Sudah lebih dari seratus tahun manusia tergantung dengan minyak bumi, gas, dan batu bara. Energi yang dihasilkan oleh sumber tersebut memang masih menjadi primadona sampai sekarang? Tapi sampai kapan sumber daya itu masih bisa bertahan? Ketiga sumber energi itu bukanlahrenewable energy. Bahan bakar fosil tersebut juga mempunyai efek negatif terhadap lingkungan. Jadi, dimanakah energi masa depan kita tersimpan?
Bumi ternyata menyimpan energi yang lain. Terdapat sumber-sumber panas yang dapat dimanfaatkan di berbagai belahan dunia. Sumber panas itu dapat memanaskan air, baik magmatik maupun meteorik, yang terperangkap dalam batuan reservoir. Air tersebut terpanaskan, dapat diproduksi, dan panas dari air tersebut dapat dikonversi menjadi listrik. Itulah energi panas bumi atau geothermal.
Jenis energi ini bukanlah sesuatu yang baru. Italia telah memanfaatkan panas bumi sejak seratus tahun yang lalu. Indonesia juga ternyata tidak kalah dengan Italia. Tahun 1917, pemerintah kolonial Belanda melakukan eksplorasi panas bumi di daerah Kamojang, Garut, Jawa Barat. Sepuluh tahun kemudian, lima sumur eksplorasi dibor dan menghasilkan uap panas. Sampai sekarang, salah satu dari kelima sumur tersebut masih menghasilkan uap, yaitu sumur KMJ-3.
Kegiatan eksplorasi panas bumi di Indonesia mulai bergeliat lagi pada tahun 1972, saat dimana harga minyak meroket. Dengan bantuan pemerintah Perancis dan New Zealand, dilakukan survei pendahuluan di seantero Nusantara. Hasilnya memberi harapan. Indonesia mempunyai 217 titik yang berprospek menjadi sumber energi panas bumi yang berasosiasi dengan jalur gunung api yang melewati Indonesia, mulai dari pantai barat Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Sulawesi. Survei selanjutnya menghasilkan penambahan prospek panas bumi Indonesia menjadi 256 lokasi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia : Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Papua, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan. Potensi listrik yang dapat dihasilkan dari panas bumi tersebut adalah sekitar 28 GW.
Indonesia sering mengalami gempa karena merupakan pertemuan tiga lempeng dunia, yaitu Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Namun, pertemuan ketiga lempeng tersebut juga ternyata membawa berkah tersendiri. Zona pertemuan lempeng akan menghasilkan aktifitas vulkanisme yang banyak berasosiasi dengan sistem hidrotermal. Itulah mengapa banyak lokasi sumber panas bumi di bumi Nusantara ini.
Di negara yang mempunyai empat musim seperti Italia, Selandia Baru, dan Islandia, panas bumi tidak hanya dimanfaatkan sebagai penghasil listrik semata. Mereka juga memanfaatkan panas bumi dalam kehidupan sehari-hari, seperti pemanas ruangan, sumber panas rumah kaca untuk pertanian, bahkan untuk mencairkan salju di jalan raya. Namun di Indonesia yang sudah mempunyai hawa ‘panas’ hampir setiap tahun, energi panas bumi baru banyak dimanfaatkan sebagai penghasil listrik dan pariwisata.
Panas bumi merupakan penghasil energi yang bersih. Bagaimana tidak, limbah yang dihasilkan hanyalah fluida berupa air, uap, dan sejumlah kecil gas. Uap dan air yang panasnya telah dimanfaatkan menjadi panas pun dapat diinjeksikan kembali ke dalam reservoir di dalam tanah. Energi panas bumi sangat ramah lingkungan. Setelah beberapa lama, air yang diinjeksikan tersebut dapat kembali diproduksi dan dimanfaatkan lagi panasnya. Inilah yang menyebabkan energi panas bumi dikatakan sebagai energi yang berkelanjutan (sustainable energy). Grafik di bawah ini menunjukkan perbandingan emisi CO2 antara sumber energi lain dengan panas bumi. Gambar di bawahnya adalah kondisi kota Reykjavik di Islandia sebelum dan sesudah memanfaatkan energi panas bumi.
Pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia belumlah maksimal. Dari potensi sebesar 28 GW, Indonesia baru memanfaatkan 1,196 MW saja. Pemerintah pun mengupayakan untuk terus meningkatkan produksinya. Disebutkan dalam Road Map Pengelolaan Energi Nasional, pemerintah menyebutkan bahwa pada tahun 2014, kapasitas pembangkit listrik dari panas bumi menjadi 4,733 MW dan menjadi 9,5 MW pada tahun 2025.
Tahun 2014 sudah di depan mata. Dalam jangka waktu kurang lebih dua tahun, pemerintah harus meningkatkan kapasitas pembangkit listrik sebesar hampir 3,5 GW jika masih ingin berpegang pada roadmap tersebut. Akankah Indonesia mencapainya?
Masih banyak kendala yang dihadapi dalam pengembangan jenis energi ini. Masalah yang biasanya menghambat adalah lokasi sumber panas bumi yang berada dalam wilayah taman nasional. Bagaimanapun caranya, Indonesia harus mulai bisa menyelsaikan masalah tersebut agar dapat menguntungkan semua pihak. Melihat potensinya, jika dimanfaatkan secara menyeluruh, inilah mungkin jalan Indonesia menuju ketahanan energi di masa depan. Butuh kontribusi semua pihak, baik pemerintah, akademisi, pengembang dan pengusaha, juga masyarakat umum untuk menyukseskan program tersebut. Untuk apa mengaku kaya akan potensi sumber daya jika akhirnya kekayaan tersebut tidak dimanfaatkan?
Sumber :
http://geothermal.itb.ac.id/wp-content/uploads/Sekilas_tentang_Panas_Bumi.pdf
http://dtwh2.esdm.go.id/dw2007/
http://www.tender-indonesia.com/tender_home/innerNews2.php?id=9121&cat=CT0021
http://www.reuk.co.uk/Larderello-Worlds-First-Geothermal-Power-Station.htm









