aku suka senja. saat matahari bercahaya jingga.
terhalang mega, lembut menyentuh raga
aku suka senja. saat matahari berkata sampai jumpa.
dan besok aku kembali menyapanya.
“Saya ingin ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.”
Kalimat di atas bukan dikatakan oleh seorang politikus terkenal, bukan juga oleh seorang aktivis partai politik. Kalimat itu diucapkan oleh seorang mahasiswa ITB yang mempunyai cita-cita luhur. Dialah Ikhsan Abdussyakur.
Nama Ikhsan Abdusyakur atau yang biasa dikenal dengan Syakur mungkin sudah tidak asing lagi bagi telinga massa kampus ITB. Bagaimana tidak, sosok periang dan bersemangat ini aktif dimana-mana, mulai dari Keluarga Mahasiswa ITB, Himpunan Mahasiswa Elektro atau HME, dan sekarang aktif sebagai Anggota MWA Wakil Mahasiswa ITB.
Syakur lahir pada tanggal 29 Juni 1988. Setelah lulus dari SMA 8 Jakarta di tahun 2006, dia melanjutkan kuliah ke Teknik Telekomunikasi ITB. Di kampus, selain aktif di dunia akademis, pemuda penggemar klub sepakbola AC Milan ini juga aktif di berbagai organisasi. Dia pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Elektro.
“Saat menjadi Kahim, saya berusaha untuk terus menjalin hubungan baik dengan prodi dan rektorat. Ya, kita butuh untuk berkolaborasi dengan mereka dan mereka pun butuh kita. Dengan begitu, kita bisa menjadi lebih berkesempatan untuk melahirkan karya besar. Contohnya saja Palapa untuk himpunan saya,” ujarnya.
Menurutnya, perguruan tinggi idealnya melahirkan seorang mahasiswa yang bukan hanya cerdas di bidang akademis, melainkan juga memiliki inovasi, keingintahuan terhadap permasalahan di masyarakat, dan punya semangat untuk mengabdi pada masyarakat dalam diri masing-masing. Intinya, lulusan ITB harus memiliki integritas dalam dirinya.
“Mahasiswa sekarang cenderung menghadapi pilihan yang dilematis, yaitu kuliah dan organisasi. Padahal, kedua hal itu bisa berjalan secara sinergis, saling melengkapi,” kata Syakur.
Sinergi
Syakur juga berpendapat bahwa kegiatan mahasiswa juga harus sinergis dengan pihak rektorat. “Kita masih bergerak sendiri-sendiri,” katanya. “Padahal, kalau kita bergerak bersama, hasilnya akan luar biasa.”
Sekarang, Syakur aktif di Majelis Wali Amanat Wakil Mahasiswa. Syakur mempunyai visi untuk meningkatkan sinergi antara pihak rektorat dengan mahasiswa agar dapat bermanfaat bagi Indonesia. Di MWA, cakupan kegiatannya lebih luas sehingga kolaborasi untuk berkarya juga bisa lebih luas.
“Sebagai Anggota MWA Wakil Mahasiswa, kami punya kewenangan untuk menyalurkan aspirasi mahasiswa ke rektorat, menyampaikan info dari rektorat ke mahasiswa, dan menunjukkan bahwa mahasiswa itu adalah subjek pendidikan, bukan objek pendidikan.”
Dia berharap suatu saat nanti terdapat integrasi pengembangan softskill dalam kegiatan akademik, misalnya saja ada mata kuliah kepemimpinan atau organisasi. Target yang ingin Syakur capai adalah berjalan baiknya komunikasi dan meningkatnya kepercayaan antara mahasiswa dan pihak kampus. Semoga target tersebut dapat tercapai, untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.
dua belas jam lagi kamu akan sampai di kepulauan Pattimura,
sampaikan salamku padanya,
katakan bahwa sekarang Indonesia telah merdeka,
tapi mungkin dia tak akan terlalu bersuka
karena kita belum sepenuhnya.
adakah kamu tahu kejayaan bangsa mereka dulu?
saat Ternate dan Tidore bersekutu, menjajah kapal-kapal perang Eropa.
dan berkata kapten kapal Ternate,
“Ini negeriku, tak tahu malu kalau kau mencabik rakyatku!”
dan sang Eropa gentar, hingga ke Selatan mereka berlayar.
kini kamu akan ke sana.
sampaikan salamku pada birunya lautan kita.
aku akan menyusulmu,
tidak, aku akan menunggu, dan nanti pergi bersamamu,
ke negeri yang pernah menjelajahi Maluku.
“Beberapa tahun lagi, saat kalian sudah sukses, dateng lagi ke sini yaa. Ibu akan tetap disini kok. Oh iya, bawa juga istri masing masing..”
Terminal Cicaheum di timur selalu ramai dengan berbagai aktivitas. Begitu juga dengan sore itu, Rabu, 3 Juni 2010. Bus Budiman jurusan Wonosobo yang saya dan teman-teman akan naiki telah siap sejak pukul 16.30, padahal baru akan berangkat selepas maghrib. Karena tidak mau kekehabisan tempat duduk, kami segera masuk dan mencari tempat yang nyaman. Tas ransel yang penuh dengan makanan dan baju ganti kami simpan di dekat kaki, tak ingin hal yang buruk terjadi. Saya mendapat tambahan barang, sebuah tas kain yang penuh dengan buku-buku hasil sumbangan teman-teman di Bandung untuk Abdurrahman Ghifari, teman kami di Semarang.
Saya, Bima Abdul Rahman, dan Hafy Zaindini akan melakukan sebuah perjalanan yang cukup melelahkan ke Wonosobo, Dieng, Semarang, dan Jogjakarta. Perjalanan ini akan kami tempuh dalam waktu kurang lebih 6 hari, dengan budget sekitar 400-500 ribu. Ceritanya, kami sedang mengisi liburan dengan backpacking kecil-kecilan.
Tak banyak cerita yang didapat selama perjalanan hampir 9 jam dari Bandung ke Wonosobo. Hmm, hanya saja, buat yang ingin berpergian naik bis, jangan lupa untuk siapkan mental menghadapi pedagang-pedagang asongan yang sedikit memaksa. Jika tidak kuat mental, hasilnya akan seperti orang yang duduk di sebelah kursi saya dan Bima. Hampir semua makanan yang ditawarkan oleh pedagang asongan dia beli. Mulai dari donat, gorengan, bahkan dodol dia beli. Saya sih hanya tertipu satu kali. Ada pedagang asongan yang menawarkan sekotak donat yang isinya 6 donat, tiga di bagian atas, tiga di bagian bawah kotak. Tampilannya sih bagus, harganya juga murah, tapi rasanya….hhahahaha, ga enak banget! Ternyata, tampilan yang bagus hanya bagian atasnya saja. Tiga donat di bagian bawah hanya ditaburi meses seadanya.
Selain itu, saya sarankan untuk menghabiskan dulu ampas makanan yang ada di perut (^_^, soalnya, waktu istirahat di Tasik, si Hafy hampir ditinggal bus karena sibuk mengurus perut di WC..:p)
Jam 3 subuh, bus yang kami tumpangi sampai di Wonosobo. Saya cukup kagum dengan sepinya terminal Mendolo di kota ini. Sepertinya, terminal ini masih cukup baru. Tidak seperti Cicaheum atau Leuwipanjang di Bandung, terminal ini tertata sangat rapi. Ada kantin yang berjajar rapi, mushola yang cukup nyaman, dan berbagai kios agen yang menyediakan jasa bus antar kota. Dari pintu gerbang sampai bangunan wc, semuanya tampak baru dan masih terjaga dengan baik.
Karena tidak tahu harus kemana lagi, kami pergi menuju mushola terminal untuk beristrirahat (musholanya ga ada lampunya, jadi kami bergelap-gelap ria di sana). Setelah sholat subuh di mesjid terdekat (di mushola terminal ga ada air untuk wudhu..), kami mulai berburu sarapan. Udara di Wonosobo cukup mirip dengan Bandung, jadi kami merasa nyaman untuk berjalan-jalan. Kami kembali lagi ke terminal, sekalian mencari informasi transportasi ke Dieng.
Ternyata, terminal Mendolo di pagi hari tidak jauh berbeda dengan saat kami datang jam 3 pagi. Suasananya tetap lengang, tidak banyak aktivitas seperti di Bandung. Yah, ini mungkin akan mengurangi tingkat kriminalitas. Dari terminal Mendolo, kami naik sebuah minibus sampai ke kota (Mendolo ada di pinggiran kota). Perjalanan yang menyenangkan saat saya melintas dan melihat kota Wonosobo di pagi hari. Supir bus yang saya tumpangi pun sangat ramah (padahal wajahnya sangar). Dia mengajak saya ngobrol, membandingkan kota besar Bandung yang ramai dengan Wonosobo yang kecil tapi menyenangkan. Dari pusat kota, kami harus naik lagi minibus yang langsung menuju Dieng.
Tidak rugi saya membayar ongkos sepuluh ribu (walau pada akhirnya sedikit nyesel) dari Wonosobo ke Dieng karena sepanjang perjalanan kami disuguhi berbagai pemandangan menakjubkan. Gunung-gunung tinggi Plato Dieng kami lewati satu per satu. Suasana pedesaan masih sangat terlihat jelas. Apalagi itu saat pagi hari, saat semua orang baru memulai aktivitasnya. Semua orang di bus tampak saling menyapa dan mengenal satu sama lain, pemandangan yang akan sangat jarang terlihat di kota-kota besar. Saat melewati sebuah jurang di tempat yang sudah lumayan tinggi, tampak di kejauhan bahwa ada awan yang berada di bawah kita. Yup, ternyata negeri di atas awan itu ada.
Perjalanan satu jam itu sangat menyenangkan. Jam 9 pagi, kami sampai di wilayah wisata Dieng. Saat sedang melihat-lihat peta wisata, kami didatangi oleh seorang tukang ojek yang menawarkan jasanya untuk mengantar kami berkeliling-keliling ke setiap tempat wisata. Memang, Plato Dieng memiliki lebih dari sepuluh tempat wisata. Tetapi, karena harga yang ditawarkan SANGAT mahal, yaitu 50 ribu per orang, kami lebih memilih untuk jalan kaki saja, dengan resiko cape..(jarak antara tempat wisata bisa sampai 5 km). Hmm, dengan pikiran bahwa kami adalah backpacker yang kuat (^^), kami mengambil resiko itu.
Plato atau Dataran Tinggi Dieng mempunyai udara yang menurut saya khas. Saat matahari mulai meninggi, suasana cukup panas terasa di kulit. Tetapi, angin berhembus dengan membawa udara dingin yang menyejukkan. Jadinya, perpaduan antara udara dingin dan panas itulah yang menurut saya sangat khas. Berbeda dengan di Lembang yang memang sudah dingin dari sananya.
Berbagai peta petunjuk yang ditempel di berbagai sudut jalan memudahkan para wisatawan untuk menuju tempat wisata yang diinginkannya. Selain itu, wisatawan juga bisa bertanya arah ke penduduk sekitar. Mereka pasti akan menjawab dengan sangat ramah. Bagi yang ingin menghabiskan malam di Dieng, banyak juga penginapan-penginapan yang disediakan, dengan interval harga yang menurut saya cukup terjangkau.
Saya dan teman-teman memilih untuk menuju ke kompleks Candi Arjuna terlebih dahulu, karena jaraknya paling dekat dari tempat kami datang. Dengan berjalan kaki sedikit, sekitar 300 meter, Candi Arjuna mulai tampak di depan mata. Setelah membeli tiket seharga 6 ribu (tiket berlaku untuk semua tempat wisata berupa candi, kawah, dan telaga, kecuali Telaga Warna), kami masuk ke dalam kompleks candi.
Yang sangat menakjubkan, kompleks candi itu tertata sangat baik. Jalan di sekitar candi tampak sangat bersih dan di sekitarnya ditumbuhi berbagai tanaman dan bunga yang cukup indah. Kompleks Candi Arjuna berada di tengah ladang masyarakat, sehingga kami dapat melihat para petani yang sedang merawat ladangnya. Candi Arjuna beralaskan pasir, seperti candi Prambanan di Solo. Candi Hindu ini memiliki beberapa candi utama (saya ga ngerti masalah percandian, jadi deskripsinya cukup sampai di sini). Mungkin karena hari itu bukan hari libur dan hari masih pagi, wisatawan yang ada di kompleks cankdi itu hanya kami bertiga. Kami pun puas melihat-lihat dan berfoto di sana, dilatarbelakangi lanskap candi, suasana pedesaan, dan langit yang biru terbentang.
Dari Candi Arjuna, kami melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Jalan yang kami lalui sungguh tertata sangat rapi, dipenuhi dengan tanaman dan bunga yang tampak mekar. Beberapa menit berjalan, kami bertemu dengan Candi Gatot Kaca. Candi ini tidak terlalu besar dan menarik perhatian. Hanya saja, candi ini terletak di ketinggian, sehingga kami dapat melihat hamparan padang hijau yang membentang di bawahnya.
Candi Bima menjadi candi berikutnya yang kami kunjungi. Kompleks candi ini hanya berisi satu candi saja, itu pun tidak terlalu besar. Hanya saja, kompleks candi dibuat menyerupai taman yang indah, sehingga kami betah berlama-lama di sana. Di belakang Candi Bima, kami beristirahat dan menyantap sajian snack sederhana, sisa bekal yang kami bawa dari Bandung.
Perjalanan kami lanjutkan ke arah barat, mencari Kawah Sikidang. Lima belas menit berjalan dari Candi Bima, dengan jalanan yang teduh dan banyak pepohonan, kami sampai di Kawah Sikidang. Bau belerang yang menyengat menyambut dengan mesra. Setelah beristirahat sejenak di sebuah ‘saung’, kami mulai berjalan ke arah bau yang paling menyengat, yaitu kawah. Mengapa Sikidang? Kata referensi yang saya baca, air-air belerang yang bertebaran di kompleks kawah suka meloncat-loncat karena suhu yang sangat panas. Oleh karena itu, dinamakanlah kawah ini kawah Sikidang (berasal dari Si Kijang kayaknya).
Kawah Sikidang merupakan sebuah kompleks kawah yang mempunyai banyak lekukan-lekukan yang berisi air belerang. Kawah utamanya berada di tempat yang cukup tinggi, sehingga harus melalui jalan yang menaik. Kawah utama itu berupa kolah berdiameter sekitar 10-15 meter yang berisi air belerang berwarna kelabu, terus bergelegak, mengeluarkan asap putih, dan berbau belerang yang sangat menyengat. Tidak ada sisi indahnya sama sekali, tapi saya sangat mengagumi fenomena alam ini. Hanya saja, sayang saya tidak melihat air belerang yang berlompatan seperti namanya.
Setelah puas berfoto ria di sekitar kawah, kami bertiga beristirahat di sebuah warung. Kami pun berbincang-bincang sebentar dengan ibu penjaga warung tersebut. Memang benar, warga desa sangat ramah dan jujur. Bahkan, beliau mendoakan kami segala. Saat akan berpisah, beliau berkata, “Beberapa tahun lagi, saat kalian sudah sukses, dateng lagi ke sini yaa. Ibu akan tetap disini kok. Oh iya, bawa juga istri masing masing..”
Perjalanan kami lanjutkan. Kami kembali ke arah Candi Bima, melewatinya, lalu berjalan ke arah timur. Kali ini, kami menuju Telaga Warna. Menurut ibu penjaga warung di Kawah Sikidang, perjalanan ke sana sekitar satu kilometer. Udara yang sangat panas sempat membuat kami berpikir untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek. Akan tetapi, mengingat bahwa keuangan kami terbatas, pikiran itu ditepis jauh-jauh.
Perjalanan ke Telaga Warna tidak semenyenangkan sebelumnya. Jika perjalanan ke Kawah Sikidang melalui jalanan teduh yang indah, perjalanan ke Telaga Warna dipenuhi rumah penduduk dan jarang pepohonan, membuat udara semakin terasa panas. Akan tetapi, saat melihat bahwa Telaga Warna telah di depan mata, rasa capek hilang begitu saja. Ternyata, untuk masuk ke Telaga, kami harus membayar lagi seharga lima ribu rupiah.
Telaga Warna adalah telaga yang memiliki kandungan belerang yang cukup tinggi, mirip seperti Kawah Putih di Bandung Selatan. Seperti namanya, te;aga ini mempunyai beberapa warna, yaitu biru muda, ungu, hijau, bahkan coklat. Telaga ini dikelilingi oleh hutan kecil, membuat udaranya cukup menyenangkan dan enak untuk dibuat tempat istirahat. Selain itu, di sekitar telaga ini ada tempat wisata yang lain, yaitu gua. Akan tetapi, gua-gua itu tidak dapat dimasuki, entah karena berbahaya, entah karena ada kekuatan mistisnya. Kami hanya bisa melihat-lihat dan berfoto di depannya saja.
Ada sebuah cerita menarik dan menyebalkan saat kami berjalan-jalan di sekitar gua-gua di Telaga Warna. Saat itu, kami sedang akan berfodto di depan patung Gajah Mada yang ada di depan salah satu gua. Kami bertemu dengan seorang ibu-ibu berpenampilan nyentrik : baju panjang merah seperti daster yang terbuat dari bahan bulu, jas warna abu-abu, dan rambut yang dicat merah. Ia mengaku sebagai guide dan supranaturalis di Telaga Warna. Dia mengajak kami ngobrol seputar Telaga Warna dan Dieng. Dia pun mulai meramal-ramal masa depan kami. Saya sih tidak terlalu menanggapi. Dalam Islam kan tidak boleh memercayai kata-kata peramal. Dia juga menunjukkan keanehan-keanehan gaib di Telaga Warna. Karena saya cuek dan menunjukkan wajah tidak begitu senang, ibu itu jarang mengajak ngobrol saya. Dia lebih banyak berbicara kepada Hafy dan Bima. Saat hendak menyalami saya pun, saya hanya meletakkan tangan di depan dada, menandakan saya tidak mau. Setelah berbicara panjang lebar tentang ramalan dan hal gaib, dia pun meminta sumbangan sukarela dari kami (-_-). Sudah saya duga sebelumnya….

Foto di Dekat Patung Gajah Mada (Katanya, di belakang kepala Hafy-tengah-ada sesosok bayangan perempuan..iya kah?)
Setelah bebas dari ibu-ibu itu, kami pun keluar dari kompleks Telaga Warna dengan sedikit terburu-buru, malas bertemu dia lagi. Apalagi, adzan dzuhur sudah berkumandang. Kami menyusuri jalan raya lagi, menuju tempat kami tiba beberapa jam lalu. Ternyata, jalan yang kami lalui saat melewati tempat wisata hanya memutar, membentuk sebuah lingkaran, sehingga kami tidak perlu balik lagi menyusuri jalan yang pernah kami lewati. Setelah berjalan kurang lebih 15 menit, kami sampai di tempat awal dan shalat dzuhur di mesjid terdekat.
Perut sudah berbunyi, lapar, menanti makan siang. Alhamdulillah, di dekat situ ada sebuah warung makan. Setelah makan nasi goreng yang rasanya cukup aneh (nasi gorengnya dicampur mie, dan ayam dari mie ayam), kami kembali naik bis, menuju Wonosobo. (bersambung…)
Pengeluaran :
Bus Bandung-Wonosobo : Rp 75.000
Toilet di Cicaheum : Rp 1.000
Delia’s Donuts : Rp 6.000
Toilet di Mendolo : Rp 1.000
Sarapan Soto : Rp 7.000
Minibus Mendolo-Wonosobo Kota : Rp 2.500
Minibus Wonosobo-Dieng : Rp 10.000
Tiket Wisata Dieng : Rp 6.000
Toilet di Dieng : Rp 1.000
Air minum di Kawah Sikidang : Rp 3.000
Tiket Wisata Telaga Warna : Rp 5.000
Inpak (iuran paksa) ibu-ibu di Telaga Warna : Rp 10.000 (bertiga)
Nasi Goreng Aneh : Rp 7.500
Bus Dieng-Wonosobo : Rp 7.000
Jumlah : Rp 142.000
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
achtzehn
neunzehn
sembilan belas angka hidup
sementara aku tak pernah tau
surga ataukah neraka tempat kembaliku?

ada yang memar, kagum banggaku malu membelenggu ada yang mekar, serupa benalu tak mau temanimu lekas, bangun tidur berkepanjangan menyatakan mimpimu cuci muka biar terlihat segar merapikan wajahmu masih ada cara menjadi besar ada yang runtuh, tamah ramahmu beda teraniaya ada yang tumbuh, iri dengkimu cinta pergi kemana? memudakan tuamu menjelma dan menjadi indonesia
Efek Rumah Kaca-Menjadi Indonesia
Indonesia adalah negeri penuh pesona. Negeri luas di Asia sebelah tenggara. Membentang dari Aceh di ujung barat sampai ke timur, bumi Papua. Silih mengisi ruang dari Sulawesi di utara, sampai selatan, Nusa Tenggara. Ada ratusan suku bangsa, dan juga bahasa unik mereka yang menjadi masing-masing tanda. Semua terasa bahagia dengan segala harmonisasi yang tercipta. Tidak ada perang antar suku, bentrokan antar ras, kebencian antar daerah, karena ini Indonesia, dengan kesederhanaan dan keramahannya yang selalu terjaga.

Hayu ah!!! Kita menjadi pemuda Indonesia yang bukan hanya sekedar pemuda FOLLOWER, tapi juga jadi INSPIRATOR buat yang lain.
Masa kecil. Setiap orang akan berbeda-beda dalam mengingat masa kecilnya. Ada yang sangat bahagia, ada yang tertawa, ada yang mengernyitkan dahinya, ada yang langsung menangis, ada yang hanya tersenyum penuh misteri, bahkan ada juga yang langsung pergi, tak mau lagi meneruskan pembicaraan tentang hal itu. Masa kecil adalah kenangan. Kenangan yang tak akan terlupakan kecuali oleh orang yang amnesia, yang tak lagi bisa mengingat tentang hari kemarin, apalagi bertahun-tahun ke belakang.
Yang terlintas dalam benak saya saat mengingat masa kecil adalah : teriak dan tangis saat bermain, baju yang kotor saat mandi lumpur, badan yang basah saat berlari menembus hujan, senyum saat mendapat teman baru, gundah saat bermusuhan, dan tawa puas saat berhasil membuat orang tua dan tetangga jengkel. Akan tetapi, tidak semuanya menjadi bagian masa kecil saya.
Pulang sekolah, lapangan adalah tempat yang sangat menarik untuk dituju. Semua aktivitas bisa dilakukan di sana. Ya, tentu saja dengan teman sebaya yang, entah mengapa, bisa menjadi lebih menarik daripada televisi atau video game. Di sana, di lapangan voli kecil itu, anak-anak bermain bola, berlari-lari riang sampai sore menjelang. Esok harinya, di waktu yang sama, akan ada permainan baru lagi yang lebih menarik dari sebelumnya. Bermain sepeda, lempar bola, petak umpet, mengganggu teman yang lain, melempar genteng rumah orang dengan kerikil, dan memanjat pohon jambu semua tampak sangat biasa bagi kita, orang yang sudah tak merasakan nikmatnya masa kecil. Jangan bohongi diri bahwa kadang kita ingin kembali ke masa itu. Tapi, lihat Kawan, Bunda telah memanggil kita, dan usia sudah menuju senja.

Ingin rasanya kembali ke masa itu. Pulang ke rumah dan meneriakkan salam, berganti baju dan makan siang, lalu tak sabar menanti waktu menunjukkan pukul tiga. Saat lonceng berbunyi, kaki kecil ini melompat semangat, membanting pintu di belakang, dan berlari ke lapangan itu. Di sana, sekitar sepuluh orang sudah menanti dan menyambut, tertawa saat melihat baju yang dipakai itu-itu lagi. Lalu, permainan dimulai, bola disimpan di tengah lapangan, dan tanpa ada peluit, permainan bergulir. Semua berlari ke sana kemari, berebut bola usang yang sudah terlalu lama dipakai. Gol demi gol pun tercipta, tawa dan keringat silih melaju, sehingga sangat sulit dibedakan yang mana yang menang. Tak terhitung lagi gol yang dibuat. Akan tetapi, bukan itu inti permainan ini. Bukan untuk mencari pemenang, bukan untuk mencari yang terhebat, hanya untuk tertawa bersama. Sesuatu yang akan sulit kita temukan saat usia tak lagi satu angka. Sulit mencari kebersamaan itu.
Sehari yang melayang, tapi akan selalu terkenang.
Seperti siput yang berjalan, perlahan tapi pasti sampai tujuan, waktu yang menemani masa kecil juga terus berjalan. Anak-anak itu berubah menjadi dewasa, seperti saya. Generasi baru muncul, tetapi tak akan sama. Lapangan yang dulu hanya beralaskan tanah coklat sejuk, sekarang diganti oleh blok-blok beton. Kaki yang dulu bebas menginjak, sekarang harus anggun tertutup getah sintetis kayu yang menyamar menjadi sepatu. Lumpur yang dulu asyik untuk diajak bercanda, sekarang pindah ke kota, menjadi bencana. Hujan yang dulu bisa menemani, sekarang seolah menyakiti. Keinginan untuk menjadi sederhana terhapuskan oleh keinginan untuk memperkaya. Kebersamaan diganti oleh layar-layar digital, membuat mereka terpaku berjam-jam hanya untuk menonton film kriminal dan bermain game yang membutakan. Senyum jahil bisa saja berubah menjadi seringai. Lalu, apa yang bisa anak-anak kecil sekarang pelajari tentang kehidupan? Apakah dengan lagu-lagu cinta yang menipu? Apakah dengan syair-syair gombal yang memperdaya? Apakah hanya dengan soal matematika dan fisika? Tidak, lebih dari itu yang mereka butuhkan. Ilmu tentang mencintai sesama, tentang kehidupan, tentang gejala alam, yang diwariskan dari generasi ke generasi oleh tanah tempat kita berpijaklah yang mereka butuhkan. Alami, batural bukan buatan.
Masa kecil harusnya mengalir, tidak bisu seperti film yang belum diberi efek suara. Nakal, tapi mencoba. Berteriak serak, tapi harmonis. Berkicau penuh tawa, agar saat dewasa, mereka mengerti untuk mencintai sesama. Bermain dan ceria seperti semilir angin di padang rumput atau ailiran air, berkecipak, jernih dan saling mengejar, berirama. Masa kanak-kanak tidak seharusnya tercekik oleh pelajaran-pelajaran les yang sungguh tidak menggairahkan. Terkotak-kotak dan terkerangkeng oleh kacamata Ayah dan Ibu yang tidak toleran akan satu angka merah dalam laporan akhir semester.
Sungguh menyesal orang-orang yang masa kecilnya ditelan ketidakbebasan, dilahap oleh kemarahan orang tua. Biarkan jiwa-jiwa kecil itu tumbuh, mekar dan berkembang alami, dengan pantauan yang tidak berlebihan. Tidak dengan makia dan asupan gizi lagu-lagu dewasa. Masa kecil yang berkesan, yang menarik, yang menghangatkan, akan membentuk jiwa-jiwa emas.
Setelah ngerjain UAS Pengenalan Teknologi Sumberdaya Bumi, saya dan Killang (temen sekelas) pergi ke atm buat ngecek tabungan. Kata temen2, beasiswa PPA buat mahasiswa TPB ITB yang udah kami nanti2kan udah keluar. Hmm, Killang dapet giliran pertama buat ngecek. Begitu senangnya saya waktu ngeliat Killang keluar dari atm dengan muka seneng dan megang uang 50 ribu selembar. Asiiiikkk!! Beasiswanya udah keluar.
Tibalah giliran saya. Dengan backsound suara tombol atm, munculah jumlah tabungan saya…
Rp 457.400
Hwaaaaaa!!!! Kemana uang beasiswa yang jumlahnya 1.000.000 ituuu?? Dengan muka tertunduk lesu dan wajah pucat (muka ama wajah sama!), saya keluar dari atm dan pergi ke bagian beasiswa di basement CC Barat.
“Bu, mau tanya tentang beasiswa PPA. Punya saya belum masuk ke rekening, Bu..” kata saya.
Si ibunya rada cuek. “Masa sih? Coba tanya ke Bu ***** (bukan di sensor, saya lupa namanya)”
Saya pun nanya ke ibu yang ditunjukkin sama si ibu yang pertama (hhaha, bahasanya). Setelah ditanya NIM sama nomer rekening, si ibu itu bilang kalo saya harus pergi menemui Bu Nana di bagian Keuangan Gedung Annex (gedung administrasinya ITB). Kata ibu itu lagi, nomer rekening yang saya sebutin sama yang ada di data beda. Hwaaahhhh, gimana kalo masuk ke rekening orang lain??
Dengan wajah tambah lesu, saya pergi ke Annex. Setelah ketemu, Bu Nana bilang dengan rada cuek juga, “Tunggu aja di depan, Mas. Nanti ada Mbak Tetti, coba tanya ke dia.” Ya Rabb, saya merasa seperti pinball ih. Dilempar kaditu kadieu. Huftt, sabar….
Mbak Tetti pun dateng. Dia nanya nim saya. Karena dia juga ga bisa nyimpulin kenapa uang beasiswa sejuta itu belum nyampe ke rekening saya yang imut itu, dia nyuruh saya balik lagi minggu depan. Katanya dia mau konfirmasi dulu ama pihak BNI. Yahhhh..
Hmm, tapi gapapa deh. Pasti ada hikmahnya. Kalaupun akhirnya saya ga dapet beasiswa itu semester ini, semoga lain kali dapet (yang lebih gede..hhe, amin ya Allah!).
Overall, today is so wonderful! Banyak pelajaran dan rejeki yang tadi saya dapet. Contohnya, karena tadi ga jadi rapat miqroba sama teh Hasri, saya pergi ke rumah Opan buat bikin layout buletin. Tadinya mau beli dulu corel di depan kampus, tapi karena opan punya installernya, ga jadi beli deh.. Alhamdulillah, si Peki (my laptop’s name) jadi punya software baru deh. Terakhir saya nginstall tuh mungkin hampir 3 bulan yang lalu, itu pun Winning 11 2006 yang udah jadul banget. Oia, selain dapet corel, dapet Adobe Photoshop juga. Hehhe, alhamdulillah. Makasih, Pan!
Terus, tadi pas sholat ashar di mesjid deket rumah opan (sepiiii banget), saya ma opan di-imam-in ama bapak2 yang ternyata tuna netra. Ya Rabb, jadi merasa sangat bersalaaaaahh. Bapak itu aja yang nikmat melihatnya udah dicabut sama Engkau masih mau bersusah2 pergi ke mesjid untuk berjamaah, sementara saya yang masih bisa ngeliat jelas suka males2an….Astaghfirullah, maafin saya ya Allah. Mulai saat ini saya akan semangat solat berjamaah!! Insya Allah.
Satu lagi! Tadi siang tuh Bandung ceraaahhh banget, tapi pas ba’da ashar, mendadak sangat gelap. Hujan pun turun dengan deras. Maha Besar Allah yang mengubah cuaca di langit dengan mudah.
Alhamdulillah, makasih atas semua nikmat dan pelajaran hari ini, ya Rabb…