lagu-lagu dewasa ketimbang lagu untuk anak seusia mereka. Lagu-lagu cinta menjadi deretan teratas lagu favorit mereka. Dan imbasnya lebih parah lagi. Mereka telah mengenal apa yang disebut pacaran sejak usia sedini itu.

Anak-anak kecil itu telah dibodohi oleh kejamnya industri musik negeri ini. Mereka dengan bahagia disuapi oleh lirik-lirik pembunuh, yang dikemas dengan cantik oleh kata-kata gombal merayu, manis membelai, dan hangat seperti cinta yang membuai. Mereka dihantam dari kiri, kanan, depan, belakang, atas, bawah, segala arah oleh melodi-melodi pop dan semi dangdut yang dibalut dengan sedikit irama yang membuat otak mereka lebih menyukai musik daripada mengaji, lebih menyukai menyanyi daripada mengerjakan matematika, dan lebih suka berinteraksi dengan lawan jenis daripada mencetak gol di lapangan bola.

Jika punya kesempatan, coba buka database lagu seorang anak kecil yang paling dekat dengan kamu. Jangan kaget jika kamu melihat deretan band-band yang katanya papan atas negeri ini, semacam Ungu, Radja, ST12, Wali, Hijaudaun, Drive, Kangen Band, Angkasa, Five Minutes, Vierra, dan band-band lain yang biasa ‘lipsync’ saat manggung di televisi. Lalu, coba kamu berikan sebuah tes menyanyi untuk mereka, niscaya mereka akan menyanyikan salah satu dari lagu band-band tersebut. Hmm, kemana lagu-lagu ciptaan Pak Kasur? Kemana lagu-lagu semacam Menanam Jagung, Naik Kereta Api, Balonku, Pelangi, Naik Gunung, dan Bintang Kecil?

Mungkin kita masih bisa menganggap lucu saat mendengar mereka menyanyikan lagu-lagu itu. Akan tetapi, masih lucu kah saat mendengar mereka menyanyi tentang seseorang yang seksi, kecemburuan, cinta yang tidak direstui, kebencian karena cinta, nafsu yang terumbar? Hmm, muak rasanya. Bahkan, acara di televisi yang KATANYA mencari  bakat seorang cilik untuk menjadi idola di kalangan cilik juga, menyuruh anak-anak cilik itu menyanyikan lagu yang sangat tidak cilik. Ironis sekali. Dan semua itu rupanya hanya demi pasar.

Jadi inget lagunya Efek Rumah Kaca…

“Lagu cinta melulu

Kita memang benar-benar melayu
Suka mendayu-dayu

Apa memang karena kuping melayu
Suka yang sendu-sendu
Lagu cinta melulu”

Eh, ada juga nih link yang bagus buat dibaca…

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/03/04230718/cilik-cilik.nyanyi.lagu.cinta

Saya cuma bisa berharap, anak-anak kecil ini, yang sejak keil sudah menyanyikan lagu-lagu bertema cinta, nanti, ya, nanti saat mereka sudah dewasa benar-benar menjadi orang yang cinta damai, yang benar-benar mencintai sesama manusia, dan juga alam.

Berharap.