Banyak Asap Di Sana!

hidup tak lagi sama
konglomerasi pesta
lapar bagaikan hama
tak ada yang tersisa

dedikasi dijaga
berjejal di kepala
demi sanak saudara
hingga sesakkan dada

diskriminasi harga
untuk kita semua
kado bersama-sama
di musim kering tiba

yang muda lari ke kota
berharap tanahnya mulia
kosong di depan mata
banyak asap di sana!

menanam tak bisa, menangis pun sama.
gantung cita-cita di tepian kota.

 

-efek rumah kaca (lagi)

Surat Cinta

Bertahun lamanya kita terpisah. Sudah sejak aku menginjakkan kaki di ruang-ruang yang penuh meja dan kursi yang berjejer, yang jika pagi sampai siang dipenuhi oleh anak-anak manusia dan konon saat malam dipenuhi anak dedemit, kau telah meninggalkanku. Sejenak, aku juga telah lupa. Lupa akan kehadiranmu yang dulu sangat berharga untuk kutunggu. Dulu. Dulu sekali saat aku masih ingusan, dicari-cari ibuku untuk dipopok saat aku bermain denganmu.

Dan aku tak tahu namamu. Dan aku tidak peduli.

Ingatkah engkau? Dulu kita berusaha mengejar sore bersama-sama. Kita patri jingganya di sebuah frame foto yang terbuat dari buluh-buluh bambu. Lalu kita bawa pulang. Dan malamnya aku tertidur, memimpikan angan-angan kita tentang sebuah album foto, agar setiap sore yang kita tangkap dapat kita simpan di sana. Dan kita dapat mengenangnya saat aku berkumis nanti.

Ingatkah engkau? Lumpur menjadi teman kita. Debu menjadi udara yang kita hirup. Dan aku ingat saat engkau selalu terbatuk menghirup udara malam. “Kau seperti kakekku,” kataku dulu, lalu kita tertawa bersama. Saat matahari pagi bangkit dari kedalaman malam, aku dibangunkanmu, lalu kita terbang mencari pagi. Ya, kau selalu mengejekku karena aku tak pernah bisa membawa pagi pulang. Dia selalu berubah menjadi siang.

Mimpiku adalah mengecilkan bulan. Ya, bulan yang besar itu ingin sekali aku buat masuk ke kantongku. Seperti bintang yang selalu kau beri padaku. Aku pernah bertanya. “Mengapa kau belum pernah memberiku bulan?” Kau hanya tersenyum dan menjawab, “Jika bintang kuambil satu, masih ada yang akan menerangi malam, karena mereka sangat banyak. Jika bulan kuberikan padamu, maka malam akan segelap kolong tempat tidurmu.”

Lalu kau melanjutkan. “Jadilah seperti bulan. Satu-satunya. Istimewa, dan dirasakan istimewa. Jadi jika kau pergi, orang-orang akan merasa kehilangan.”

Tak pernah kulupa bagaimana dulu sawah hijau di depan rumah itu menjadi tempat bersua kita. Lihatlah itu di imajinasiku. Aku yang bertelanjang dada, dengan kaki yang masih goyah, tangan yang begitu mungil, dan celana hitam pendek yang begitu penuh lumpur, berusaha mengejarmu di pematang sawah. “Tunggu aku!” kataku. Aku berlari, lalu jatuh, tapi tetap terbahak-bahak. Lihatlah itu laying-layang yang kau terbangkan untukku. Aku tak pernah bisa menerbangkannya, aku ingat. Kau yang selalu membantuku. Oh iya, angin juga. Tak pernah kulupa.

Kau pasti masih ingat, bukan? Aku yang saat itu menangis. Tak bisa kuhentikan air mataku. Dan kau datang, dengan angin, dengan bintang, dengan hijaunya padi yang belum matang, dengan secuil jingganya senja, dan layangan yang telah robek di bagian tengahnya, untuk menghiburku. “Mari bermain, Kawan,” katamu. “Bermain apa?” tanyaku setenga terisak. Kau tidak menjawab. Kau genggam tangan kecilku, menyeka air mataku, lalu menggendongku. “Apa saja,” katamu. “Apa saja yang kau mau.” Lalu aku berteriak suka, dan kau mulai berlari. Menuju masa depanku. Lalu kau turunkan aku di depan bangunan penuh meja dan kursi itu. Dan baru setelah lama, setelah aku bertemu dengan kawan lainnya yang disebut lelaki dan wanita, yang disebut Ibu dan Bapak Guru, juga kucing dan siput di halaman, dan juga lembaran-lembaran angka, aku sadar. Gendonganmu itu adalah yang terakhir. Dan itu adalah perpisahan.

Kau begitu ramah padaku. Kau begitu baik. Dan aku pun merasakan cinta padamu. Tapi, kau pergi. Atau mungkin, justru aku yang meninggalkanmu?

Cintaku yang entah kemana.

Aku sering membaca tentangmu di buku-buku. Itu sedikit banyak mengobati rinduku, Mereka bicara yang baik-baik tentangmu. Ah, ternyata tidak juga. Akhir-akhir ini aku sering mendengar engkau sakit. Benarkah itu? Aku tak percaya. Dulu kau selalu ceria, aku tahu. Aku ingin membuktikannya. Aku ingin menjengukmu, Cinta. Tapi tak pernah bisa aku menemukanmu. Aku tak tahu engkau dimana. Tak seperti dulu, saat aku sangat mudah bertemu denganmu yang tersenyum.

Kutulis surat ini untukmu. Aku rindu, dan akan kusampaikan sendiri tulisan ini padamu. Tak kupercayakan pada orang lain. Karena di amplopnya, ada bintang yang kau beri, senja di frame yang tak sempat kita masukkan ke dalam album foto, secuil pagi yang berusaha kutangkap tadi, semua puisimu untukku, dan laying-layang yang robek di bagian tengahnya.

Itulah bukit yang pertama aku harus taklukan. Tunggu, apakah itu sebuah bukit? Dahulu saat kita bermain, mereka penuh dengan hijaunya daun, berserakan bintang-bintang hijau di bawahnya. Tapi apakah itu yang sekarang berada di puncaknya? Kokoh angkuh, lantang menentang yang mau membabatnya. Aku tak akan sanggup. Aku tak akan bisa. Hey, angin datang membantuku, membawa ketapel yang kutembakkan pada si angkuh itu. Dan dengan bintang yang selalu kau beri itu, dia roboh.

“Gunakan laying-layangmu,” kata angin. Aku memakainya di punggungku. Kutambal robekannya dengan foto-foto senja. “Apakah aku tak bisa terbang bebas seperti dulu?” tanyaku pada angin. Dia menjawab muram. “Tidak, kini kau membutuhkan bantuan. Kau tak sebebas dahulu. Lihatlah saja hati dan pikiranmu.”

Hati dan pikiranku? Itukah yang membuat aku sulit mencarimu?

Aku tetap terbang bersama angina dan laying-layang yang robek di bagian tengahnya. Aku menanyakan tentang cintaku pada angin yang kini kurasa sudah berbeda, tapi dia tak menjawab. Sampai suatu saat, malam tiba. Entah sudah berapa lama aku berada di udara. Malam datang tak sendirian. Bersamanya, bukan datang bintang atau bulan. Tapi awan yang penuh dengan halilintar. Hujan mulai membasahi kemejaku. Dasi merah yang aku pakai sudah hilang entah kemana. “Bulan!” aku berteriak. “Bencikah engkau padaku sampai tak mau membantuku?”

“Jangan berteriak-teriak!” seru angin. “Kau masih punya secuil pagi, bukan?” Dan aku pun teringat olehnya. Dengan susah payah, aku tarik amplop surat ini dari saku celana. Tanpa sengaja, pagi yang sudah kutangkap berhamburan. Jatuh ke bumi. Matahari kembali. Awan, hujan, dan halilintar pergi.

Betapa sulit aku mencarimu. Padahal, kini langkahku sudah tegap. Otot dan tulangku tumbuh dipupuk oleh susu dan semangat untuk menemukanmu. Aku tidak lagi dikejar-kejar ibuku untuk memakai popok. Dan seperti yang kau ramalkan dahulu, kini aku mempunyai rambut-rambut tipis di bawah hidungku. Bahkan, rambutku pun sudah ada yang memutih. Tuhan, tolong aku. Aku ingin sekali menemukannya.

“Di sana!” teriak angin. Aku melihat ke arah yang ditujunya. Kuturunkan laying-layangku dan aku hampiri dirimu. Itukah engkau? Tak lagi kukenali dirimu. Kau memang berada di sana. Keindahan dan senyum ramahmu masih ada di wajahmu. Tapi benarkah itu engkau? Engkau sekarang melemah. Terbaring tak berdaya di trotoar jalan. Darahmu mengucur tak henti-henti. Lumpur menghiasi pakaianmu. Keringat membasahi seluruh badanmu. Tuhan, benarkah ini cintaku? Benarkah ini? Mengapa ia menjadi seperti itu?

“Apa yang terjadi?” tanyaku. “Aku susah payah mencarimu, melawan bukit dan badai dan ombak besar di lautan. Tapi mengapa dengan seperti ini kau menyambutku? Tidakkah kau merindukanku?”

Aku menangis. Aku tak tahu apakah tangisanku hanya pura-pura agar cintaku mengangkat tangannya dan menyeka air mataku atau ini memang tangisan pili. Aku tak tahu. Tolong, jangan mati. Lalu aku teringat tentang semua yang aku bawa. Surat itu, dan amplop yang berisi bintang yang kau beri, senja di frame yang tak sempat kita masukkan ke dalam album foto, secuil pagi yang berusaha kutangkap tadi, semua puisimu untukku, dan laying-layang yang robek di bagian tengahnya. Kubuka amplop itu, tapi yang tersisa hanya suratku dan puisimu.

“Aku membawa surat untukmu,” kataku. Kau tersenyum, tapi terengah-engah. Angin hanya menatap kita dan membelai dengan segala kemampuannya. Luka di sekujur tubuhmu masih tetap mengalirkan darah. Itu, aku tak bisa menyeka keringatmu, bisakah kau membantu dirimu sendiri?

“Bacakan untukku,” katamu lirih.

“Tak bisa, aku harus menulis namamu di suratku agar semuanya lengkap.” Aku mulai menangis melihatmu yang kehabisan nafas. Kau memberikan isyarat untuk memberikanmu penaku. Lalu, kau menulis sebuah kata yang sangat indah, hanya sembilan huruf, tapi mampu membuat air mataku mengalir lebih deras. Lalu, kubacakan suratku untuknya.

Indonesia tanah air beta

pusaka abadi nan jaya

Indonesia sejak dulu kala

tetap dipuja-puja bangsa.

 

Di sana tempat lahir beta

dibuai dibesarkan bunda

tempat berlindung di hari tua

sampai akhir menutup mata.

 

Ternyata aku menyanyi diiring siulan angin. Kau tersenyum, lalu berkata. “Aku akan selalu di sini sampai tidak ada lagi yang mencintaiku. Lagumu untukku menunjukkan bahwa ternyata aku masih dicintai. Aku percaya, dengan cinta, kita akan berlari bersama lagi.”

Dan suratku pun lengkap dengan kalimat terakhirku :

Aku cinta Indonesia.

 

Panas Bumi : Inikah Energi Masa Depan Indonesia?

Sudah lebih dari seratus tahun manusia tergantung dengan minyak bumi, gas, dan batu bara. Energi yang dihasilkan oleh sumber tersebut memang masih menjadi primadona sampai sekarang? Tapi sampai kapan sumber daya itu masih bisa bertahan? Ketiga sumber energi itu bukanlahrenewable energy. Bahan bakar fosil tersebut juga mempunyai efek negatif terhadap lingkungan. Jadi, dimanakah energi masa depan kita tersimpan?

Bumi ternyata menyimpan energi yang lain. Terdapat sumber-sumber panas yang dapat dimanfaatkan di berbagai belahan dunia. Sumber panas itu dapat memanaskan air, baik magmatik maupun meteorik, yang terperangkap dalam batuan reservoir. Air tersebut terpanaskan, dapat diproduksi, dan panas dari air tersebut dapat dikonversi menjadi listrik. Itulah energi panas bumi atau geothermal.

Larderello, Italia

Jenis energi ini bukanlah sesuatu yang baru. Italia telah memanfaatkan panas bumi sejak seratus tahun yang lalu. Indonesia juga ternyata tidak kalah dengan Italia. Tahun 1917, pemerintah kolonial Belanda melakukan eksplorasi panas bumi di daerah Kamojang, Garut, Jawa Barat. Sepuluh tahun kemudian, lima sumur eksplorasi dibor dan menghasilkan uap panas. Sampai sekarang, salah satu dari kelima sumur tersebut masih menghasilkan uap, yaitu sumur KMJ-3.

Kamojang, Garut

Kegiatan eksplorasi panas bumi di Indonesia mulai bergeliat lagi pada tahun 1972, saat dimana harga minyak meroket. Dengan bantuan pemerintah Perancis dan New Zealand, dilakukan survei pendahuluan di seantero Nusantara. Hasilnya memberi harapan. Indonesia mempunyai 217 titik yang berprospek menjadi sumber energi panas bumi yang berasosiasi dengan jalur gunung api yang melewati Indonesia, mulai dari pantai barat Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Sulawesi. Survei selanjutnya menghasilkan penambahan prospek panas bumi Indonesia menjadi 256 lokasi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia : Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Papua, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan. Potensi listrik yang dapat dihasilkan dari panas bumi tersebut adalah sekitar 28 GW.

Indonesia sering mengalami gempa karena merupakan pertemuan tiga lempeng dunia, yaitu Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Namun, pertemuan ketiga lempeng tersebut juga ternyata membawa berkah tersendiri. Zona pertemuan lempeng akan menghasilkan aktifitas vulkanisme yang banyak berasosiasi dengan sistem hidrotermal. Itulah mengapa banyak lokasi sumber panas bumi di bumi Nusantara ini.

Di negara yang mempunyai empat musim seperti Italia, Selandia Baru, dan Islandia, panas bumi tidak hanya dimanfaatkan sebagai penghasil listrik semata. Mereka juga memanfaatkan panas bumi dalam kehidupan sehari-hari, seperti pemanas ruangan, sumber panas rumah kaca untuk pertanian, bahkan untuk mencairkan salju di jalan raya. Namun di Indonesia yang sudah mempunyai hawa ‘panas’ hampir setiap tahun, energi panas bumi baru banyak dimanfaatkan sebagai penghasil listrik dan pariwisata.

Panas bumi merupakan penghasil energi yang bersih. Bagaimana tidak, limbah yang dihasilkan hanyalah fluida berupa air, uap, dan sejumlah kecil gas. Uap dan air yang panasnya telah dimanfaatkan menjadi panas pun dapat diinjeksikan kembali ke dalam reservoir di dalam tanah. Energi panas bumi sangat ramah lingkungan. Setelah beberapa lama, air yang diinjeksikan tersebut dapat kembali diproduksi dan dimanfaatkan lagi panasnya. Inilah yang menyebabkan energi panas bumi dikatakan sebagai energi yang berkelanjutan (sustainable energy). Grafik di bawah ini menunjukkan perbandingan emisi CO2 antara sumber energi lain dengan panas bumi. Gambar di bawahnya adalah kondisi kota Reykjavik di Islandia sebelum dan sesudah memanfaatkan energi panas bumi.

Pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia belumlah maksimal. Dari potensi sebesar 28 GW, Indonesia baru memanfaatkan 1,196 MW saja. Pemerintah pun mengupayakan untuk terus meningkatkan produksinya. Disebutkan dalam Road Map Pengelolaan Energi Nasional, pemerintah menyebutkan bahwa pada tahun 2014, kapasitas pembangkit listrik dari panas bumi menjadi 4,733 MW dan menjadi 9,5 MW pada tahun 2025.

Tahun 2014 sudah di depan mata. Dalam jangka waktu kurang lebih dua tahun, pemerintah harus meningkatkan kapasitas pembangkit listrik sebesar hampir 3,5 GW jika masih ingin berpegang pada roadmap tersebut. Akankah Indonesia mencapainya?

Masih banyak kendala yang dihadapi dalam pengembangan jenis energi ini. Masalah yang biasanya menghambat adalah lokasi sumber panas bumi yang berada dalam wilayah taman nasional. Bagaimanapun caranya, Indonesia harus mulai bisa menyelsaikan masalah tersebut agar dapat menguntungkan semua pihak. Melihat potensinya, jika dimanfaatkan secara menyeluruh, inilah mungkin jalan Indonesia menuju ketahanan energi di masa depan. Butuh kontribusi semua pihak, baik pemerintah, akademisi, pengembang dan pengusaha, juga masyarakat umum untuk menyukseskan program tersebut. Untuk apa mengaku kaya akan potensi sumber daya jika akhirnya kekayaan tersebut tidak dimanfaatkan?

Sumber :

http://geothermal.itb.ac.id/wp-content/uploads/Sekilas_tentang_Panas_Bumi.pdf

http://dtwh2.esdm.go.id/dw2007/

http://www.tender-indonesia.com/tender_home/innerNews2.php?id=9121&cat=CT0021

http://www.reuk.co.uk/Larderello-Worlds-First-Geothermal-Power-Station.htm

Terbang!

ayo lompat!
lompat!
tumbuhkan sayap
lalu TERBANG!

ayo lompat!
tangkap anginmu sendiri!
kepakkan sayap
lalu TERBANG!

saat mata terpejam karena sinar matahari dan pecahkan suara untuk terbang
saat tangan terjulur untuk menyentuh udara dan jauhkan duka untuk terbang
saat itu
saat itu
terbang, terbang, terbang
menembus cakrawala
putuskan akar
ke luar angkasa.

mari terbang!

Mentari

mentari bernyala di sini
di sini, di dalam hatiku
gemuruh apinya di sini
di sini, di urat darahku

meskipun tembok yang tinggi mengurungku
berlapis pagar duri sekitarku
tak satupun yang mampu menghalangimu
bernyala di dalam hatiku

hari ini hari milikku
juga esok masih terbentang
dan mentari kan tetap bernyala
di sini, di urat darahku

Mawar

ini hanya tetes air.
lalu kenapa kita takutkan?
langkah kita terlalu berharga untuk terhalang badai.
di gurun besar.
di lalut luas.
aku dan kamu.
berlari menghancurkan batas.

biar jeritan merobek hati.
biarkan dia sendiri.
kita pergi,
aku hanya mengajakmu, cinta,
untuk tidak pernah berhenti.

di sana.
di sana tujuan kita.
kamu, wanita sehangat cahaya sore, setelah hujan.
maukah kamu menemaniku
sampai tanganku, tanganmu,
menyentuh pagar rumah kita?
dan kupetikkan daun mawar.
hanya daunnya.
karena bunganya telah tersenyum kepadaku.
berlari bersamaku.

Selamat Jalan, Eka!

Bobotoh pasti banyak yang kecewa dengan perginya mantan kapten dan gelandang serang Persib, Eka Ramdani, ke Persisam Samarinda. Pada tanggal 19 September kemarin, Eka resmi dikontrak oleh tim asal Kalimantan Timur itu dengan nilai transfer yang tidak diketahui secara pasti. Kepergiannya itu banyak menuai komentar dari manajemen Persib, bobotoh setia, bahkan teman-teman satu timnya.

Bagaimana tidak, baru beberapa hari sebelumnya, striker andalan timnas dan Persib, Christian ‘El Loco’ Gonzales juga mendahului Eka untuk hijrah ke Persisam. Kepindahan Gonzales tersebut diyakini sebagai salah satu penyebab Eka juga memutuskan untuk hengkang dari Persib.

Mengenai kepindahannya tersebut, Eka tidak berkomentar banyak. Ia hanya berharap agar peristiwa ini menjadi yang terbaik bagi Persib dan dirinya. “Ini keputusan terbaik untuk Eka. Kita sudahi saja supaya masalah tidak membesar dan supaya tidak ada masalah apapun antara dia dan manajemen. Eka adalah pemain pro, dan kita saling doakan saja supaya selamat dan sukses,” ujar Umuh Muhtar, manajer Persib Bandung, disadur dari simamaung.com.

Well, semoga setelah semakin jago di Persisam, Eka bisa kembali lagi memperkuat Persib di musim-musim yang akan datang. Selamat jalan, Eka Ramdani!

 

Robohnya Sekolah Kami

Saya penasaran. Waktu seorang pejabat hendak melakukan korupsi, atau mungkin ‘sedikit’ menyalahgunakan kekuasaannya demi kekenyangan perutnya sendiri, pernah nggak ya mereka mikirin akibatnya. Apakah mereka tahu bahwa banyak rakyatnya yang kelaparan, yang sawahnya kekeringan, yang mati karena nggak ada biaya buat ngobatin penyakitnya, atau yang sekarang lagi rame kasusnya : anak-anak yang terancam keselamatannya karena sekolah tercinta mereka sudah TIDAK LAYAK untuk dipakai belajar.

Kita sudah biasa mendengar tentang bobroknya bangunan sekolah di daerah-daerah terpencil. Bahkan, nggak jarang banyak bangunan yang roboh saat ada angin kencang atau hujan deras. Tapi yang bikin miris adalah, ternyata di sekitar kota-kota besar, di daerah yang kaya akan barang tambang, bahkan di pusat kota, ada juga bangunan sekolah yang hampir rubuh. Kemana komitmen negara untuk memperbaiki sistem pendidikan?

Anggota parlemen sangat sibuk menghabiskan dana ratusan milyar rupiah untuk studi banding yang tidak pernah kita rasakan manfaatnya. Mereka juga sangat bersemangat untuk meng-goal-kan rencana pembangunan gedung baru parlemen yang akan menguras anggaran negara trilyunan rupiah. Belum lagi korupsi yang nggak ada ujung solusinya dan hutang luar negeri yang menyedot anggaran. Dan di tengah semua pemborosan itu, permintaan beberapa sekolah dasar untuk memperbaiki infrastruktur sekolahnya hanya masuk telinga kanan, keluar lagi dari telinga kiri. Tidak dihiraukan.

Alokasi dana pendidikan Indonesia adalah 20 % dari total APBN atau senilai 266,9 triliun rupiah. Besar kan? Jangan kaget dulu, nilai itu termasuk kecil diantara negara-negara ASEAN lainnya yang rata-rata alokasi dana pendidikannya sekitar 25-31 % dari APBN. Bahkan Amerika mengalokasikan dan sebesar sekitar 60%.

Pada awalnya, dana pendidikan sebesar 267 triliun rupiah itu tidak termasuk dana gaji guru, dosen, dan pegawai. Tapi akhirnya MK memutuskan bahwa dana tersebut telah termasuk belanja pegawai. Jadi, hanya sekitar 59 triliun rupiah yang ‘bersih’ untuk pendidikan dan infrastrukturnya. Itu pun, sebesar 29 triliun untuk pendidikan tinggi dan sisanya untuk pendidikan SD, SMP, dan SMA.

“Birokrasi yang bobrok membuat dana untuk sekolah-sekolah kecil menjadi semakin menyusut,” kata Budiningtyas (pengamat pendidikan) dalam acara talkshow di MetroTV. “Misalnya, untuk membangun sebuah sekolah dibutuhkan dana sebesar 200 juta rupiah. Karena birokrasi yang kacau, dana yang diterima sekolah untuk membangun hanya tersisa sebesar 50%-nya saja,” lanjutnya. Jadi jangan heran kalau ada bangunan yang baru dibangun 5 tahun tapi sudah rubuh lagi. Kualitasnya kan memang berkurang 50%.

Kita tidak seharusnya men-judge pemimpin-pemimpin negeri ini tidak becus mengelola negara. Memang sulit untuk mengatur dan memimpin negara sebesar Indonesia. Tapi, jika tidak ada komitmen untuk menjalankannya, tidak akan ada progres yang dicapai. Untuk Indonesia maju, mari kita juga berpikiran untuk memajukannya. Jangan sampai pendidikan diabaikan, karena menyiapkan generasi muda adalah kebutuhan utama jika bangsa itu ingin tetap bertahan dalam dunia.