Sesuatu itu Bernama Ospek


OS itu indah untuk dikenang, indah untuk diceritakan, tapi berat waktu dijalankan..

–Mas Deddy, TM 96 (staf pengajar junior TM)

Apa yang teman-teman pikirkan waktu kata ospek disebutkan? Kekerasan? Senioritas? Capek? Mahasiswa baru? Bentak-bentakan? Atau bahkan per-plonco-an? Banyak banget yaa yang bisa kita ‘turunkan’ dari satu kata itu. Dan tanpa kita sadari, turunan kata ospek itu kadang menjurus ke hal-hal negatif.

Kita tentu masih ingat dengan kejadian wafatnya mahasiswa IPDN  yang dianiaya seniornya. Atau juga kejadian wafatnya beberapa mahasiswa ITB (dalam waktu yang berbeda-beda tentunya) yang menurut desas-desus ada hubungannya dengan ospek yang sedang dijalaninya. Buat kita-kita yang sudah tingkat atas, mungkin juga sudah sering menjalani masa-masa orientasi seperti itu, mulai dari waktu SMP, SMA, pas masuk kuliah, pas masuk jurusan, pas mau masuk unit kegiatan mahasiswa, dll. Rasanya? Mungkin banyak yang setuju sama kata-kata senior saya di atas itu.

Ada yang menyebutnya ospek, ada juga yang menyebutnya OS (orientasi siswa), osjur, PMB, dll. Tujuannya seringkali mulia, yaitu mengenalkan anggota baru pada lingkungan yang akan dimasukinya, membina fisik dan mental anggota baru, dan matrikulasi materi keorganisasian. Tapi terkadang, ada benih-benih dendam di dalamnya.

Dosen-dosen saya tadi siang tiba-tiba ngebahas tentang ospek ini waktu kuliah. Mas Pudjo Sukarno (dosen Teknik Produksi) tiba-tiba membahas ospek dan kebenciannya terhadap ‘kriminalitas’ di dalam kampus. Beliau menceritakan pengalamannya waktu dulu jadi wakil dekan FIKTM (Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral, sekarang dipecah jadi FTTM dan FITB). Waktu itu, seorang mahasiswa salahsatu prodi FIKTM hampir mengalami gagal ginjal karena dipaksa longmarch puluhan kilometer tanpa minum dengan layak. Dia hanya diizinkan minum dalam interval beberapa kilometer, itu pun hanya satu tutup botol air mineral. Esensinya? Penyiksaan secara perlahan (menurut saya sih). Dua orang senior di-DO dan beberapa yang lainnya mendapat skors 2 semester.

Beliau juga cerita tentang mahasiswa lain yang tangannya ga bisa berhenti bergetar akibat dipaksa push-up oleh senior-seniornya. “Di luar negeri yang hukumnya kuat, kasus seperti itu bisa dihukum dengan berat. Hukuman DO dari kampus itu masih terlalu ringan,” katanya.

Dosen saya yang lainnya, Mas Deddy (dosen pengganti Analisa Formasi) tiba-tiba membahas kasus Saipul Jamil yang dijadikan tersangka karena dianggap lalai dan membuat istrinya meninggal waktu kecelakaan mobil beberapa pekan yang lalu. “Memang ada pasal-pasalnya,” kata Mas Deddy sambil nunjukkin pasal 359 dan 360 KUHP tentang penganiayaan dan perbuatan (baik sengaja maupun nggak) yang menyebabkan luka atau meninggalnya orang lain. “Kekerasan di dalam Ospek memang dapat diproses secara hukum,” katanya menambahkan.

Banyak yang bilang, di ITB sendiri tingkat ‘keras’nya ospek sudah berkurang dibandingkan dulu. Sekarang banyak lembaga yang mengutamakan pola pikiran kritis di dalam masa orientasinya. Anggota baru banyak diajak berpikir tentang berbagai hal yang menjadi kewajibannya, baik semasa orientasi, ataupun setelah itu. Penekanan esensi dalam melakukan berbagai hal diutamakan. Hukuman fisik sudah dihilangkan oleh beberapa lembaga karena sudah dianggap bukan lagi cara untuk melakukan pendewasaan.

Ospek itu penting. Penting sekali menurut saya. Akselerasi belajar pada masa itu secara tidak disadari meningkat dengan cepat. Tapi yang penting untuk dipikirkan oleh panitia adalah, tingkat keberterimaan seseorang dalam belajar berbeda-beda. Orang yang waktu SMA nya sudah terbiasa lari berkilo-kilometer akan berbeda kekuatannya dengan orang yang jarang sekali melakukannya. Lalu apakah mereka berdua juga harus menerima konsekuensi yang sama dengan dalih ‘kebersamaan’? Apalagi, hukuman fisik seperti itu tidak diawasi oleh seseorang yang benar-benar profesional. Hanya diawasi oleh segelintir orang yang merasa benar. Yang dirasakan si ‘korban’ (anak yang nggak biasa lari) bukanlah senangnya kebersamaan, tapi hanya sakitnya siksaan, lalu perasaan ‘dulu gue juga disuruh2 seenaknya’ akan segera muncul.

Saatnya pendewasaan. Semua proses dalam kaderisasi bukan hanya untuk anggota baru, melainkan juga untuk para pendiklat. Bisakah kita semua menjadi lebih dewasa setelah masa-masa itu selesai?

Wallahu’alam bishhawab.. ^_^

 

Apa Saya Terlihat Awet Muda?!


Hahaha, judulnya menuai kontroversi pisan ya? Biarin ah, sekali-kali narsis kan ga apa-apa.. ^_^

Beberapa hari kemarin saya belanja di Alf*ma*t. Setelah bayar di kasir, saya kaget dengan kata-kata si teteh2 penjaga kasir. “Ini kembaliannya, ada yang bisa dibantu lagi, dek?” katanya. What? Padahal waktu itu saya pake kemeja, rapih, dan (menurut saya :p ), terlihat ‘dewasa’. Tapi si teteh kasir itu manggil saya ‘dek’. Kalo dipanggil adek sama teteh beneran mah sih ya gapapa. Serasa anak kecil ajah. -___-”

Hari Sabtu kemarin, ada Acara Awal PMA. Ini merupakan sebuah acara ‘penyambutan’ buat mahasiswa (yang biasanya) masih TPB yang baru mau masuk LSS. Di acara ini, PMA (sebutan buat anak yang baru mau masuk LSS) diperkenalkan dengan berbagai aktivitas di LSS, seperti kesenian, keorganisasian, dan ke-pansus-an.

Dengan cuek saya duduk dan ngajak ngobrol dengan beberapa anak PMA. Setelah beberapa saat, teman seangkatan saya yang ikut ngobrol sama saya dan anak2 PMA itu nanya. “Yo, waktu itu kamu pas semester 1 dapet KPIP* atau SAS*?” Sebelum saya jawab, si anak PMA yang lagi ngobrol sama saya itu nyeletuk, nanya ke saya, “Lho, emang kamu angkatan berapa?”

Saya ngakak, sambil jawab, “Angkatan 2009, lah.. =)” PMA yang nanya saya itu kaget, tapi ketawa juga. “Maaf, Kang. Kirain teh angkatan 2011, sama-sama PMA.”

Well, itu menunjukkan saya terlihat masih muda kan? Hahaha, padahal saya kan ga make Ol*y atau obat kulit lainnya yang bisa menghilangkan jerawat, kerutan, bintik hitam, dan 7 tanda penuaan yang lainnya. :p

DEADline!


Saya deadliner, ga usah dipungkiri. Besok ada tugas numpuk, saya kerjain malem ini. Minggu ini ada ujian yang susah banget, saya baru mulai belajar serius juga malem ini. Pokoknya, saya bener-bener deadliner. Kuliah jam 7, saya baru berangkat setengah 7 biar nyampe kelas cuma kurang beberapa menit aja.

Jelek memang, serasa nggak direncanakan dengan baik. Tapi sering saya menikmati perasaan seperti dikejar-kejar waktu. Kayaknya, di situ titik tantangannya. Tantangan? Jadi mikir ulang, apa benar yang saya rasakan itu tantangan. Hampir setiap tahun saya membuat resolusi untuk berubah dari kebiasaan ‘bersahabat dengan waktu akhir’ ini. Then, resolusi cuma tinggal tulisan pulpen item di atas kertas.

Jadi inget, waktu ikut seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) beberapa bulan lalu pun, surat lamarannya baru saya kirim 20 menit sebelum batas akhir (alhamdulillah tapi, lolos juga walau cuma sampai tahap 20 besar dan ga jadi ke luar negri.. -___-). Dari mulai kapan yaa kebiasaan deadline ini saya dapatkan? Let me think..

SD? Ngga, waktu SD saya rajin, hhaha..

SMP? Bisa jadi. Eh, tapi waktu SMP saya masih rajin juga deng. Haha, kayaknya waktu SMA deh, apalagi setelah kelas 2, setelah mulai dekat dengan yang namanya kehidupan organisasi.

Lha, jadi organisasi ada hubungannya dengan deadliner? Ngga juga, ini mah kayaknya emang sifat tersembunyi (dan sekarang ketahuan) saya. :p

Nah, tugas buat besok belum beres juga. Selamat datang kembali ke jepitan tangan, pulpen hitam. Mari menari di atas kertas HVS! :)


Air Hujan itu,…..Menyenangkan!


Kalo September atau Oktober datang, biasanya air hujan ikut mampir. Masih inget pelajaran SD tentang angin muson barat yang bertiup dari Asia ke Australia dan membawa butiran-butiran hujan sehingga di Indonesia juga hujan? Hehehe, saya bener ga ya?

Well, sejak dulu saya ga pernah benci hujan. Palingan cuma kesel doang karena ga jadi pergi ke suatu tempat karena kejebak hujan. Tapi, baru kali ini saya seneng banget musim hujan akhirnya tiba. Saya kasian aja ngeliat di berita, banyak tempat di Indonesia yang tanahnya retak-retak (halaman rumah saya juga!! hho), sumurnya kering, ga dapet pasokan air dari pemerintah, sampai sawahnya gagal panen dan kebakaran hutan. Alhamdulillah yaa.. :)

Waktu dulu masih SMA, rame banget kalau udah maen bola di Lapangan Bali (lapangannya ada di Jalan Bali) sama temen-temen. Lapangan Bali ini drainase nya parah banget. Jadi kalau pas maen atau sebelumnya hujan gede, wah, setengah lapangannya berubah jadi rawa. Kecipak-kecipak deh maennya. Jadi ada tiga tim yang main di lapangan : tim saya, tim lawan, dan air. Rebutan bola tambah ‘menyenangkan’. Hahaha..

Yang paling saya suka, waktu hujan enaknya sambil ngopi atau ngeteh di lantai atas, sambil baca novel atau ngobrol ngalor ngidul sama temen. Rasanya inspirasi dateng ngalir terus. Obrolan ga ada habis-habisnya.

Selamat datang, Musim Hujan. Semoga rasa syukur ini membuat saya dan Indonesia merasakan berkah yang selalu kamu bawa setiap datang menyapa tanah. :)

Posisi (ternyata juga) Menentukan Prestasi


Beuh..udah lebih dari 5 bulan saya ga nongol di web sendiri. Kangen, tapi kemarin-kemarin bingung banget mau nulis apa. Udah nulis, hapus lagih, nulis lagi, terus diedit, ga jadi dipost. Yaa anggap lah saya kayak pemain band. Kadang-kadang kan pemain band juga kalo ga ada inspirasi suka vakum. Kalo ga ada vakum suka berdebu.. ( -___-”)

*welcome back, sir! jreng jreng*

Well, waktu saya buka dashboard-nya si blog ini, kayak ada suara mesin automatis yang menyambut saya dengan kata-kata itu. Hahaha..ngaco.. –padahal mah loadingna lila.

Tapi yaah, akhirnya saya memberanikan diri buat kembali… ^_^

Anyway, semester baru udah berjalan dua setengah minggu. Kuliah udah mulai padet lagi. Rak buku penuh lagi. Catetan kosong lagi. Dosen baru-baru lagi. Nilai ga mau sama lagi. Baju yang itu-itu lagi. Ga boleh males lagi.

Ngeliat teman-teman sekelas yang luar biasa pada rajin, saya (yang pada dasarnya suka ikut ikutan) alhamdulillah jadi (agak) rajin semester ini. Amiin ya Allah…. ^^ Semoga rajinnya bisa nempel terus sampai akhir semester, awal semester depan, akhir semester depan, awal semester depannya lagi, dan seterusnya sampai saya lulus, kerja, nikah, punya anak, dan seterusnya, dan seterusnya..

*jreng jreng lagi..*

Hhhoo, saya jadi suka duduk di depan kalo kuliah nih. Rasanya kalo perkataan dosen terdengar jelas tuh, whussssshh, semuanya masuk deh ke otak. Manggut-manggut tanda mengerti diperluin tuh kalo udah kayak gitu. Penting biar motivasi di hati tambah kuat. *hhahaha, padahal lebih sering geleng-geleng sambil nyanyi dalam hati :

“akuuuu…tak sanggup lagi….” sambil ngebayangin, kalo ada kesempatan bikin video klip lagu itu, settingnya di jepang dengan adegan harakiri atau di korea sambil loncat dari jembatan penyebrangan (pake slow motion, ada orang teriak-teriak di bawah, “ayo mas! terjun mas! chayoo!!!”). Tapi bener loh ya.. tingkat bunuh diri di Korea emang tinggi banget! –> OOT.

Okai okai, yang penting usaha harus keras di semester ini. Semangat Well Log, Well Test, Teknik Produksi, Teknik Reservoir, dll. Semoga nilainya juga WELL nanti.. :D . Oia, ga lupa juga semangat Teknik Pemboran. Hhaha.. jadi pengen ketawa kalo inget kuliah yang satu ini pas hari sabtu kemarin.

Kuliah pemboran ini emang selalu hari sabtu, soalnya sang dosen, Profesor Rudi Rubiandini cuma bisa ngajar hari itu. Kuliahnya di Oktagon jam 8 pagi, tapi karena masih pagi, gedung2 masih ditutup. Terpaksa deh kita kuliah di selasar Oktagon selama 2 jam. Pegel kaki juga, but it’s okay! *edan teuu?? profesor ngajar di luar kelas..hhaha..*

Sip-sip, besok udah ujian, harus belajar!
Selamat datang Kuliah!
Selamat datang tantangan-tantangan baru!

*jreng jreng lagi sambil menutup sesi ini*

Zwanzig


parantos dua,sakedap deui moal karaos janten tilu, teras opat, lima, genep, duka dugi ka iraha, duka liren di mana..ya Allah Pangeran nu Maha Agung, pasihan abdi waktos kanggo babaktos ka mamah-bapak, ka lemah cai, sareng ka agama anu ku abdi bela. pasihan abdi waktos nyiapkeun bekel kanggo kahirupan salajengna.

astaghfirullah, hampura abdi ya Gusti..

:)

Desember


selalu ada yang bernyanyi dan berelegi

di balik awan hitam

semoga ada yang menerangi sisi gelap ini

menanti seperti pelangi

setia menunggu hujan reda

 

aku selalu suka sehabis hujan

di bulan desember

di bulan desember

 

sampai nanti ketika

hujan tak lagi meneteska duka

meretas luka

sampai hujan memulihkan luka

 

–Efek Rumah Kaca

Salmon


“……Karena ini bukan aku

Sekarang aku bukan diriku

Terdesak orang, tersenggol, terbawa, terjatuh

Itu bukan aku

Aku sedang berbuat menuju bukit itu dimana aku akan bersiap

Aku berbuat

Aku melangkah

Terbang dengan pesawat yang tersedia di atas bukit itu

Aku pasti bisa kesana lagi…..”

—Amarizni Mosyaftiani

 

Hmm, sama banget dengan apa yang saya rasain akhir-akhir ini. Saya terlalu terbawa arus, terbuai kayak elang yang lagi santai di dalam arus termal di langit lepas. Saya terlalu terseret dengan paradigma ,”Orang lain juga kan kayak gitu, ya udah lah.” Ini kah saya yang dulu suka memberontak saat ada yang nggak beres? Inikah saya yang dulu selalu bertanya kenapa dan bagaimana?

Akhir-akhir ini saya kadang menghibur diri kalau nilai saya jelek. “Yah, dia emang otaknya aja yang terlalu pintar, saya mah biasa aja.” Bukan, pasti bukan karena itu saja orang lain dapat nilai bagus. Mungkin saja dia terbangun saat saya terlelap. Mungkin? Ya, itu mungkin.

Saya terlalu terbawa kerumunan. Harusnya saya kayak ikan salmon yang berjuang menentang arus. Saya harusnya kayak kapal laut yang berlari menerjang badai.

Saya bisa.

“Aku pasti bisa kesana lagi…”

 

–thanks for this inspiration, jingga!