Mahasiswa Hanya di Kartu Tanda

Beberapa waktu lalu, di televisi, kita akan sering mendengar dan melihat berita-berita yang mengiris hati. Para penyambung lidah rakyat, ujung tombak perjuangan bangsa, dan para penerus yang akan mewarisi harta bangsa terlibat tawuran. Ya, mereka adalah mahasiswa. Di Makassar, tawuran terjadi antar mahasiswa satu kampus, antara fakultas yang satu dengan fakultas yang lain. Di Jakarta, tawuran terjadi antara dua kampus yang terletak bersebelahan. Bahkan, di Jakarta tawuran menyebabkan kebakaran di kampus masing-masing. Entah kenapa mereka banyak menggunakan otot dan teriakan kasar untuk menyelsaikan masalah. Apakah mereka sudah melupakan makna dari Tri Dharma Perguruan Tinggi?

Mulanya mungkin hanya berawal dari perselisihan pendapat. Setelah itu, lemparan batu bertindak. Bukan hanya batu, kayu panjang, linggis, dan senjata tajam mereka bawa saat tawuran. Di Jakarta, yang menyebabkan kebakaran di kedua kampus adalah lemparan bom molotov. Tak takutkah mereka dijerat hukum karena melukai dan merusak? Tak merasa bersalahkah mereka saat ada yang kehilangan nyawa? Padahal, di Palestina sana, para pemuda bahu-membahu menyelamatkan dan melindungi nyawa saudaranya. Satu nyawa sangat berharga.

Pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, pengabdian pada masyarakat. Adakah mereka sadar bahwa yang dilakukan sangat mengganggu ketenangan masyarakat sipil. Tak jarang, seseorang dilarikan ke rumah sakit akibat terkena lemparan batu mereka. Tak jarang anak kecil menjadi trauma karena melihat tawuran yang disajikan di depan mata. Toko-toko tutup, bahkan dirusak. Kendaraan milik orang tak berdosa yang sedang lewat, bahkan yang sedang di parkir pun dihancurkan. Padahal, langsung atau tidak langsung, dana untuk para mahasiswa kuliah, berasal dari pajak rakyat. Apakah itu mahasiswa?

Mahasiswa adalah GUARDIAN OF VALUE, AGENT OF CHANGE, dan IRON STOCK. Mahasiswa seharusnya menjaga tatanan nilai dan norma yang ada di masyarakat. Saat terjadi ketidakberesan, mahasiswa-lah yang seharusnya pertama kali melihat dan menyusun strategi untuk membereskannya. Oleh karena itu, mahasiswa juga adalah agen perubahan, yang bertindak saat strategi kebenaran telah disusun. Mereka memprotes, mengkritik, dan berusaha mengembalikan norma-norma yang rusak.

Mahasiswa adalah pemuda, dan pemuda adalah harta karun bangsa. Pemuda seharusnya dipersiapkan, ditempa, dan dibentuk menjadi seorang yang berkarakter luhur. Besi, sebuah logam dengan banyak manfaat bagi manusia. Untuk itu, besi harus ditempa, dibentuk menjadi sesuatu. Dan seperti itulah harusnya pemuda diperlakukan.

Saat melihat mahasiswa-mahasiswa itu tawuran, yang terlintas di pikiran saya adalah :

Mereka bernama mahasiswa, tapi HANYA DI KARTU TANDA.

Saya tidak mau menjadi seperti itu. Saya ingin mengeksplor setiap pemikiran muda di hati saya, mencari intisari bagaimana seharusnya pemuda dan mahasiswa berkata, bertindak, dan berpikir. Karena mahasiswa mempunyai potensi untuk membawa bangsa ke tempat yang lebih tinggi.